etika bisnis e commerce di indonesia

etika bisnis e commerce di indonesia

Bagaimana Peranan Hukum Tunjukkan Nilai Untuk Suatu Bisnis?

etika bisnis e commerce di indonesia

Bagian pertama dari seri dua sisi ini mengupas kenapa guna hukum mengalami kesukaran menunjukkan nilainya bagi bisnis. Segnen ini menjajakan bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Artikel kali ini membahas tentang

etika bisnis e commerce di indonesia

Pembela perkara yaitu rintangan terbesar fungsi hukum buat menunjukkan nilai bisnis. Mayoritas cerdas, focus, rajin, analitis, dan mengarah di maksud adalah karakter tenaga kerja yang dikehendaki . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pendidikan, indoktrinasi, struktur, dan keangkuhan.

Budaya hukum ialah tentang pembela perkara, bukan pelanggan. Itu bukan permulaan di zaman alih bentuk digital di mana segalanya ditujukan buat menambah pengalaman pelanggan.

 etika bisnis e commerce di indonesia

 

 

Pendahuluan: Skema Berpikir Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperluas

Peranan hukum lagi ditata ulang untuk menyinkronkan dengan kebutuhan perusahaan digital dan konsumen setia mereka. Bisnis dan sejumlah penyuplai style baru ada pada garda paling depan dalam penyusunan kembali, bukan pembuatan hukum. Perancangan ulang guna hukum dimulai dari perspektif konsumen setia, apa yang diperlukan hukum untuk melayani kepentingannya dengan lebih baik?

Buat sampai kepuasan konsumen di zaman digital, peranan hukum mesti mendalami halangan pelanggannya dan menjadi sisi dari jalan keluar mereka. Ini perlu hukum buat adopsi sudut pandang bisnis buat memenuhi peran hukum yang diperluas. Untuk melayani perusahaan digital serta konsumen setia mereka, kegunaan hukum mesti beroperasi selaku pembela perusahaan yang proaktif serta didorong oleh data dan bersinergi dengan unit bisnis lain untuk memajukan nilai perusahaan. Namun bagaimana metodenya?

Mengeduk lebih banyak dari fungsi hukum diawali dengan budaya dan perjalanan manajemen peralihan. Ini menyertakan kombinasi peranan hukum dengan dan penyesuaian pada sumber daya bisnis yang ada, cara pemecahan kasus, metrik, proses, tehnologi, dan data. Konsentrasinya yakni pada bagaimana mereka bisa dipakai, diperbarui, dan diberikan bukan hanya dalam peranan hukum dan juga di semua perusahaan.

 

etika bisnis e commerce di indonesia

Manfaat hukum tak dapat lagi didiamkan. Itu harus menjadi sisi dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya yakni mempertingkat hasil, nilai, dan pengalaman konsumen setia. Untuk layani bisnis dengan lebih bagus serta bekerjasama dalam penciptaan nilainya, peranan hukum mesti mahir dalam bahasa bisnis, proses, management kemungkinan, analitik data, kegesitan, kecepatan, perolehan dan management talenta, efek, persaingan, serta layanan pelanggan.

Ini jauh dari pekerjaan hukum untuk  menghasilkan “pekerjaan hukum yang sangat baik” yang diproklamirkan sendiri. Pengacara serta profesional hukum berkaitan, tidak perduli oleh siapa mereka diperkerjakan, harus manfaatkan sinergi laten hukum dan pemberian pelayanan hukum dalam skala besar. Elemen praktek serta bisnis dari service hukum butuh keterampilan serta tenaga kerja yang tidak sama tetapi memiliki perspektif yang serupa.

Mereka merupakan unsur yang serupa utamanya dari guna hukum yang harus bekerja secara lancar, lincah, serta lancar tidak hanya dalam kegunaan hukum tapi juga dengan pemangku kebutuhan bisnis yang lain di semuanya perusahaan. Integrasi praktik hukum serta bisnis pemberian pelayanan hukum (operasi hukum) tingkatkan efektivitas fungsional hukum. Ini yaitu pilar dasar penciptaan nilai.

Cara kedua dan yang lebih mengganti pola diperjalanan transformasi digital guna hukum yaitu penyelarasannya dengan bisnis buat menciptakan nilai untuk perusahaan dan konsumen setianya. Ini mengikutsertakan rekonfigurasi holistik dari andil, keterkaitan, dan skema penghargaan dari peranan hukum. Hasil akhirnya yaitu membuat kepuasan konsumen.

Di bawah adalah cara-cara buat melepas potensi laten fungsi hukum buat berubah dari hambatan budget dan hambatan kemungkinan bisnis jadi pusat laba, kolaborator nilai perusahaan, serta kepuasan konsumen setia.

 

Kegunaan Hukum yang Menanggapi Kepentingan Bisnis

Kegunaan hukum mesti mengotak-atik balik dianya sendiri dari perspektif pelanggan, bagaimana dia dapat|bisa memenuhi dan melewati keperluan dan impian pengalaman konsumen. Ini perlu restrukturisasi organisasi tiada hambatan dari guna hukum yang berfokus di bagaimana dia bisa mengontrol ulang untuk layani bisnis yang beralih secara digital dan konsumennya dengan lebih bagus.

Tak ada peta jalan digital legal yang sesuai buat segalanya, tapi, elemen umum mencakup:

-mengganti banyak layanan dengan produk yang sertakan alat bantu mandiri serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membikin alat technologi yang sama dengan tujuan untuk peranan hukum serta menggunakan alat “hukum” yang ada buat melayani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta menelaah data tidak terstruktur yang ada di dalam fungsi hukum buat pemanfaatan perusahaan yang makin luas dan kontributor di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa lakukan apa” menurut kapabilitas yang ditunjang data, pengalaman yang relevan, cost,  tersedianya, dan hasil;

– melawan pola peninggalan hukum serta menggantinya dengan struktur, mode, metrik, proses, dan tenaga kerja baru yang memberi respon kebuthan dan impian konsumen dengan lebih baik;

– menghalau ketidaksamaan bikinan advokat antara tipe pemasok (in-house, firma, firma hukum, dsb.);

– menyiapkan tenaga kerja berbasis platform, tangkas, kolaboratif, mulus, serta berpusat pada pelanggan yang terdiri dalam beraneka sumber daya;

-memberikan nasehat yang ditopang data

– fokus di penciptaanan nilai bagi bisnis dan pelanggannya serta menciptakan pengalaman pelanggan komplet yang unggul;

– menanam investasi dalam peningkatan ketrampilan serta kepelatihan tenaga kerja buat memenuhi tantangan tersebut.

 

Tentukan Metrik yang Taati Bisnis Serta Dijalankan Olehnya

Peter Drucker memperhatikan, “Anda tidak bisa mengatur apa yang tidak dapat Anda ukur.” Metrik hukum secara monumental jarang dan terkait dengan profitabilitas, bukan kepuasan pelanggan. Bisnis, khususnya di masa digital, punyai sekelompok metrik yang sama sekali berbeda yang fokus di konsumen setia.

Bisnis memonitor keringanan akses konsumen, pengangkutan tepat waktu, hasil yang sukses, pembahasan sosial media, nilai promotor bersih, serta indeks yang lain menghitung kepuasan/pengalaman pelanggan. Ini yaitu kunci keberlanjutan, skalabilitas, profitabilitas, serta komitmen brand di dunia digital.

Bisnis tempatkan nilai tinggi pada penyesuaian hukum dari metriknya. Riset Peralihan Hukum Digital mendapati jika 97% responden bisnis berkata mereka pengin metrik sukses kegunaan hukum serasi dengan arah bisnis. Waktu-waktu peran hukum mendapati pujian untuk menyeimbangkan biayanya udah berlalu. Buat memutuskan nilai buat bisnis, ia harus beradaptasi dengan metrik yang serupa yang diimplementasikan pada kegunaan perusahaan yang lain.

 

Memakai Kebolehan Data

Bisnis berjalan dengan data. Peran hukum juga harus. Itu tak berarti pengacara mesti menambah analitis data menjadi kapabilitas inti. Namun, mereka mesti berkolaborasi dengan studi data, teknologi, dan professional hukum berkaitan lainnya dan memberlakukan mereka menjadi mitra yang setingkat. Tim multidisiplin yang mulus, lincah, serta terpadu yakni apa yang dibutuhkan buat penuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data yakni sumber penciptaan nilai yang luas dan belum digunakan untuk fungsi hukum. Dia mempunyai kekuatan untuk gantikan perkiraan dan sangkaan dengan penglihatan di depan serta pemahaman berbasis sains. Data yang berkaitan yakni info yang material buat peramalan yang presisi, identifikasi risiko dini, mitigasi, efektivitas, penjabaran siasat cepat, hasil yang semakin baik, serta penghambatan hasil “surprise” (misalkan, risiko yang terlalu rendah) yaitu alat baru yang kurang difungsikan oleh hukum.

 

etika bisnis e commerce di indonesia

Data bukan hanya berkekuatan laten buat percepat kecepatan, efektivitas, akurasi, serta kinerja fungsi hukum, akan tetapi bisa juga menggerakkan penciptaan nilai perusahaannya. Contohnya tergolong penerapan data material buat kontrak, litigasi, pengusutan dan perseteruan komersial yang lain, problem aturan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data tidak pengganti|alternatif penilaian hukum, itu adalah peningkat. Pembela perkara yang ditunjang data bercakap bahasa bisnis dan semakin lebih valid  daripada yang “berbasis firasat”. Tidak ada “data hukum;” ada info yang ada dalam manfaat hukum yang dapat diberikan dengan unit bisnis lain buat memecahkan “kendala hibrida” yang menggerakkan nilai perusahaan.

Manajemen resiko, kepatuhan, perampingan kontrak untuk tekan perputaran penjualan, serta penghindaran litigasi ialah beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing sediakan peranan hukum dengan kemampuan yang sangat besar buat menciptakan serta membuktikan nilai.

Dari Pusat Biaya Jadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisionil memandang hukum selaku penghambat kemungkinan perusahaan dan pusat ongkos. Itu berubah. C-Suite mengakui kewajiban digital berlaku buat peran hukum seperti buat unit bisnis lainnya. Tanpa adopsinya, hukum tidak dapat penuhi tugasnya yang diperluas buat berfungsi menjadi:

1.Pendeteksi dini risiko|resiko perusahaan yang pro aktif, mitigasi efek, dan pemecah masalah; dan

2.Kolaborator yang aktif serta lincah dengan manfaat bisnis yang lain buat membentuk pemasukan dan peluang pasar baru buat perusahaan serta konsumennya.

Peran hukum yang memenuhi keharusan mereka yang diperluas bakal tunjukkan nilai serta menikmati kedudukan perusahaan yang bertambah tinggi. Seputar tiga perempat (74%) responden bisnis dalam studi yang sedang dilakukan oleh The Digital Legal Exchange menjelaskan penting/paling penting bagi hukum untuk membuat penerimaan serta kesempatan pasar baru.

Mereka memandang hukum selaku mitra sinergis bisnis, bukan sebagai departemen tertutup yang cuma fokus pada “pekerjaan hukum”. Hukum mesti memakai modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan dan pelanggan, keterampilan, pengalaman, dan ketangkasannya buat mengenali dan bersinergi dengan unit bisnis lain untuk mendorong nilai perusahaan yang terukur.

 

Pelayanan dan Pengalaman Pelanggan yang Unggul

Layanan serta pengalaman pelanggan yang unggul adalah elemen kunci buat memperlihatkan serta mempertahankan nilai. Jeff Bezos menyamakan pertalian penyedia/pelanggan dengan dinamika tuan rumah/tamu; tuan-rumah yang bagus menegaskan kalau tamu diterima, dihormati, serta menjadi perhatian.

Hukum sama dengan kegunaan perusahaan lainnya dalam soal bagaimana ia mesti secara konsisten berikan, memelihara, mempertingkat, serta secara empiris memperlihatkan layanan/pengalaman pelanggan. Daftar cek service konsumen setia buat fungsi hukum mencakup:

-mengadopsi sudut pandang yang mengedepankan konsumen setia serta mengaplikasikannya di seluruh yang Anda dan kawan tim Anda lakukan;

-kemudahan akses ke produk dan layanan hukum;

-kehandalan, efektivitas, kecepatan, nilai, dan transparansi pengangkutan;

-bantuan pelanggan yang mencangkup alat/sumber daya electronic serta swadaya manusia;

-mendapatkan serta lekas menanggapi saran konsumen;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun hubungan serta sudut pandang konsumen setia waktu panjang, bukan perspektif transaksional

-“membuatnya benar” bahkan juga di saat kekeliruan dibuat;

-memperlakukan konsumen setia menjadi aset perusahaan;

-beroperasi secara pro-aktif, bukan reaktif;

-mengakui kebolehan media sosial serta pemantapan pengalaman pelanggan yang positif serta negatif;

-peningkatan  keterampilam secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|memberi dukungan unit bisnis lain untuk tingkatkan kepuasan pelanggan serta pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Rangkuman

Fungsi hukum tidak dapat menunjukkan nilainya bagi bisnis kecuali kalau sejalan dengannya. Itu bermakna bermitra dengan fungsi perusahaan yang lain serta fokus di konsumen setia adalah metode terpilih untuk mengantisipasi serta penuhi keperluan dan harapan mereka yang berubah dengan cara cepat.

Ini yakni intupokok dari keharusan digital, imajinasi ulang serta konfigurasi ulang yang ditopang teknologi perihal bagaimana produk serta layanan lebih simpel diakses, kompetitif, transparan, stabil, serta  diungkapkan dengan menyenangkan ke konsumen. Guna hukum dapat serta harus mainkan peran penting dalam perubahan komplet dari dinamika penyuplai/konsumen setia ini.

Menghilangkan perspektif “advokat dan ‘non-pengacara'” ialah langkah pertama yang baik.

etika bisnis e commerce di indonesia

Semoga materi etika bisnis e commerce di indonesia bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *