3 bidang dalam mengatur hukum bisnis yang paling dasar

Bagaimana Guna Hukum Perlihatkan Nilai Untuk Sebuah Bisnis?

3 bidang dalam mengatur hukum bisnis yang paling dasar

Sisi pertama dari seri dua bagian ini membahas kenapa kegunaan hukum alami kesulitan menyatakan nilainya bagi bisnis. Fragmen ini tawarkan bagaimana hal tersebut bisa berlangsung. Artikel kali ini membahas tentang

3 bidang dalam mengatur hukum bisnis yang paling dasar

Advokat ialah hambatan terbesar guna hukum buat memperlihatkan nilai bisnis. Sebagian besar cerdik, fokus, rajin, analitis, dan fokus pada arah yaitu karakter tenaga kerja yang diingini . Sehingga di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, struktur, serta keangkuhan.

Budaya hukum yakni tentang pembela perkara, bukan konsumen setia. Itu bukan permulaan di era transformasi digital di mana semuanya diarahkan untuk tingkatkan pengalaman pelanggan.

 3 bidang dalam mengatur hukum bisnis yang paling dasar

 

 

Pendahuluan: Pola Berpikir Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperlebar

Manfaat hukum tengah diatur ulang untuk menyelaraskan dengan kepentingan perusahaan digital serta konsumen setia mereka. Bisnis serta beberapa penyedia bentuk anyar berada di garda terdepan dalam penyusunan kembali, bukan pembangunan hukum. Perancangan ulang peranan hukum diawali pada sudut pandang konsumen setia, apa yang diperlukan hukum buat melayani kebutuhannyanya dengan lebih baik?

Buat capai kepuasan pelanggan di masa digital, kegunaan hukum mesti mendalami halangan pelanggannya serta jadi sisi dari jalan keluar mereka. Ini perlu hukum buat adopsi perspektif bisnis untuk penuhi manfaat hukum yang diperluas. Buat layani perusahaan digital serta konsumen setia mereka, guna hukum mesti bekerja menjadi pembela perusahaan yang proaktif serta didorong oleh data serta berkolaborasi dengan unit bisnis lain buat menggerakkan nilai perusahaan. Tetapi bagaimana metodenya?

Mengeduk bisa lebih banyak dari peranan hukum dimulai dengan budaya dan perjalanan management transisi. Ini melibatkan kerjasama peran hukum dengan dan penyesuaian pada sumber daya bisnis yang ada, model pemecahan perkara, metrik, proses, technologi, dan data. Fokusnya merupakan pada bagaimana mereka dapat digunakan, ditingkatkan, dan dibagikan bukan hanya dalam peranan hukum tapi juga di seluruh perusahaan.

 

3 bidang dalam mengatur hukum bisnis yang paling dasar

Fungsi hukum tidak dapat lagi didiamkan. Itu mesti menjadi bagiab dari perjalanan digital perusahaan yang misinya adalah menaikkan hasil, nilai, dan pengalaman konsumen. Buat melayani bisnis dengan lebih bagus dan bersinergi dalam penciptaan nilainya, peran hukum mesti mahir dengan bahasa bisnis, proses, manajemen kemungkinan, analitik data, kecekatan, kecepatan, perolehan dan manajemen kemampuan, kemungkinan, pertarungan, dan layanan pelanggan.

Ini jauh dari pekerjaan hukum buat  menghasilkan “tugas hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Pengacara dan profesional hukum berkaitan, tidak peduli oleh siapa mereka diperkerjakan, harus memanfaatkan kolaborasi laten hukum serta pemberian service hukum dalam jumlah besar. Komponen praktik dan bisnis dari layanan hukum membutuhkan keahlian serta tenaga kerja yang tidak sama tetapi miliki perspektif yang serupa.

Mereka ialah bagian yang serupa keutamaan dari fungsi hukum yang harus bekerja dengan lancar, tangkas, dan lancar bukan cuma dalam manfaat hukum tapi juga dengan penopang kepentingan bisnis yang lain di semua perusahaan. Integrasi praktek hukum serta bisnis pemberian layanan hukum (operasi hukum) tingkatkan efisiensi fungsional hukum. Ini merupakan pilar dasar pembuatan nilai.

Langkah kedua dan yang lebih mengubah pola dlam perjalanan perubahan digital peranan hukum ialah penyelarasannya dengan bisnis untuk membentuk nilai buat perusahaan serta konsumen setianya. Ini sertakan rekonfigurasi holistik dari peran, keterkaitan, serta metode penghargaan dari peranan hukum. Hasil akhir yaitu menciptakan kepuasan konsumen.

Berikut beberapa cara buat membebaskan potensi laten peran hukum buat berubah dari kendala bujet serta hambatan peluang bisnis jadi pusat keuntungan, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan konsumen.

 

Manfaat Hukum yang Menyikapi Keperluan Bisnis

Fungsi hukum harus mengotak-atik balik dirinya sendiri dari sudut pandang konsumen setia, bagaimana dia dapat|bisa penuhi dan melampaui kepentingan dan keinginan pengalaman konsumen setia. Ini memerlukan restrukturisasi organisasi tanpa kendala dari fungsi hukum yang berfokus di bagaimana ia dapat atur ulang untuk layani bisnis yang beralih secara digital serta konsumen setianya dengan lebih baik.

Tidak ada peta jalan digital legal yang pas untuk semua, akan tetapi, komponen umum meliputi:

-mengganti banyak service dengan produk yang sertakan alat bantu berdikari dan jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membuat alat teknologi yang sesuai sama maksud buat peran hukum dan memanfaatkan alat “hukum” yang ada untuk melayani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang dan menganalisa data tak terstruktur yang ada pada fungsi hukum untuk pemakaian perusahaan yang bertambah luas serta kontributor di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa mengerjakan apa” berdasar pada kapabilitas yang didukung data, pengalaman yang sama, biaya,  ketersediaan, serta hasil;

– melawan paradigma peninggalan hukum dan menukarnya dengan struktur, style, metrik, proses, serta tenaga kerja baru yang merespons kepentingan serta harapan konsumen setia lebih baik;

– menghalau ketaksamaan produksi advokat antara jenis penyedia (in-house, firma, firma hukum, dan lain-lain.);

– menyediakan tenaga kerja berbasis platform, gesit, kolaboratif, mulus, serta berpusat pada pelanggan yang terdiri dalam banyak sumber daya;

-memberikan anjuran yang dibantu data

– fokus di pembuatan nilai buat bisnis serta pelanggannya dan menciptakan pengalaman konsumen setia utuh yang unggul;

– melakukan investasi dalam kenaikan keterampilan dan kursus tenaga kerja buat penuhi tantangan tersebut.

 

Tetapkan Metrik yang Menaati Bisnis Serta Dioperasikan Olehnya

Peter Drucker mengawasi, “Anda tidak dapat mengatur apa yang tidak dapat Anda ukur.” Metrik hukum secara monumental jarang-jarang serta terkait dengan keuntungan, bukan kepuasan konsumen. Bisnis, khususnya di zaman digital, mempunyai sekumpulan metrik yang serupa sekali berbeda yang fokus di konsumen setia.

Bisnis memantau kelapangan akses konsumen setia, pengiriman pas waktu, hasil yang sukses, uraian sosial media, skor promotor bersih, dan indek yang lain menghitung kepuasan/pengalaman konsumen. Ini adalah kunci keberlanjutan, skalabilitas, keuntungan, serta kesetiaan merk di dunia digital.

Bisnis meletakkan nilai tinggi di penyesuaian hukum dari metriknya. Pengamatan Transisi Hukum Digital mendapati kalau 97% informan bisnis menyampaikan mereka ingin metrik kesuksesan peran hukum serasi dengan maksud bisnis. Masa-masa peran hukum mendapatkanmemperoleh sanjungan untuk menyetarakan budgetnya sudah berlalu. Buat memastikan nilai untuk bisnis, ia harus menyesuaikan dengan metrik yang serupa yang diaplikasikan di fungsi perusahaan lainnya.

 

Memanfaatkan Kapabilitas Data

Bisnis jalan dengan data. Guna hukum juga harus. Itu tidak bermakna pembela perkara mesti menambahkan studi data jadi kompetensi inti. Akan tetapi, mereka harus bekerjasama dengan riset data, tehnologi, dan profesional hukum berkaitan lainnya serta memperlakukan mereka selaku mitra yang setingkat. Team multidisiplin yang mulus, gesit, serta terpadu merupakan apa yang dibutuhkan buat penuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data ialah sumber pembuatan nilai yang luas dan belum dimanfaatkan buat fungsi hukum. Dia berkekuatan untuk gantikan prediksi dan perkiraan dengan pandangan di depan serta wacana berbasiskan sains. Data yang berkaitan yaitu data yang material buat peramalan yang tepat, identifikasi resiko awal, mitigasi, efektivitas, perumusan strategi cepat, hasil lebih baik, serta penjagaan hasil “kejutan” (misalkan, dampak yang sangat rendah) yakni alat anyar yang kurang digunakan oleh hukum.

 

3 bidang dalam mengatur hukum bisnis yang paling dasar

Data bukan hanya mempunyai kekuatan laten buat mempercepat kecepatan, efektivitas, ketepatan, serta performa kegunaan hukum, akan tetapi juga bisa mendorong penciptaan nilai perusahaannya. Contoh-contohnya terhitung pelaksanaan data material buat kontrak, litigasi, pengusutan dan perseteruan komersial lainnya, problem ketentuan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data tidak pengganti|substitusi penilaian hukum, itu yaitu peningkat. Lawyer yang ditunjang data berbicara bahasa bisnis serta jauh lebih dapat dipercaya  daripada yang “berbasis firasat”. Tidak ada “data hukum;” ada info yang ada dalam peran hukum yang dapat diberikan dengan unit bisnis lain untuk pecahkan “rintangan hibrida” yang memajukan nilai perusahaan.

Management resiko, kepatuhan, perampingan kontrak untuk menghimpit siklus marketing, dan penghindaran litigasi adalah beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing menyediakan fungsi hukum dengan potensi yang sangat besar buat membentuk serta memperlihatkan nilai.

Dari Pusat Cost Jadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisional memandang hukum sebagai penghambat kemungkinan perusahaan dan pusat biaya. Itu berubah. C-Suite mengaku kewajiban digital berlaku buat guna hukum seperti pada untuk unit bisnis yang lain. Tiada adopsinya, hukum tidak dapat penuhi tugasnya yang diperlebar untuk memiliki fungsi jadi:

1.Pendeteksi dini risiko|efek perusahaan yang pro aktif, mitigasi risiko, dan pemecah masalah; dan

2.Kolaborator yang aktif serta lincah dengan guna bisnis lainnya buat membentuk penerimaan serta peluang pasar anyar untuk perusahaan serta konsumennya.

Peran hukum yang memenuhi keharusan mereka yang diperluas akan membuktikan nilai dan nikmati kedudukan perusahaan yang semakin tinggi. Kira-kira tiga perempat (74%) responden bisnis dalam study yang tengah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange berkata penting/penting bagi hukum buat menciptakan penerimaan serta kemungkinan pasar baru.

Mereka menganggap hukum selaku partner sinergis bisnis, bukan menjadi departemen tertutup yang cuman berfokus di “tugas hukum”. Hukum harus memanfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan serta konsumen setia, keterampilan, pengalaman, serta ketangkasannya untuk menganalisis dan berkolaborasi dengan unit bisnis lain buat memajukan nilai perusahaan yang terarah.

 

Layanan dan Pengalaman Pelanggan yang Unggul

Service serta pengalaman konsumen setia yang unggul yakni elemen kunci buat membuktikan dan menjaga nilai. Jeff Bezos menyamai jalinan penyedia/konsumen setia dengan dinamika tuan-rumah/tamu; tuan rumah yang baik menegaskan jika tamu diterima, diakui, serta diperhatikan.

Hukum sama dengan peran perusahaan lainnya dalam soal bagaimana ia harus secara stabil berikan, memelihara, meningkatkan, dan secara empiris membuktikan layanan/pengalaman konsumen. Daftar cek pelayanan konsumen untuk guna hukum mencakup:

-mengadopsi perspektif yang mementingkan konsumen serta menempatkannya di seluruh yang Anda dan rekan tim Anda kerjakan;

-kemudahan akses ke produk dan layanan hukum;

-kehandalan, efektivitas, kecepatan, nilai, serta transparan pengiriman;

-bantuan konsumen yang mencangkup alat/sumber daya elektronik dan swadaya manusia;

-mendapatkan dan lekas menanggapi masukan konsumen setia;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun jalinan serta perspektif konsumen jangka panjang, bukan perspektif transaksional

-“membuat benar” bahkan juga ketika kesalahan dibuat;

-memperlakukan pelanggan menjadi aset perusahaan;

-beroperasi secara pro-aktif, bukan reaktif;

-mengakui kemampuan medsos serta pengokohan pengalaman pelanggan yang positif dan negatif;

-peningkatan  keterampilam secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|memberi dukungan unit bisnis lain buat mempertingkat kepuasan pelanggan serta pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Simpulan

Manfaat hukum tidak dapat menyatakan nilainya buat bisnis terkecuali apabila sejalan dengannya. Itu mempunyai arti bermitra dengan peranan perusahaan lainnya serta fokus di konsumen adalah metode terbaik untuk memprediksi dan penuhi kepentingan dan impian mereka yang berbeda dengan cara cepat.

Ini adalah intupokok dari kewajiban digital, imajinasi ulang dan komposisi ulang yang didukung tehnologi tentang bagaimana produk serta service lebih mudah dicapai, bersaing, terbuka, konstan, serta  dikatakan dengan menyenangkan terhadap konsumen setia. Peran hukum bisa dan mesti memainkan andil penting dalam transformasi lengkap dari dinamika penyedia/konsumen setia ini.

Menghilangkan pola pikir “pengacara dan ‘non-pengacara'” adalah cara awal yang baik.

3 bidang dalam mengatur hukum bisnis yang paling dasar

Semoga materi 3 bidang dalam mengatur hukum bisnis yang paling dasar bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *