etika bisnis dalam organisasi

etika bisnis dalam organisasi

Bagaimana Kegunaan Hukum Perlihatkan Nilai Untuk Suatu Bisnis?

etika bisnis dalam organisasi

Sisi pertama dari seri dua bagian ini membicarakan kenapa peranan hukum mengenyam kepelikan menyatakan nilainya untuk bisnis. Bagian ini menawarkan bagaimana hal demikian dapat terjadi. Artikel kali ini membahas tentang

etika bisnis dalam organisasi

Pengacara yaitu kendala paling besar peranan hukum buat memperlihatkan nilai bisnis. Sejumlah besar pintar, focus, rajin, analisa, serta berorientasi pada arah yaitu karakter tenaga kerja yang diharapkan . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, susunan, serta keangkuhan.

Budaya hukum adalah terkait pembela perkara, bukan konsumen. Itu bukan permulaan di waktu alih bentuk digital di mana segalanya disasarkan buat meningkatkan pengalaman konsumen setia.

 etika bisnis dalam organisasi

 

 

Pendahuluan: Skema Pikirkan Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperluas

Guna hukum tengah diatur ulang untuk menyelaraskan dengan kepentingan perusahaan digital serta pelanggan mereka. Bisnis dan sejumlah pemasok model baru berada di garda paling depan dalam penyusunan kembali, bukan penciptaan hukum. Perancangan ulang fungsi hukum diawali pada sudut pandang konsumen, apa yang dibutuhkan hukum buat layani keperluannya dengan lebih baik?

Buat gapai kepuasan pelanggan di zaman digital, manfaat hukum harus mendalami tantangan konsumen setianya dan jadi sisi dari jalan keluar mereka. Ini perlu hukum buat memungut pola pikir bisnis buat memenuhi manfaat hukum yang diperlebar. Buat melayani perusahaan digital dan pelanggan mereka, peranan hukum harus bekerja menjadi pembela perusahaan yang proaktif dan didorong oleh data serta bekerjasama dengan unit bisnis lain buat mendorong nilai perusahaan. Tapi bagaimana metodenya?

Mengeduk semakin banyak dari kegunaan hukum mulai dengan budaya dan perjalanan management transisi. Ini sertakan kerjasama fungsi hukum dengan dan penyesuaian pada sumber daya bisnis yang ada, metoda pemecahan kasus, metrik, proses, tehnologi, dan data. Focusnya adalah di bagaimana mereka bisa digunakan, diperbaharui, dan dibagikan bukan hanya dalam fungsi hukum namun juga di semuanya perusahaan.

 

etika bisnis dalam organisasi

Fungsi hukum tak dapat kembali didiamkan. Itu harus menjadi sisi dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya adalah meningkatkan hasil, nilai, dan pengalaman konsumen setia. Buat layani bisnis dengan lebih bagus serta berkolaborasi dalam penciptaan nilainya, manfaat hukum mesti mengusai dalam bahasa bisnis, proses, manajemen dampak, analitik data, kelincahan, kecepatan, akuisisi dan manajemen kemampuan, kemungkinan, perebutan, dan pelayanan konsumen setia.

Ini jauh dari pekerjaan hukum buat  hasilkan “pekerjaan hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Advokat dan professional hukum terkait, tidak perduli oleh siapa mereka ditempatkan kerja, harus manfaatkan kerjasama laten hukum dan pemberian pelayanan hukum dalam skala besar. Elemen praktik serta bisnis dari layanan hukum butuh keterampilan dan tenaga kerja yang beda namun memiliki sudut pandang yang sama.

Mereka yaitu elemen yang sama pentingnya dari kegunaan hukum yang harus beroperasi dengan lancar, lincah, dan lancar bukan cuma dalam kegunaan hukum namun juga dengan pemangku kebutuhan bisnis yang lain di seluruh perusahaan. Integratif praktek hukum dan bisnis pemberian service hukum (operasi hukum) menambah efisiensi fungsional hukum. Ini merupakan pilar dasar pembuatan nilai.

Langkah ke-2 dan yang lebih mengubah paradigma dlam perjalanan transformasi digital peran hukum adalah penyelarasannya dengan bisnis untuk membentuk nilai untuk perusahaan dan pelanggannya. Ini menyertakan rekonfigurasi holistik dari peran, kaitan, serta struktur penghargaan dari guna hukum. Hasil akhir yakni membentuk kepuasan konsumen setia.

Tersebut merupakan cara-cara buat melepas kemampuan laten guna hukum untuk beralih dari rintangan anggaran dan kendala peluang bisnis jadi pusat laba, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan konsumen setia.

 

Kegunaan Hukum yang Menyikapi Keperluan Bisnis

Kegunaan hukum harus rekayasa balik dianya sendiri dari perspektif konsumen setia, bagaimana ia dapat|bisa penuhi serta melampaui keperluan serta harapan pengalaman konsumen setia. Ini membutuhkan restrukturisasi organisasi tiada rintangan dari guna hukum yang focus pada bagaimana ia bisa mengendalikan ulang buat melayani bisnis yang beralih secara digital dan pelanggannya dengan lebih baik.

Tidak ada peta jalan digital legal yang pas untuk semua, namun,tetapi, bagian umum mencakup:

-mengganti banyak layanan dengan produk yang mengikutkan alat bantu mandiri serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk bikin alat tehnologi yang sesuai sama tujuan untuk kegunaan hukum dan memanfaatkan alat “hukum” yang ada buat layani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta menganalisa data tak terstruktur yang ada di dalam guna hukum untuk pemakaian perusahaan yang makin luas dan peran di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa lakukan apa” berdasar kompetensi yang dibantu data, pengalaman yang relevan, biaya,  adanya, serta hasil;

– menentang paradigma warisan hukum serta mengubahnya dengan susunan, bentuk, metrik, proses, dan tenaga kerja baru yang memberikan respon kebuthan dan impian konsumen dengan lebih baik;

– menyingkirkan perbedaan produksi pembela perkara antara model penyedia (in-house, firma, firma hukum, dsb.);

– menyiapkan tenaga kerja berbasiskan platform, lincah, kolaboratif, mulus, dan terpusat pada konsumen yang terdiri dalam beragam sumber daya;

-memberikan anjuran yang ditunjang data

– berfokus pada penciptaanan nilai bagi bisnis serta konsumennya dan menciptakan pengalaman pelanggan lengkap yang unggul;

– lakukan investasi dalam penambahan keterampilan serta training tenaga kerja untuk memenuhi halangan itu.

 

Tetapkan Metrik yang Patuhi Bisnis Dan Dijalankan Olehnya

Peter Drucker mencermati, “Anda tidak bisa mengurus apa yang tidak bisa Anda ukur.” Metrik hukum secara sejarah jarang dan terkait dengan keuntungan, bukan kepuasan konsumen setia. Bisnis, khususnya di waktu digital, mempunyai rangkaian metrik yang serupa sekali tidak sama yang fokus di konsumen setia.

Bisnis mengawasi keringanan akses konsumen, pengiriman tepat waktu, hasil yang sukses, penjelasan jejaring sosial, score promotor bersih, dan indeks lain yang menghitung kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini ialah kunci kesinambungan, skalabilitas, profitabilitas, serta komitmen brand di dunia digital.

Bisnis memposisikan nilai tinggi pada adaptasi hukum dari metriknya. Penelitian Perputaran Hukum Digital mendapati jika 97% informan bisnis mengucapkan mereka ingin metrik sukses guna hukum seirama dengan tujuan bisnis. Waktu-waktu peran hukum mendapatkanmemperoleh aplaus untuk menyejajarkan bujetnya telah berakhir. Buat menetapkan nilai buat bisnis, ia harus beradaptasi dengan metrik yang sama yang diimplikasikan pada peranan perusahaan yang lain.

 

Memanfaatkan Kebolehan Data

Bisnis berjalan dengan data. Kegunaan hukum harus. Itu tak berarti pembela perkara harus menambah analisa data selaku kompetensi pokok. Tetapi, mereka mesti bekerjasama dengan analisis data, tehnologi, dan profesional hukum terkait yang lain serta perlakukan mereka sebagai partner yang setingkat. Team multidisiplin yang mulus, tangkas, dan terintegrasi ialah apa yang diperlukan buat memenuhi kewajiban digital hukum yang diperlebar.

Data merupakan sumber pembuatan nilai yang luas dan belum dimanfaatkan buat manfaat hukum. Ia miliki kekuatan buat mengambil alih perkiraan dan pendapat dengan pandangan ke depan dan wawasan berbasis sains. Data yang relevan yakni data yang material untuk peramalan yang akurat, identifikasi risiko awal, mitigasi, efektivitas, penjabaran kiat cepat, hasil yang semakin baik, serta pengawalan hasil “surprise” (contohnya, risiko yang terlalu rendah) adalah alat baru yang kurang digunakan oleh hukum.

 

etika bisnis dalam organisasi

Data tidak cuma mempunyai kekuatan laten buat mempercepat kecepatan, efektivitas, ketepatan, serta kemampuan kegunaan hukum, tapi dapat pula mendorong pembuatan nilai perusahaannya. Misalnya termaksud implikasi data material untuk kontrak, litigasi, investigasi serta perselisihan komersil yang lain, kasus aturan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data bukanlah pengganti|substitusi penilaian hukum, itu adalah penambah. Pengacara yang didukung data berkata bahasa bisnis dan jauh semakin dapat dipercaya  ketimbang yang “berbasiskan firasat”. Tidak ada “data hukum;” ada informasi yang ada dalam guna hukum yang bisa dibagi dengan unit bisnis lain buat pecahkan “halangan hibrida” yang menggerakkan nilai perusahaan.

Manajemen dampak, kepatuhan, perampingan kontrak untuk tekan siklus pemasaran, serta penghindaran litigasi yaitu beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing siapkan guna hukum dengan kapasitas yang besar sekali untuk membentuk serta perlihatkan nilai.

Dari Pusat Ongkos Jadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisional menganggap hukum menjadi penghambat kesempatan perusahaan dan pusat biaya. Itu beralih. C-Suite mengakui keharusan digital berlaku buat kegunaan hukum seperti pada untuk unit bisnis lainnya. Tanpa ada adopsinya, hukum tidak dapat penuhi pekerjaannya yang diperlebar buat berfungsi sebagai:

1.Pendeteksi awal risiko|resiko perusahaan yang proaktif, mitigasi efek, dan pemecah masalah; serta

2.Kolaborator yang aktif serta tangkas dengan peranan bisnis lainnya buat menciptakan pendapatan dan kemungkinan pasar anyar buat perusahaan serta pelangganya.

Guna hukum yang penuhi kewajiban mereka yang diperlebar bakal menunjukkan nilai dan menikmati kedudukan perusahaan yang lebih tinggi. Sekitaran tiga perempat (74%) responden bisnis dalam studi yang telah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange menyampaikan penting/sangat penting untuk hukum untuk membikin penghasilan serta peluang pasar baru.

Mereka memandang hukum jadi partner sinergis bisnis, bukan selaku departemen tertutup yang cuma berfokus pada “tugas hukum”. Hukum harus memakai modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan dan konsumen setia, keterampilan, pengalaman, dan kelincahannya untuk mengidentifikasi serta bersinergi dengan unit bisnis lain untuk menggerakkan nilai perusahaan yang terukur.

 

Layanan serta Pengalaman Pelanggan yang Unggul

Layanan dan pengalaman pelanggan yang unggul merupakan komponen kunci buat perlihatkan serta membela nilai. Jeff Bezos menyamai pertalian penyuplai/konsumen setia dengan dinamika tuan rumah/tamu; tuan rumah yang bagus menegaskan kalau tamu diterima, dihargai, dan jadi perhatian.

Hukum mirip dengan fungsi perusahaan lainnya dalam hal bagaimana ia mesti secara stabil memberikan, memelihara, tingkatkan, dan secara empiris memperlihatkan pelayanan/pengalaman konsumen setia. Daftar periksa pelayanan konsumen setia untuk peranan hukum meliputi:

-mengadopsi perspektif yang mengutamakan pelanggan dan mengaplikasikannya di seluruh yang Anda dan rekan tim Anda lakukan;

-kemudahan akses ke produk serta pelayanan hukum;

-kehandalan, efektivitas, kecepatan, nilai, dan transparansi pengantaran;

-bantuan konsumen setia yang termasuk alat/sumber daya elektronik dan swadaya manusia;

-mendapatkan dan selekasnya menyikapi input pelanggan;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun interaksi serta perspektif pelanggan waktu panjang, bukan perspektif transaksional

-“membuat benar” juga ketika kekeliruan dibuat;

-memperlakukan konsumen jadi asset perusahaan;

-beroperasi secara pro aktif, bukan reaktif;

-mengakui kemampuan social media serta penguatan pengalaman pelanggan yang positif serta negatif;

-peningkatan  keahlian secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|menyuport unit bisnis lain buat meningkatkan kepuasan konsumen setia dan pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Simpulan

Manfaat hukum tidak bisa memperlihatkan nilainya untuk bisnis terkecuali jika searah dengannya. Itu bermakna berelasi dengan peranan perusahaan yang lain dan focus pada konsumen setia yaitu cara terbaik untuk memprediksi dan penuhi kepentingan dan keinginan mereka yang berubah secara sekejap.

Ini ialah intupokok dari keharusan digital, fantasi ulang serta konfigurasi ulang yang dibantu technologi mengenai bagaimana produk serta layanan lebih simpel diakses, bersaing, terbuka, stabil, dan  disampaikan dengan membahagiakan pada pelanggan. Kegunaan hukum bisa serta harus memainkan peran penting dalam transformasi lengkap dari dinamika penyuplai/konsumen setia ini.

Menghilangkan pola pikir “pengacara dan ‘non-pengacara'” ialah langkah awal yang baik.

etika bisnis dalam organisasi

Semoga materi etika bisnis dalam organisasi bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *