6 teori etika bisnis

Bagaimana Manfaat Hukum Menunjukkan Nilai Buat Sebuah Bisnis?

6 teori etika bisnis

Bagian pertama dari seri dua bagian ini mengupas mengapa guna hukum alami kepelikan perlihatkan nilainya untuk bisnis. Bagian ini menjajakan bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Artikel kali ini membahas tentang

6 teori etika bisnis

Advokat yaitu rintangan paling besar manfaat hukum untuk memperlihatkan nilai bisnis. Mayoritas cerdik, fokus, rajin, analitis, dan mengarah pada maksud yakni sifat tenaga kerja yang diinginkan . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, struktur, serta keangkuhan.

Budaya hukum yakni mengenai advokat, bukan konsumen. Itu bukan permulaan di masa perubahan digital di mana semuanya diarahkan buat tingkatkan pengalaman pelanggan.

 6 teori etika bisnis

 

 

Pendahuluan: Pola Pikirkan Bisnis Buat Remit Hukum yang Diperluas

Peran hukum tengah diatur ulang buat menyelaraskan dengan kepentingan perusahaan digital dan konsumen setia mereka. Bisnis dan beberapa penyedia style anyar ada dalam garda terdepan dalam pengaturan kembali, bukan pembuatan hukum. Perancangan ulang guna hukum diawali dari perspektif konsumen, apa yang diperlukan hukum buat layani kebutuhannyanya dengan lebih bagus?

Buat capai kepuasan konsumen di masa digital, kegunaan hukum mesti memahami halangan konsumen setianya serta jadi sisi dari solusi mereka. Ini memerlukan hukum buat memungut sudut pandang bisnis buat memenuhi manfaat hukum yang diperlebar. Untuk melayani perusahaan digital serta pelanggan mereka, guna hukum mesti bekerja selaku pembela perusahaan yang pro aktif serta didorong oleh data serta bekerjasama dengan unit bisnis lain buat menggerakkan nilai perusahaan. Tapi bagaimana metodenya?

Mengeduk semakin banyak dari kegunaan hukum mulai dengan budaya dan perjalanan manajemen peralihan. Ini melibatkan kolaborasi peranan hukum dengan serta penyesuaian terhadap sumber daya bisnis yang ada, cara pemecahan persoalan, metrik, proses, teknologi, dan data. Konsentrasinya adalah pada bagaimana mereka dapat dipakai, diperbarui, dan dibagikannya bukan cuma dalam kegunaan hukum tetapi di semua perusahaan.

 

6 teori etika bisnis

Peran hukum tak bisa lagi didiamkan. Itu harus menjadi sisi dari perjalanan digital perusahaan yang misinya ialah menambah hasil, nilai, serta pengalaman konsumen setia. Untuk layani bisnis dengan lebih bagus serta bersinergi dalam pembuatan nilainya, guna hukum harus mengusai dengan bahasa bisnis, proses, manajemen risiko, analitik data, kecekatan, kecepatan, perolehan dan management bakat, risiko, persaingan, dan service konsumen setia.

Ini jauh dari tugas hukum untuk  mendatangkan “tugas hukum yang sangat baik” yang diproklamirkan sendiri. Pembela perkara dan profesional hukum berkaitan, tidak perduli oleh siapa mereka diperbantukan, harus memanfaatkan sinergi laten layanan hukum serta pemberian layanan hukum dalam skala besar. Komponen praktik dan bisnis dari layanan hukum memerlukan keterampilan dan tenaga kerja yang beda tapi memiliki sudut pandang yang serupa.

Mereka ialah elemen yang sama pentingnya dari manfaat hukum yang perlu bekerja secara lancar, tangkas, serta lancar bukan cuma dalam kegunaan hukum dan juga dengan pemangku keperluan bisnis lainnya di seluruh perusahaan. Integrasi praktek hukum serta bisnis pemberian layanan hukum (operasi hukum) tingkatkan efisiensi fungsional hukum. Ini adalah pilar dasar penciptaan nilai.

Cara ke-2 serta yang lebih mengganti paradigma diperjalanan transformasi digital manfaat hukum ialah penyelarasannya dengan bisnis buat menciptakan nilai untuk perusahaan serta konsumen setianya. Ini mengikutsertakan rekonfigurasi holistik dari peran, kaitan, dan prosedur penghargaan dari kegunaan hukum. Hasil akhirnya merupakan membentuk kepuasan konsumen.

Ini adalah cara-cara untuk melepas potensi laten guna hukum untuk berubah dari hambatan anggaran serta kendala kesempatan bisnis jadi pusat keuntungan, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan konsumen setia.

 

Fungsi Hukum yang Menyikapi Kebutuhan Bisnis

Peranan hukum harus merekayasa balik dianya dari perspektif konsumen setia, bagaimana dia dapat|bisa memenuhi dan melampaui kepentingan serta angan-angan pengalaman konsumen setia. Ini membutuhkan restrukturisasi organisasi tiada rintangan dari fungsi hukum yang berfokus di bagaimana ia dapat atur ulang buat melayani bisnis yang berbeda secara digital serta pelanggannya dengan lebih baik.

Tak ada peta jalan digital legal yang sesuai untuk segalanya, akan tetapi, komponen umum mencakup:

-mengganti banyak pelayanan dengan produk yang memasukkan alat bantu mandiri serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan buat bikin alat tehnologi yang sesuai sama maksud untuk peran hukum dan manfaatkan alat “hukum” yang ada untuk melayani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta mempelajari data tidak terstruktur yang ada di dalam peran hukum untuk pemakaian perusahaan yang bertambah luas serta peran pada data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa mengerjakan apa” berdasar pada kompetensi yang ditopang data, pengalaman yang sama, biaya,  terdapatnya, dan hasil;

– melawan pola warisan hukum dan mengubahnya dengan susunan, bentuk, metrik, proses, serta tenaga kerja baru yang menanggapi kebuthan serta angan-angan pelanggan lebih baik;

– menghalau ketaksamaan buatan pembela perkara di antara type pemasok (in-house, firma, firma hukum, dan sebagainya.);

– menyediakan tenaga kerja berbasis platform, tangkas, kolaboratif, mulus, dan terpusat di konsumen yang terdiri dalam beragam sumber daya;

-memberikan anjuran yang ditopang data

– fokus di pembuatan nilai untuk bisnis dan pelanggannya dan membuat pengalaman konsumen utuh yang unggul;

– berinvestasi dalam penambahan keterampilan serta kursus tenaga kerja untuk penuhi halangan itu.

 

Pastikan Metrik yang Menaati Bisnis Serta Dioperasikan Olehnya

Peter Drucker memperhatikan, “Anda tidak bisa mengelola apa yang tidak dapat Anda ukur.” Metrik hukum secara historis jarang dan berkaitan dengan keuntungan, bukan kepuasan pelanggan. Bisnis, khususnya di masa digital, miliki rangkaian metrik yang sama sekali berlainan yang berfokus di konsumen setia.

Bisnis memonitor kelapangan akses konsumen, pengiriman tepat waktu, hasil yang sukses, penjelasan sosial media, nilai promotor bersih, serta index lain yang menghitung kepuasan/pengalaman konsumen. Ini yaitu kunci kebersinambungan, skalabilitas, profitabilitas, dan kesetiaan merek di dunia digital.

Bisnis memposisikan nilai tinggi pada adaptasi hukum dari metriknya. Analisis Perputaran Hukum Digital mendapatkan bahwa 97% responden bisnis menyampaikan mereka pengin metrik keberhasilan fungsi hukum seirama dengan maksud bisnis. Saat-saatSaat peran hukum mendapatkanmemperoleh penghormatan buat menyamakan budgetnya telah berlalu. Untuk memutuskan nilai buat bisnis, dia mesti beradaptasi dengan metrik yang sama yang dipraktekkan di peran perusahaan yang lain.

 

Menggunakan Kapabilitas Data

Bisnis jalan dengan data. Peran hukum harus. Itu tidak berarti pembela perkara harus menambah kajian data jadi kompetensi inti. Akan tetapi, mereka harus berkolaborasi dengan analisis data, technologi, dan profesional hukum terkait lainnya dan memperlakukan mereka jadi mitra yang setingkat. Team multidisiplin yang mulus, gesit, serta terpadu adalah apa yang diperlukan untuk penuhi keharusan digital hukum yang diperluas.

Data adalah sumber pembuatan nilai yang luas serta belum digunakan buat peran hukum. Ia berkekuatan untuk menukar perkiraan dan perkiraan dengan pandangan ke depan serta pandangan berbasis sains. Data yang relevan yaitu info yang material buat peramalan yang akurat, deteksi dampak dini, mitigasi, Efisiensi, penyimpulan kiat cepat, hasil lebih baik, serta pencegahan hasil “surprise” (misalnya, risiko yang sangat rendah) yakni alat baru yang kurang diperlukan oleh hukum.

 

6 teori etika bisnis

Data tidak hanya miliki kekuatan laten buat memercepat kecepatan, efektivitas, ketepatan, dan kemampuan peranan hukum, namun bisa pula mendorong penciptaan nilai perusahaannya. Misalnya terhitung implementasi data material buat kontrak, litigasi, investigasi dan perselisihan komersial lainnya, persoalan ketentuan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data bukan pengganti|substitusi penilaian hukum, itu yakni penambah. Lawyer yang dibantu data bercakap bahasa bisnis dan jauh lebih meyakinkan  dibanding yang “berbasiskan firasat”. Tak ada “data hukum;” ada info yang berada dalam peranan hukum yang dapat dibagi dengan unit bisnis lain buat memecahkan “hambatan hibrida” yang memajukan nilai perusahaan.

Manajemen risiko, kepatuhan, perampingan kontrak untuk tekan siklus marketing, dan penghindaran litigasi merupakan beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing siapkan kegunaan hukum dengan potensi yang besar sekali buat membuat serta membuktikan nilai.

Dari Pusat Biaya Menjadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisionil menganggap hukum jadi penghalang kemungkinan perusahaan serta pusat ongkos. Itu berganti. C-Suite mengaku kewajiban digital berlaku untuk peranan hukum seperti dalam buat unit bisnis yang lain. Tanpa adopsinya, hukum tidak dapat penuhi pekerjaannya yang diperlebar buat berperan sebagai:

1.Pendeteksi dini risiko|efek perusahaan yang pro-aktif, mitigasi kemungkinan, serta pemecah masalah; serta

2.Kolaborator yang aktif dan gesit dengan fungsi bisnis lainnya buat membikin penerimaan dan kemungkinan pasar anyar buat perusahaan serta pelangganya.

Fungsi hukum yang penuhi kewajiban mereka yang diperlebar bakal perlihatkan nilai serta nikmati posisi perusahaan yang bertambah tinggi. Kurang lebih tiga perempat (74%) informan bisnis dalam study yang sedang dilakukan oleh The Digital Legal Exchange menuturkan penting/sangat perlu untuk hukum buat membikin pemasukan dan kesempatan pasar anyar.

Mereka merasa hukum jadi partner sinergis bisnis, bukan menjadi departemen tertutup yang cuman focus pada “tugas hukum”. Hukum harus manfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan dan konsumen, ketrampilan, pengalaman, dan kegesitannya buat menganalisis serta berkolaborasi dengan unit bisnis lain untuk menggerakkan nilai perusahaan yang terukur.

 

Pelayanan dan Pengalaman Konsumen setia yang Unggul

Service dan pengalaman konsumen yang unggul yaitu bagian kunci buat tunjukkan serta menjaga nilai. Jeff Bezos menyamakan interaksi pemasok/pelanggan dengan dinamika tuan-rumah/tamu; tuan-rumah yang baik meyakinkan jika tamu diterima, dihormati, dan jadi perhatian.

Hukum persis dengan fungsi perusahaan lainnya dalam hal bagaimana ia mesti secara konsisten berikan, memelihara, meningkatkan, serta secara empiris tunjukkan layanan/pengalaman konsumen setia. Daftar check layanan pelanggan untuk peran hukum mencakup:

-mengadopsi pola pikir yang mementingkan pelanggan serta mengaplikasikannya pada semuanya yang Anda serta rekanan team Anda kerjakan;

-kemudahan akses ke produk serta pelayanan hukum;

-kehandalan, efisiensi, kecepatan, nilai, dan transparan pengantaran;

-bantuan konsumen yang mencakup alat/sumber daya electronic dan swadaya manusia;

-mendapatkan dan selekasnya menanggapi masukan konsumen setia;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun jalinan serta perspektif konsumen periode panjang, bukan perspektif transaksi bisnis;

-“membuatnya benar” juga ketika kekeliruan dibuat;

-memperlakukan pelanggan menjadi asset perusahaan;

-beroperasi secara proaktif, bukan reaktif;

-mengakui kekuatan medsos serta pengukuhan pengalaman pelanggan yang positif serta negatif;

-peningkatan  ketrampilan secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|memberikan dukungan unit bisnis lain buat menambah kepuasan pelanggan dan pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Simpulan

Peranan hukum tidak bisa menunjukkan nilainya bagi bisnis kecuali bila searah dengannya. Itu berarti bermitra dengan kegunaan perusahaan lainnya serta focus pada konsumen adalah cara terhebat buat memperkirakan dan penuhi kebutuhan dan impian mereka yang berbeda secara sekejap.

Ini yakni intupokok dari keharusan digital, imajinasi ulang dan komposisi ulang yang disokong teknologi mengenai bagaimana produk dan pelayanan lebih gampang diakses, kompetitif, terbuka, konsisten, serta  dikatakan dengan menyenangkan pada pelanggan. Fungsi hukum bisa serta harus memainkan peranan penting dalam perubahan komplet dari dinamika penyedia/pelanggan ini.

Menghilangkan pola pikir “pengacara dan ‘non-pengacara'” yakni langkah awal yang bagus.

6 teori etika bisnis

Semoga materi 6 teori etika bisnis bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *