etika bisnis dalam pandemi covid 19

Bagaimana Peranan Hukum Menunjukkan Nilai Untuk Suatu Bisnis?

etika bisnis dalam pandemi covid 19

Bagian pertama dari seri dua bagian ini membicarakan kenapa peran hukum alami kesukaran memperlihatkan nilainya untuk bisnis. Unit ini menjajakan bagaimana hal itu bisa berlangsung. Artikel kali ini membahas tentang

etika bisnis dalam pandemi covid 19

Pembela perkara yaitu hambatan paling besar peran hukum untuk memberikan nilai bisnis. Mayoritas cerdik, konsentrasi, rajin, analisa, serta fokus pada tujuan yaitu sifat tenaga kerja yang diingini . Sehingga di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, susunan, serta keangkuhan.

Budaya hukum merupakan perihal advokat, bukan konsumen. Itu bukan permulaan di masa perubahan digital di mana segalanya ditujukan untuk tingkatkan pengalaman konsumen setia.

 etika bisnis dalam pandemi covid 19

 

 

Pendahuluan: Skema Berpikir Bisnis Buat Remit Hukum yang Diperluas

Fungsi hukum lagi dirapikan ulang untuk menyesuaikan dengan keperluan perusahaan digital serta konsumen setia mereka. Bisnis serta sejumlah penyuplai model anyar berada di garda paling depan dalam pengaturan kembali, bukan penciptaan hukum. Perancangan ulang fungsi hukum diawali pada perspektif konsumen, apa yang diperlukan hukum buat melayani kepentingannya dengan lebih bagus?

Untuk gapai kepuasan pelanggan di waktu digital, kegunaan hukum mesti mengerti rintangan konsumen setianya dan jadi sisi dari solusi mereka. Ini membutuhkan hukum buat adopsi sudut pandang bisnis untuk penuhi peran hukum yang diperlebar. Buat melayani perusahaan digital dan pelanggan mereka, peran hukum harus bekerja sebagai pembela perusahaan yang proaktif serta didorong oleh data serta berkolaborasi dengan unit bisnis lain untuk menggerakkan nilai perusahaan. Tapi bagaimana triknya?

Mengeruk lebih banyak dari manfaat hukum diawali dengan budaya serta perjalanan manajemen peralihan. Ini libatkan kombinasi peran hukum dengan serta penyesuaian pada sumber daya bisnis yang ada, sistem pemecahan masalah, metrik, proses, technologi, serta data. Focusnya ialah di bagaimana mereka bisa digunakan, diperbaharui, dan diberikan tidak hanya dalam peran hukum tetapi di semua perusahaan.

 

etika bisnis dalam pandemi covid 19

Guna hukum tidak bisa kembali didiamkan. Itu mesti menjadi sisi dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya yaitu menambah hasil, nilai, dan pengalaman konsumen setia. Buat melayani bisnis dengan lebih baik dan bekerjasama dalam penciptaan nilainya, manfaat hukum mesti terampil dengan bahasa bisnis, proses, management kemungkinan, analitik data, kecekatan, kecepatan, akuisisi serta manajemen bakat, risiko, perebutan, dan pelayanan konsumen.

Ini jauh dari tugas hukum untuk  hasilkan “pekerjaan hukum yang sangat baik” yang diproklamirkan sendiri. Pembela perkara serta profesional hukum terkait, tidak perduli oleh siapa mereka diperbantukan, mesti memakai sinergi laten praktek hukum serta pemberian service hukum dalam skala besar. Elemen praktik serta bisnis dari service hukum butuh ketrampilan dan tenaga kerja yang beda tetapi memiliki pola pikir yang serupa.

Mereka merupakan unsur yang sama keutamaan dari guna hukum yang wajib bekerja secara lancar, lincah, serta lancar bukan sekedar dalam peran hukum tetapi juga dengan pemangku keperluan bisnis lainnya di seluruhnya perusahaan. Integratif praktek hukum dan bisnis pemberian service hukum (operasi hukum) menaikkan efisiensi fungsional hukum. Ini ialah pilar dasar penciptaan nilai.

Cara ke-2 dan yang lebih mengubah pola diperjalanan perubahan digital kegunaan hukum ialah penyelarasannya dengan bisnis untuk membuat nilai untuk perusahaan dan konsumennya. Ini libatkan rekonfigurasi holistik dari peran, keterkaitan, dan skema penghargaan dari kegunaan hukum. Hasil akhir yakni membentuk kepuasan konsumen setia.

Ini adalah beberapa cara buat melepas kekuatan laten peran hukum untuk berubah dari kendala bujet serta kendala kesempatan bisnis menjadi pusat untung, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan konsumen setia.

 

Peranan Hukum yang Menanggapi Kepentingan Bisnis

Manfaat hukum harus manipulasi balik dianya sendiri dari sudut pandang pelanggan, bagaimana dia dapat|bisa memenuhi dan melampaui keperluan serta keinginan pengalaman konsumen. Ini memerlukan restrukturisasi organisasi tanpa hambatan dari fungsi hukum yang focus di bagaimana ia bisa mengontrol ulang untuk melayani bisnis yang beralih secara digital serta konsumennya dengan lebih baik.

Tak ada peta jalan digital legal yang cocok buat semua, namun,tetapi, elemen umum mencakup:

-mengganti banyak layanan lewat produk yang menyertakan alat bantu berdikari dan jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk bikin alat technologi yang sesuai maksud untuk fungsi hukum dan manfaatkan alat “hukum” yang ada buat layani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang dan menganalisa data tidak terancang yang ada pada kegunaan hukum untuk penggunaan perusahaan yang semakin luas serta andil di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa lakukan apa” berdasarkan kapabilitas yang didukung data, pengalaman yang relevan, biaya,  tersedianya, dan hasil;

– menantang pola peninggalan hukum serta mengubahnya dengan struktur, bentuk, metrik, proses, dan tenaga kerja anyar yang memberikan respon kepentingan serta asa konsumen setia dengan baik;

– singkirkan ketaksamaan produksi pembela perkara di antara macam pemasok (in-house, firma, firma hukum, dan sebagainya.);

– sediakan tenaga kerja berbasiskan platform, tangkas, kolaboratif, mulus, dan terpusat di konsumen setia yang terdiri dalam beragam sumber daya;

-memberikan nasehat yang ditopang data

– berfokus di pembuatan nilai buat bisnis serta konsumen setianya serta membikin pengalaman pelanggan komplet yang unggul;

– berinvestasi dalam penambahan keahlian serta kursus tenaga kerja untuk penuhi halangan itu.

 

Tentukan Metrik yang Taati Bisnis Serta Dioperasikan Olehnya

Peter Drucker mengamati, “Anda tidak bisa mengelola apa yang tidak dapat Anda ukur.” Metrik hukum secara monumental jarang serta berkaitan dengan keuntungan, bukan kepuasan konsumen setia. Bisnis, terutama di waktu digital, miliki sekelompok metrik yang sama sekali tidak sama yang fokus di konsumen.

Bisnis memonitor keringanan akses pelanggan, pengangkutan on-time, hasil yang sukses, pembahasan social media, score promotor bersih, dan indeks lain yang menghitung kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini yaitu kunci keberlanjutan, skalabilitas, profitabilitas, serta kesetiaan brand di dunia digital.

Bisnis menempatkan nilai tinggi di penyesuaian hukum dari metriknya. Pengamatan Peralihan Hukum Digital menemukan kalau 97% informan bisnis menuturkan mereka ingin metrik kesuksesan fungsi hukum selaras dengan maksud bisnis. Masa-masa manfaat hukum mendapatkanmemperoleh aplaus buat menyetarakan bujetnya telah berlalu. Untuk memutuskan nilai buat bisnis, dia harus beradaptasi dengan metrik yang serupa yang diterapkan pada kegunaan perusahaan lainnya.

 

Manfaatkan Kekuatan Data

Bisnis berjalan dengan data. Guna hukum juga harus. Itu bukan berarti pembela perkara harus menambah kajian data sebagai kapabilitas pokok. Tetapi, mereka mesti bekerjasama dengan riset data, teknologi, serta professional hukum terkait lainnya serta perlakukan mereka sebagai partner yang setingkat. Tim multidisiplin yang mulus, gesit, dan terintegrasi merupakan apa yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data adalah sumber pembuatan nilai yang luas serta belum dipakai buat manfaat hukum. Ia berkekuatan buat menggantikan spekulasi serta perkiraan dengan penglihatan ke depan serta pandangan berbasiskan sains. Data yang berkaitan yakni data yang material buat peramalan yang tepat, diagnosa efek awal, mitigasi, Efisiensi, perumusan taktik cepat, hasil lebih baik, serta pencegahan hasil “surprise” (misalkan, dampak yang terlampau rendah) yakni alat baru yang kurang difungsikan oleh hukum.

 

etika bisnis dalam pandemi covid 19

Data tidak hanya miliki kekuatan laten untuk percepat kecepatan, efisiensi, akurasi, dan kapasitas kegunaan hukum, tetapi bisa pula mendorong pembuatan nilai perusahaannya. Contoh-contohnya termaksud penerapan data material buat kontrak, litigasi, interograsi dan konflik komersial yang lain, soal aturan, dan monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data tidak pengganti|substitusi penilaian hukum, itu yakni peningkat. Pembela perkara yang disokong data bicara bahasa bisnis dan jauh lebih valid  ketimbang yang “berbasis firasat”. Tak ada “data hukum;” ada data yang ada dalam kegunaan hukum yang bisa dibagikan dengan unit bisnis lain untuk memecahkan “halangan hibrida” yang memajukan nilai perusahaan.

Manajemen efek, kepatuhan, perampingan kontrak buat tekan transisi pemasaran, dan penghindaran litigasi yaitu di antara dari sejumlah contoh. Masing-masing menyiapkan peranan hukum dengan potensi yang begitu besar buat menciptakan dan membuktikan nilai.

Dari Pusat Cost Menjadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisional menganggap hukum jadi penghambat peluang perusahaan dan pusat biaya. Itu berbeda. C-Suite mengaku kewajiban digital berlaku buat peranan hukum seperti sama buat unit bisnis yang lain. Tiada adopsinya, hukum tidak bisa penuhi pekerjaannya yang diperlebar untuk berperan sebagai:

1.Pendeteksi dini risiko|resiko perusahaan yang proaktif, mitigasi resiko, serta pemecah masalah; dan

2.Kolaborator yang aktif dan tangkas dengan guna bisnis lainnya buat membikin pemasukan dan kemungkinan pasar anyar untuk perusahaan dan pelangganya.

Kegunaan hukum yang penuhi keharusan mereka yang diperluas dapat menyatakan nilai serta menikmati posisi perusahaan yang makin tinggi. Sekitar tiga perempat (74%) informan bisnis dalam studi yang sudah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange menuturkan penting/penting buat hukum buat membuat pendapatan serta kesempatan pasar anyar.

Mereka memandang hukum jadi partner sinergis bisnis, bukan menjadi departemen tertutup yang hanya fokus di “pekerjaan hukum”. Hukum harus memakai modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan dan konsumen, ketrampilan, pengalaman, serta kelincahannya buat mengenali dan bersinergi dengan unit bisnis lain buat menggerakkan nilai perusahaan yang terukur.

 

Layanan dan Pengalaman Konsumen setia yang Unggul

Layanan serta pengalaman konsumen yang unggul ialah bagian kunci untuk membuktikan serta mempertahankan nilai. Jeff Bezos menyamakan pertalian pemasok/konsumen setia dengan dinamika tuan rumah/tamu; tuan rumah yang baik memastikan kalau tamu diterima, diakui, serta menjadi perhatian.

Hukum sama persis dengan guna perusahaan lainnya dalam soal bagaimana ia mesti secara konsisten memberi, memelihara, tingkatkan, serta secara empiris membuktikan pelayanan/pengalaman konsumen. Daftar cek pelayanan konsumen untuk peranan hukum mencakup:

-mengadopsi perspektif yang mementingkan pelanggan serta menerapkannya pada pada semua yang Anda dan rekanan tim Anda lakukan;

-kemudahan akses ke produk serta service hukum;

-kehandalan, efisiensi, kecepatan, nilai, dan transparansi pengiriman;

-bantuan konsumen setia yang mencakup alat/sumber daya electronic dan swadaya manusia;

-mendapatkan dan selekasnya menanggapi saran pelanggan;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun hubungan dan perspektif pelanggan waktu panjang, bukan perspektif transaksi bisnis;

-“membuatnya benar” sampai ketika kesalahan dibuat;

-memperlakukan pelanggan sebagai asset perusahaan;

-beroperasi secara proaktif, bukan reaktif;

-mengakui kebolehan medsos serta pengokohan pengalaman konsumen yang positif serta negatif;

-peningkatan  keterampilam secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|menyuport unit bisnis lain untuk meningkatkan kepuasan konsumen dan pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Ringkasan

Peran hukum tidak bisa membuktikan nilainya buat bisnis kecuali jika sejalan dengannya. Itu mempunyai arti berpartner dengan kegunaan perusahaan yang lain serta focus pada pelanggan yakni metode terbaik buat memperhitungkan dan memenuhi kepentingan serta keinginan mereka yang berbeda secara sekejap.

Ini adalah intupokok dari keharusan digital, fantasi ulang serta konfigurasi ulang yang disokong tehnologi tentang bagaimana produk dan service lebih mudah diakses, kompetitif, transparan, konstan, serta  dikatakan dengan membahagiakan pada konsumen. Kegunaan hukum bisa dan mesti mainkan peran penting dalam transformasi utuh dari dinamika penyuplai/konsumen ini.

Menghilangkan perspektif “advokat dan ‘non-pengacara'” yaitu pertama-pertama yang baik.

etika bisnis dalam pandemi covid 19

Semoga materi etika bisnis dalam pandemi covid 19 bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *