etika bisnis dalam al quran

Bagaimana Peranan Hukum Membuktikan Nilai Buat Suatu Bisnis?

etika bisnis dalam al quran

Bagian pertama dari seri dua sisi ini mengkaji mengapa peran hukum merasakan kesulitan membuktikan nilainya bagi bisnis. Bagian ini menjajakan bagaimana hal itu bisa berlangsung. Artikel kali ini membahas tentang

etika bisnis dalam al quran

Pembela perkara merupakan hambatan paling besar kegunaan hukum buat menunjukkan nilai bisnis. Sebagian besar cerdas, fokus, rajin, analitis, serta fokus pada maksud ialah karakter tenaga kerja yang dikehendaki . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pendidikan, indoktrinasi, struktur, dan keangkuhan.

Budaya hukum ialah terkait pembela perkara, bukan pelanggan. Itu bukan permulaan di era alih bentuk digital di mana semua ditujukan untuk menaikkan pengalaman konsumen.

 etika bisnis dalam al quran

 

 

Pendahuluan: Pola Berpikir Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperluas

Kegunaan hukum lagi diatur ulang buat menyesuaikan dengan kebutuhan perusahaan digital dan konsumen setia mereka. Bisnis serta beberapa penyuplai model baru berada di garda paling depan dalam penataan kembali, bukan pembuatan hukum. Perancangan kembali kegunaan hukum mulai dari perspektif konsumen, apa yang diperlukan hukum buat melayani kepentingannya dengan lebih baik?

Untuk capai kepuasan konsumen setia di waktu digital, peran hukum harus menyadari tantangan pelanggannya dan jadi sisi dari solusi mereka. Ini butuh hukum untuk memungut perspektif bisnis buat penuhi peran hukum yang diperlebar. Untuk melayani perusahaan digital dan konsumen mereka, peranan hukum harus bekerja sebagai pembela perusahaan yang proaktif dan didorong oleh data serta berkolaborasi dengan unit bisnis lain buat mendorong nilai perusahaan. Tetapi bagaimana metodenya?

Menggali makin banyak dari guna hukum dimulai dengan budaya dan perjalanan manajemen pengubahan. Ini sertakan kolaborasi guna hukum dengan dan adaptasi pada sumber daya bisnis yang ada, sistem pemecahan problem, metrik, proses, teknologi, dan data. Fokusnya yaitu di bagaimana mereka bisa dipakai, disempurnakan, dan dibagikan tidak hanya dalam guna hukum tetapi di seluruhnya perusahaan.

 

etika bisnis dalam al quran

Fungsi hukum tidak bisa lagi didiamkan. Itu harus menjadi bagiab dari perjalanan digital perusahaan yang misinya yakni menaikkan hasil, nilai, serta pengalaman konsumen. Untuk layani bisnis dengan lebih bagus serta bersinergi dalam pembuatan nilainya, guna hukum harus pandai ke bahasa bisnis, proses, manajemen dampak, analitik data, kelincahan, kecepatan, pemerolehan serta management kapabilitas, kemungkinan, kompetisi, serta service konsumen.

Ini jauh dari tugas hukum untuk  hasilkan “tugas hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Lawyer serta professional hukum terkait, tak peduli oleh siapa mereka dikaryakan, harus menggunakan kolaborasi laten praktek hukum serta pemberian layanan hukum dalam skala besar. Elemen praktek serta bisnis dari layanan hukum membutuhkan keahlian dan tenaga kerja yang lain tetapi punya perspektif yang serupa.

Mereka merupakan komponen yang sama keutamaan dari guna hukum yang perlu bekerja dengan lancar, tangkas, serta lancar tidak cuma dalam peranan hukum tetapi juga dengan penopang keperluan bisnis yang lain di semuanya perusahaan. Integratif praktik hukum dan bisnis pemberian layanan hukum (operasi hukum) mempertingkat efektivitas fungsional hukum. Ini adalah pilar dasar penciptaan nilai.

Langkah ke-2 dan yang lebih mengubah pola dlam perjalanan perubahan digital peranan hukum ialah penyelarasannya dengan bisnis buat membuat nilai bagi perusahaan dan konsumen setianya. Ini melibatkan rekonfigurasi holistik dari peranan, relevansi, serta metode penghargaan dari kegunaan hukum. Hasilnya adalah membentuk kepuasan pelanggan.

Berikut ini beberapa cara buat melepaskan kemampuan laten manfaat hukum buat berbeda dari hambatan biaya dan hambatan peluang bisnis jadi pusat laba, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan pelanggan.

 

Manfaat Hukum yang Menanggapi Keperluan Bisnis

Peran hukum harus memanipulasi balik dianya dari sudut pandang pelanggan, bagaimana dia dapat|bisa memenuhi serta melampaui keperluan serta impian pengalaman konsumen setia. Ini butuh restrukturisasi organisasi tiada rintangan dari manfaat hukum yang berfokus di bagaimana ia dapat mengatur ulang untuk layani bisnis yang beralih secara digital dan pelanggannya dengan lebih bagus.

Tak ada peta jalan digital legal yang cocok buat semua, tapi, bagian umum meliputi:

-mengganti banyak pelayanan lewat produk yang memasukkan alat bantu berdikari dan jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membikin alat teknologi yang sesuai sama maksud buat kegunaan hukum dan menggunakan alat “hukum” yang ada untuk layani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang dan menganalisa data tidak terancang yang ada di dalam manfaat hukum untuk pemakaian perusahaan yang bertambah luas serta kontributor pada data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa lakukan apa” berdasar pada kapabilitas yang disokong data, pengalaman yang relevan, cost,  tersedianya, dan hasil;

– melawan pola warisan hukum serta menggantinya dengan struktur, mode, metrik, proses, dan tenaga kerja anyar yang merespons kepentingan dan angan-angan pelanggan dengan lebih baik;

– mengenyahkan ketidaksamaan buatan pembela perkara antara tipe penyuplai (in-house, firma, firma hukum, dsb.);

– siapkan tenaga kerja berbasiskan platform, lincah, kolaboratif, mulus, serta terpusat di konsumen setia yang terdiri dalam beraneka sumber daya;

-memberikan nasehat yang ditopang data

– berfokus pada penciptaanan nilai untuk bisnis dan konsumennya serta menciptakan pengalaman konsumen setia komplet yang unggul;

– menanam investasi dalam kenaikan keterampilan serta kepelatihan tenaga kerja buat penuhi hambatan tersebut.

 

Tentukan Metrik yang Mematuhi Bisnis Serta Dioperasikan Olehnya

Peter Drucker memonitor, “Anda tidak dapat mengatur apa yang tidak dapat Anda ukur.” Metrik hukum secara monumental jarang dan terkait dengan keuntungan, bukan kepuasan konsumen setia. Bisnis, khususnya di era digital, miliki rangkaian metrik yang sama sekali berlainan yang focus pada konsumen setia.

Bisnis memonitor keluasaan akses pelanggan, pengangkutan on time, hasil yang sukses, uraian jejaring sosial, score promotor bersih, serta indeks lain yang mengukur kepuasan/pengalaman konsumen. Ini yaitu kunci kelanjutan, skalabilitas, profitabilitas, serta komitmen merek di dunia digital.

Bisnis menempatkan nilai tinggi di adaptasi hukum dari metriknya. Kajian Peralihan Hukum Digital menemukan kalau 97% informan bisnis menyampaikan mereka mau metrik sukses kegunaan hukum seirama dengan arah bisnis. Waktu-waktu peran hukum mendapati sanjungan buat menyeimbangkan bujetnya sudah berlalu. Untuk memastikan nilai bagi bisnis, ia mesti beradaptasi dengan metrik yang sama yang dipraktekkan pada peran perusahaan lainnya.

 

Memakai Kebolehan Data

Bisnis berjalan dengan data. Peranan hukum mesti. Itu tidak bermakna pembela perkara mesti menambahkan analisis data sebagai kapabilitas pokok. Namun, mereka harus bekerjasama dengan analisis data, tehnologi, dan profesional hukum terkait lainnya serta memperlakukan mereka selaku partner yang sama dengan. Team multidisiplin yang mulus, tangkas, dan terpadu yakni apa yang diperlukan untuk penuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data yakni sumber penciptaan nilai yang luas dan belum digunakan buat manfaat hukum. Ia mempunyai kekuatan buat mengambil alih spekulasi serta pendapat dengan pandangan ke depan serta pandangan berbasiskan sains. Data yang sama yaitu informasi yang material buat peramalan yang tepat, identifikasi risiko awal, mitigasi, Efisiensi, penyimpulan trick cepat, hasil makin baik, serta penjagaan hasil “kejutan” (misalkan, efek yang terlalu rendah) adalah alat baru yang kurang digunakan oleh hukum.

 

etika bisnis dalam al quran

Data tidak sekedar berkekuatan laten buat memercepat kecepatan, efisiensi, ketepatan, dan performa peranan hukum, akan tetapi juga bisa memajukan penciptaan nilai perusahaannya. Misalnya termasuk implikasi data material untuk kontrak, litigasi, investigasi serta perseteruan komersil lainnya, masalah aturan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data bukanlah pengganti|alternatif penilaian hukum, itu adalah peningkat. Pembela perkara yang disokong data bercakap bahasa bisnis serta semakin kredibel  dibanding yang “berbasiskan firasat”. Tidak ada “data hukum;” ada info yang berada dalam fungsi hukum yang bisa diberikan dengan unit bisnis lain untuk pecahkan “rintangan hibrida” yang memajukan nilai perusahaan.

Manajemen dampak, kepatuhan, perampingan kontrak untuk mendesak siklus marketing, serta penghindaran litigasi merupakan beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing siapkan peran hukum dengan kapasitas yang besar sekali buat membuat dan menyatakan nilai.

Dari Pusat Cost Jadi Pencipta Nilai

Bisnis secara tradisionil menganggap hukum jadi penghalang peluang perusahaan serta pusat ongkos. Itu berbeda. C-Suite mengaku kewajiban digital berlaku buat kegunaan hukum seperti buat unit bisnis lainnya. Tanpa adopsinya, hukum tidak bisa memenuhi pekerjaannya yang diperluas untuk berperan jadi:

1.Pendeteksi dini risiko|kemungkinan perusahaan yang pro-aktif, mitigasi risiko, serta pemecah masalah; dan

2.Kolaborator yang aktif dan gesit dengan manfaat bisnis lainnya buat membuat penerimaan dan peluang pasar anyar bagi perusahaan serta pelangganya.

Kegunaan hukum yang memenuhi kewajiban mereka yang diperlebar bakal menyatakan nilai serta menikmati kedudukan perusahaan yang bertambah tinggi. Sekitaran tiga perempat (74%) responden bisnis dalam studi yang telah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange menuturkan penting/begitu penting untuk hukum buat membentuk pendapatan dan peluang pasar anyar.

Mereka memandang hukum jadi mitra sinergis bisnis, bukan sebagai departemen tertutup yang cuman focus di “pekerjaan hukum”. Hukum mesti manfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan serta konsumen, keterampilan, pengalaman, serta kegesitannya untuk menandai dan bekerjasama dengan unit bisnis lain buat memajukan nilai perusahaan yang terukur.

 

Layanan serta Pengalaman Konsumen yang Unggul

Pelayanan serta pengalaman pelanggan yang unggul ialah bagian kunci buat perlihatkan serta mempertahankan nilai. Jeff Bezos menyamakan jalinan pemasok/konsumen dengan dinamika tuan-rumah/tamu; tuan rumah yang baik menegaskan jika tamu diterima, dipandang, dan menjadi perhatian.

Hukum persis dengan peran perusahaan lainnya dalam soal bagaimana ia mesti secara stabil memberikan, memelihara, menambah, dan secara empiris memperlihatkan pelayanan/pengalaman pelanggan. Daftar cek service pelanggan buat peran hukum mencakup:

-mengadopsi perspektif yang menekankan pelanggan dan menerapkannya di pada semua yang Anda dan teman team Anda lakukan;

-kemudahan akses ke produk dan layanan hukum;

-kehandalan, efisiensi, kecepatan, nilai, dan transparan pengantaran;

-bantuan konsumen setia yang mencangkup alat/sumber daya elektronik serta swadaya manusia;

-mendapatkan serta selekasnya menanggapi input pelanggan;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun jalinan dan perspektif konsumen setia periode panjang, bukan perspektif transaksi bisnis;

-“membuatnya betul” bahkan juga ketika kekeliruan dibuat;

-memperlakukan konsumen selaku asset perusahaan;

-beroperasi secara pro aktif, bukan reaktif;

-mengakui kekuatan medsos dan penguatan pengalaman pelanggan yang positif dan negatif;

-peningkatan  keterampilam secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|menyuport unit bisnis lain buat tingkatkan kepuasan konsumen dan pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Simpulan

Peran hukum tidak bisa tunjukkan nilainya bagi bisnis kecuali jika searah dengannya. Itu berarti bermitra dengan manfaat perusahaan lainnya serta fokus pada pelanggan yaitu cara terunggul untuk memperkirakan dan memenuhi kebutuhan dan asa mereka yang berbeda dalam sekejap.

Ini yaitu intupokok dari kewajiban digital, imajinasi ulang dan kombinasi ulang yang ditunjang tehnologi mengenai bagaimana produk serta service lebih simpel dijangkau, bersaing, terbuka, konstan, dan  disampaikan dengan menyenangkan pada konsumen setia. Peranan hukum bisa dan harus memainkan peranan penting dalam perubahan lengkap dari dinamika penyedia/konsumen setia ini.

Menghilangkan pola pikir “pembela perkara serta ‘non-pengacara'” adalah pertama-pertama yang baik.

etika bisnis dalam al quran

Semoga materi etika bisnis dalam al quran bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *