4. kapan kita dapat menerapkan etika bisnis

4. kapan kita dapat menerapkan etika bisnis

Bagaimana Peran Hukum Menunjukkan Nilai Buat Suatu Bisnis?

4. kapan kita dapat menerapkan etika bisnis

Sisi pertama dari seri dua bagian ini mengulas kenapa fungsi hukum alami kepelikan menyatakan nilainya bagi bisnis. Segnen ini tawarkan bagaimana hal demikian bisa terjadi. Artikel kali ini membahas tentang

4. kapan kita dapat menerapkan etika bisnis

Pengacara adalah hambatan terbesar peran hukum untuk tunjukkan nilai bisnis. Sejumlah besar pintar, fokus, rajin, analisis, dan berorientasi pada maksud yakni sifat tenaga kerja yang diharapkan . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, susunan, serta keangkuhan.

Budaya hukum ialah perihal pengacara, bukan konsumen setia. Itu bukan permulaan di zaman perubahan digital di mana seluruhnya ditujukan untuk menambah pengalaman konsumen setia.

 4. kapan kita dapat menerapkan etika bisnis

 

 

Pendahuluan: Pola Berpikir Bisnis Buat Remit Hukum yang Diperluas

Peranan hukum sedang dirapikan ulang buat menyinkronkan dengan keperluan perusahaan digital dan pelanggan mereka. Bisnis serta beberapa penyuplai style baru ada di garda terdepan dalam pengaturan kembali, bukan penciptaan hukum. Perancangan ulang kegunaan hukum diawali dari sudut pandang konsumen setia, apa yang dibutuhkan hukum untuk melayani kebutuhannyanya dengan lebih bagus?

Untuk mencapai kepuasan konsumen setia di waktu digital, manfaat hukum harus memahami rintangan konsumennya serta jadi sisi dari solusi mereka. Ini membutuhkan hukum untuk mengadopsi perspektif bisnis buat memenuhi kegunaan hukum yang diperluas. Untuk melayani perusahaan digital serta konsumen setia mereka, peranan hukum harus beroperasi sebagai pembela perusahaan yang proaktif dan didorong oleh data serta bersinergi dengan unit bisnis lain buat memajukan nilai perusahaan. Tapi bagaimana tekniknya?

Mengeruk makin banyak dari guna hukum dimulai dengan budaya serta perjalanan management transisi. Ini melibatkan kerjasama manfaat hukum dengan serta penyesuaian terhadap sumber daya bisnis yang ada, model pemecahan masalah, metrik, proses, technologi, dan data. Konsentrasinya yakni di bagaimana mereka bisa digunakan, disempurnakan, dan diberikan bukan cuma dalam kegunaan hukum tetapi di semuanya perusahaan.

 

4. kapan kita dapat menerapkan etika bisnis

Peranan hukum tidak dapat kembali didiamkan. Itu harus menjadi sisi dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya ialah menambah hasil, nilai, serta pengalaman konsumen setia. Buat layani bisnis dengan lebih bagus serta bersinergi dalam penciptaan nilainya, kegunaan hukum mesti mengusai ke bahasa bisnis, proses, manajemen efek, analitik data, kecekatan, kecepatan, akuisisi dan management talenta, efek, kompetisi, dan service pelanggan.

Ini jauh dari pekerjaan hukum buat  menciptakan “pekerjaan hukum yang sangat baik” yang diproklamirkan sendiri. Pengacara dan professional hukum terkait, tak perduli oleh siapa mereka diperbantukan, harus memanfaatkan sinergi laten praktek hukum serta pemberian layanan hukum dalam skala besar. Komponen praktik dan bisnis dari pelayanan hukum membutuhkan keahlian dan tenaga kerja yang tidak sama akan tetapi memiliki perspektif yang serupa.

Mereka adalah unsur yang serupa pentingnya dari kegunaan hukum yang harus bekerja dengan lancar, tangkas, dan lancar tidak cuma dalam guna hukum tetapi juga dengan pemangku kepentingan bisnis yang lain di seluruhnya perusahaan. Integrasi praktek hukum serta bisnis pemberian service hukum (operasi hukum) menambah efisiensi fungsional hukum. Ini yaitu pilar dasar pembuatan nilai.

Cara ke-2 dan yang lebih mengganti paradigma dlam perjalanan alih bentuk digital manfaat hukum merupakan penyelarasannya dengan bisnis buat membuat nilai untuk perusahaan serta konsumennya. Ini mengikutsertakan rekonfigurasi holistik dari peranan, relevansi, serta sistem penghargaan dari peran hukum. Hasilnya ialah membikin kepuasan konsumen.

Ini adalah beberapa cara buat melepas kekuatan laten manfaat hukum untuk berganti dari hambatan biaya dan hambatan peluang bisnis jadi pusat laba, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan konsumen setia.

 

Peranan Hukum yang Menanggapi Kebutuhan Bisnis

Fungsi hukum harus manipulasi balik dirinya dari perspektif konsumen setia, bagaimana ia dapat|bisa memenuhi serta melewati keperluan serta impian pengalaman konsumen. Ini memerlukan restrukturisasi organisasi tiada hambatan dari peranan hukum yang fokus di bagaimana ia bisa atur ulang untuk melayani bisnis yang beralih secara digital serta pelanggannya dengan lebih baik.

Tidak ada peta jalan digital legal yang sesuai untuk segalanya, tapi, unsur umum meliputi:

-mengganti banyak layanan dengan produk yang memasukkan alat bantu berdikari serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membuat alat technologi yang sesuai maksud untuk peran hukum serta manfaatkan alat “hukum” yang ada untuk layani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang dan menelaah data tak terstruktur yang ada pada kegunaan hukum untuk pemakaian perusahaan yang semakin luas serta peran di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa lakukan apa” berdasarkan kapabilitas yang didukung data, pengalaman yang sama, biaya,  ketersediaan, serta hasil;

– melawan pola warisan hukum serta menukarnya dengan struktur, bentuk, metrik, proses, dan tenaga kerja anyar yang merespons kepentingan serta asa konsumen setia lebih baik;

– menghalau ketaksamaan produksi advokat antara tipe penyedia (in-house, firma, firma hukum, dan seterusnya.);

– menyiapkan tenaga kerja berbasis platform, gesit, kolaboratif, mulus, serta berpusat di konsumen setia yang terdiri dalam bervariasi sumber daya;

-memberikan arahan yang ditunjang data

– berfokus pada penciptaanan nilai buat bisnis serta pelanggannya serta membuat pengalaman konsumen menyeluruh yang unggul;

– berinvestasi dalam peningkatan keahlian dan kepelatihan tenaga kerja untuk penuhi hambatan itu.

 

Pastikan Metrik yang Patuhi Bisnis Serta Dijalankan Olehnya

Peter Drucker mencermati, “Anda tidak dapat mengurus apa yang tidak dapat Anda ukur.” Metrik hukum secara monumental jarang-jarang serta terkait dengan profitabilitas, bukan kepuasan pelanggan. Bisnis, terutama di era digital, mempunyai rangkaian metrik yang serupa sekali berbeda yang focus di konsumen setia.

Bisnis memonitor keluasaan akses pelanggan, pengantaran on time, hasil yang sukses, ulasan medsos, skor promotor bersih, dan indek yang lain menghitung kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini yakni kunci keberlanjutan, skalabilitas, profitabilitas, serta loyalitas merk di dunia digital.

Bisnis tempatkan nilai tinggi pada adaptasi hukum dari metriknya. Riset Transisi Hukum Digital mendapatkan jika 97% responden bisnis berkata mereka ingin metrik keberhasilan peran hukum serasi dengan tujuan bisnis. Masa-masa kegunaan hukum mendapat sanjungan untuk menyamakan biayanya sudah berakhir. Buat memastikan nilai bagi bisnis, ia mesti menyesuaikan dengan metrik yang serupa yang diterapkan di kegunaan perusahaan yang lain.

 

Memanfaatkan Kekuatan Data

Bisnis berjalan dengan data. Peran hukum mesti. Itu tidak bermakna advokat harus menambah kajian data selaku kompetensi inti. Tetapi, mereka mesti berkolaborasi dengan analisis data, technologi, dan profesional hukum berkaitan lainnya dan memperlakukan mereka jadi partner yang setingkat. Team multidisiplin yang mulus, gesit, serta terpadu merupakan apa yang diperlukan buat penuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data yaitu sumber pembuatan nilai yang luas dan belum difungsikan untuk fungsi hukum. Ia mempunyai kekuatan untuk mengambil alih pertaruhan dan perkiraan dengan penglihatan di depan dan pandangan berbasis sains. Data yang berkaitan adalah info yang material untuk peramalan yang presisi, deteksi resiko awal, mitigasi, Efisiensi, penjabaran siasat cepat, hasil yang makin baik, dan pencegahan hasil “surprise” (contohnya, efek yang terlalu rendah) adalah alat anyar yang kurang dipakai oleh hukum.

 

4. kapan kita dapat menerapkan etika bisnis

Data tidak cuma mempunyai kekuatan laten untuk memercepat kecepatan, efektivitas, akurasi, serta kemampuan manfaat hukum, akan tetapi juga bisa menggerakkan penciptaan nilai perusahaannya. Misalnya terhitung pelaksanaan data material untuk kontrak, litigasi, interograsi dan konflik komersial yang lain, permasalahan ketetapan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data bukanlah pengganti|alternatif penilaian hukum, itu yakni peningkat. Lawyer yang dibantu data berkata bahasa bisnis dan jauh lebih meyakinkan  ketimbang yang “berbasis firasat”. Tidak ada “data hukum;” ada data yang ada dalam manfaat hukum yang bisa dibagi dengan unit bisnis lain buat pecahkan “halangan hibrida” yang memajukan nilai perusahaan.

Manajemen resiko, kepatuhan, perampingan kontrak buat menghimpit perputaran penjualan, serta penghindaran litigasi yakni di antara dari sejumlah contoh. Masing-masing sediakan kegunaan hukum dengan potensi yang sangat besar buat membentuk serta menyatakan nilai.

Dari Pusat Ongkos Jadi Pencipta Nilai

Bisnis secara tradisional memandang hukum selaku penghambat kemungkinan perusahaan serta pusat biaya. Itu berubah. C-Suite mengakui keharusan digital berlaku untuk guna hukum seperti sama untuk unit bisnis yang lain. Tiada adopsinya, hukum tidak dapat memenuhi tugasnya yang diperluas untuk berperan sebagai:

1.Pendeteksi dini risiko|kemungkinan perusahaan yang pro aktif, mitigasi dampak, serta pemecah masalah; dan

2.Kolaborator yang aktif dan tangkas dengan guna bisnis yang lain buat membentuk penerimaan dan kemungkinan pasar anyar bagi perusahaan dan konsumennya.

Peranan hukum yang memenuhi keharusan mereka yang diperluas dapat menyatakan nilai serta nikmati posisi perusahaan yang makin tinggi. Seputar tiga perempat (74%) informan bisnis dalam study yang sudah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange berkata penting/sangat penting untuk hukum buat membuat penerimaan serta kemungkinan pasar baru.

Mereka menganggap hukum selaku partner sinergis bisnis, bukan jadi departemen tertutup yang cuman fokus pada “pekerjaan hukum”. Hukum mesti menggunakan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan dan konsumen, keahlian, pengalaman, dan ketangkasannya untuk menganalisis serta berkolaborasi dengan unit bisnis lain untuk menggerakkan nilai perusahaan yang terukur.

 

Service dan Pengalaman Pelanggan yang Unggul

Pelayanan serta pengalaman pelanggan yang unggul adalah komponen kunci buat perlihatkan dan mempertahankan nilai. Jeff Bezos menyamai hubungan penyedia/konsumen setia dengan dinamika tuan-rumah/tamu; tuan rumah yang bagus meyakinkan kalau tamu diterima, dipandang, serta diperhatikan.

Hukum mirip dengan fungsi perusahaan lainnya dalam soal bagaimana dia harus secara stabil memberi, memelihara, mempertingkat, dan secara empiris memperlihatkan layanan/pengalaman pelanggan. Daftar cek pelayanan konsumen untuk peranan hukum mencakup:

-mengadopsi sudut pandang yang mengedepankan pelanggan serta mengaplikasikannya pada seluruh yang Anda serta rekan tim Anda kerjakan;

-kemudahan akses ke produk serta pelayanan hukum;

-kehandalan, efektivitas, kecepatan, nilai, serta transparan pengangkutan;

-bantuan pelanggan yang mencakup alat/sumber daya electronic serta swadaya manusia;

-mendapatkan dan selekasnya menyikapi saran konsumen setia;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun interaksi dan sudut pandang pelanggan jangka panjang, bukan sudut pandang transaksi bisnis;

-“membuatnya benar” bahkan di saat kesalahan dibuat;

-memperlakukan konsumen setia sebagai aset perusahaan;

-beroperasi secara pro-aktif, bukan reaktif;

-mengakui kapabilitas medsos serta pengokohan pengalaman konsumen setia yang positif dan negatif;

-peningkatan  ketrampilan secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|menyuport unit bisnis lain buat mempertingkat kepuasan konsumen dan pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Kesimpulan

Guna hukum tidak dapat menunjukkan nilainya untuk bisnis kecuali jika sejalan dengannya. Itu mempunyai arti berpartner dengan manfaat perusahaan yang lain dan fokus pada pelanggan yakni cara terunggul buat mengantisipasi serta memenuhi keperluan serta keinginan mereka yang beralih dengan cepat.

Ini merupakan intupokok dari kewajiban digital, khayalan ulang serta konfigurasi ulang yang ditopang teknologi terkait bagaimana produk dan layanan lebih gampang dijangkau, kompetitif, terbuka, konstan, serta  diungkapkan dengan menyenangkan pada konsumen setia. Guna hukum dapat serta harus mainkan andil penting dalam alih bentuk komplet dari dinamika penyedia/pelanggan ini.

Menghilangkan sudut pandang “pembela perkara serta ‘non-pengacara'” merupakan langkah awal yang baik.

4. kapan kita dapat menerapkan etika bisnis

Semoga materi 4. kapan kita dapat menerapkan etika bisnis bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *