etika bisnis islam memiliki 6 prinsip 3 diantaranya yaitu

etika bisnis islam memiliki 6 prinsip 3 diantaranya yaitu

Bagaimana Peranan Hukum Menunjukkan Nilai Bagi Sebuah Bisnis?

etika bisnis islam memiliki 6 prinsip 3 diantaranya yaitu

Bagian pertama dari seri dua bagian ini membicarakan mengapa peranan hukum mengalami kesusahan perlihatkan nilainya buat bisnis. Unit ini menawarkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Artikel kali ini membahas tentang

etika bisnis islam memiliki 6 prinsip 3 diantaranya yaitu

Advokat ialah hambatan paling besar manfaat hukum buat memberikan nilai bisnis. Sebagian besar cerdas, konsentrasi, rajin, analisis, serta berorientasi di maksud yakni sifat tenaga kerja yang diharapkan . Sehingga di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, struktur, serta keangkuhan.

Budaya hukum merupakan perihal pengacara, bukan konsumen. Itu bukan permulaan di era perubahan digital di mana semua ditujukan buat menambah pengalaman pelanggan.

 etika bisnis islam memiliki 6 prinsip 3 diantaranya yaitu

 

 

Pendahuluan: Pola Pikir Bisnis Buat Remit Hukum yang Diperluas

Guna hukum tengah ditata ulang untuk menyinkronkan dengan kepentingan perusahaan digital serta pelanggan mereka. Bisnis serta beberapa penyedia model anyar ada di garda paling depan dalam penyusunan kembali, bukan pembuatan hukum. Perancangan kembali peranan hukum mulai dari perspektif konsumen setia, apa yang dibutuhkan hukum untuk layani kepentingannya dengan lebih bagus?

Buat sampai kepuasan pelanggan di masa digital, fungsi hukum mesti pahami halangan pelanggannya dan jadi bagian dari jalan keluar mereka. Ini perlu hukum buat memungut sudut pandang bisnis untuk memenuhi guna hukum yang diperlebar. Buat layani perusahaan digital serta pelanggan mereka, kegunaan hukum harus beroperasi menjadi pembela perusahaan yang pro-aktif serta didorong oleh data serta bekerjasama dengan unit bisnis lain buat menggerakkan nilai perusahaan. Tapi bagaimana triknya?

Mengeduk lebih banyak dari fungsi hukum diawali dengan budaya serta perjalanan management perubahan. Ini menyertakan kerjasama fungsi hukum dengan dan adaptasi pada sumber daya bisnis yang ada, cara pemecahan persoalan, metrik, proses, tehnologi, dan data. Fokusnya yakni pada bagaimana mereka dapat dipakai, disempurnakan, serta dibagi tidak cuma dalam fungsi hukum tetapi di seluruhnya perusahaan.

 

etika bisnis islam memiliki 6 prinsip 3 diantaranya yaitu

Fungsi hukum tidak bisa kembali didiamkan. Itu harus menjadi bagiab dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya adalah mempertingkat hasil, nilai, dan pengalaman pelanggan. Buat melayani bisnis dengan lebih baik dan bekerjasama dalam penciptaan nilainya, fungsi hukum harus lihai dengan bahasa bisnis, proses, manajemen kemungkinan, analitik data, kecekatan, kecepatan, pemerolehan dan management kemampuan, efek, perebutan, serta service konsumen setia.

Ini jauh dari tugas hukum buat  hasilkan “tugas hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Pengacara dan professional hukum terkait, tidak perduli oleh siapa mereka ditempatkan kerja, mesti memanfaatkan kolaborasi laten hukum serta pemberian pelayanan hukum dalam skala besar. Bagian praktek dan bisnis dari pelayanan hukum memerlukan ketrampilan serta tenaga kerja yang berbeda tetapi memiliki perspektif yang serupa.

Mereka merupakan unsur yang serupa utamanya dari peran hukum yang perlu bekerja dengan lancar, tangkas, dan lancar bukan sekedar dalam peranan hukum namun juga dengan pemangku kepentingan bisnis lainnya di seluruh perusahaan. Integrasi praktek hukum dan bisnis pemberian pelayanan hukum (operasi hukum) meningkatkan efektivitas fungsional hukum. Ini merupakan pilar dasar penciptaan nilai.

Langkah ke-2 dan yang lebih mengubah paradigma diperjalanan perubahan digital peran hukum merupakan penyelarasannya dengan bisnis buat membentuk nilai untuk perusahaan dan konsumennya. Ini mengikutsertakan rekonfigurasi holistik dari peranan, kaitan, dan sistem penghargaan dari kegunaan hukum. Hasilnya adalah membikin kepuasan konsumen.

Di bawah ini adalah cara-cara buat melepas kemampuan laten fungsi hukum untuk berbeda dari rintangan biaya dan rintangan kemungkinan bisnis jadi pusat laba, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan pelanggan.

 

Kegunaan Hukum yang Menanggapi Kebutuhan Bisnis

Peran hukum harus rekayasa balik dianya sendiri dari sudut pandang konsumen, bagaimana dia dapat|bisa memenuhi dan melewati keperluan serta impian pengalaman konsumen. Ini memerlukan restrukturisasi organisasi tanpa kendala dari fungsi hukum yang focus di bagaimana ia bisa mengatur ulang untuk melayani bisnis yang beralih secara digital dan pelanggannya dengan lebih baik.

Tidak ada peta jalan digital legal yang sesuai untuk segalanya, tapi, bagian umum mencakup:

-mengganti banyak service lewat produk yang memasukkan alat bantu mandiri serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membikin alat tehnologi yang sama dengan maksud untuk guna hukum dan memakai alat “hukum” yang ada buat melayani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta menelaah data tak terstruktur yang ada pada peranan hukum buat pemanfaatan perusahaan yang makin luas serta kontributor pada data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa melaksanakan apa” menurut kompetensi yang ditopang data, pengalaman yang sama, biaya,  ketersediaan, serta hasil;

– menentang pola peninggalan hukum serta mengubahnya dengan susunan, bentuk, metrik, proses, serta tenaga kerja anyar yang memberi respon kebuthan serta harapan konsumen setia dengan lebih baik;

– mengenyahkan ketidakcocokan hasil advokat antara jenis pemasok (in-house, firma, firma hukum, dsb.);

– menyediakan tenaga kerja berbasis platform, tangkas, kolaboratif, mulus, serta terpusat di pelanggan yang terdiri dalam beraneka sumber daya;

-memberikan anjuran yang dibantu data

– fokus di penciptaanan nilai buat bisnis serta pelanggannya dan membuat pengalaman konsumen komplet yang unggul;

– lakukan investasi dalam penambahan ketrampilan dan kepelatihan tenaga kerja buat penuhi halangan tersebut.

 

Tentukan Metrik yang Mematuhi Bisnis Serta Dijalankan Olehnya

Peter Drucker mengamati, “Anda tidak dapat mengatur apa yang tidak bisa Anda ukur.” Metrik hukum secara historis jarang serta berkaitan dengan keuntungan, bukan kepuasan pelanggan. Bisnis, terpenting di zaman digital, memiliki sekelompok metrik yang sama sekali tidak serupa yang focus di konsumen.

Bisnis memonitor keringanan akses konsumen, pengantaran tepat waktu, hasil yang sukses, review medsos, skor promotor bersih, serta indeks lain yang menghitung kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini ialah kunci keberlanjutan, skalabilitas, profitabilitas, dan kesetiaan merek di dunia digital.

Bisnis memposisikan nilai tinggi pada penyesuaian hukum dari metriknya. Analisis Transisi Hukum Digital mendapatkan jika 97% informan bisnis menyampaikan mereka mau metrik keberhasilan peran hukum seirama dengan tujuan bisnis. Masa-masa kegunaan hukum mendapat aplaus untuk menyamakan anggarannyanya udah berakhir. Buat memutuskan nilai bagi bisnis, ia harus menyesuaikan dengan metrik yang serupa yang diimplementasikan di manfaat perusahaan lainnya.

 

Manfaatkan Kemampuan Data

Bisnis berjalan dengan data. Fungsi hukum juga harus. Itu tak berarti pembela perkara mesti menambah kajian data selaku kompetensi pokok. Namun, mereka harus bersinergi dengan riset data, teknologi, dan professional hukum berkaitan lainnya dan memberlakukan mereka sebagai mitra yang setingkat. Tim multidisiplin yang mulus, gesit, serta terintegrasi adalah apa yang dibutuhkan untuk penuhi keharusan digital hukum yang diperluas.

Data yakni sumber penciptaan nilai yang luas dan belum diperlukan buat peran hukum. Ia berkekuatan untuk gantikan pertaruhan dan dugaan dengan penglihatan di depan dan pandangan berbasis sains. Data yang relevan adalah informasi yang material buat peramalan yang akurat, identifikasi dampak dini, mitigasi, Efisiensi, penjabaran trick cepat, hasil makin baik, dan pengawalan hasil “kejutan” (semisalnya, efek yang begitu rendah) yakni alat anyar yang kurang difungsikan oleh hukum.

 

etika bisnis islam memiliki 6 prinsip 3 diantaranya yaitu

Data bukan cuma berkekuatan laten untuk memercepat kecepatan, efektivitas, ketepatan, dan kinerja guna hukum, akan tetapi dapat juga mendorong pembuatan nilai perusahaannya. Contoh-contohnya termaksud pelaksanaan data material buat kontrak, litigasi, investigasi serta konflik komersil yang lain, kasus aturan, dan monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data bukan pengganti|alternatif penilaian hukum, itu yakni peningkat. Advokat yang ditopang data berbicara bahasa bisnis serta semakin lebih dapat dipercaya  dibanding yang “berbasis firasat”. Tak ada “data hukum;” ada informasi yang berada dalam fungsi hukum yang dapat dibagi dengan unit bisnis lain buat pecahkan “rintangan hibrida” yang mendorong nilai perusahaan.

Management risiko, kepatuhan, perampingan kontrak untuk menghimpit transisi marketing, dan penghindaran litigasi yaitu beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing siapkan kegunaan hukum dengan potensi yang sangat besar untuk membentuk dan memperlihatkan nilai.

Dari Pusat Ongkos Menjadi Pencipta Nilai

Bisnis secara tradisional memandang hukum menjadi penghalang kemungkinan perusahaan serta pusat ongkos. Itu berganti. C-Suite mengaku kewajiban digital berlaku untuk peran hukum seperti dalam buat unit bisnis yang lain. Tanpa ada adopsinya, hukum tidak bisa penuhi pekerjaannya yang diperluas untuk memiliki fungsi jadi:

1.Pendeteksi awal risiko|efek perusahaan yang pro-aktif, mitigasi risiko, dan pemecah masalah; serta

2.Kolaborator yang aktif dan lincah dengan fungsi bisnis yang lain untuk membikin pemasukan dan kesempatan pasar baru bagi perusahaan dan konsumennya.

Peranan hukum yang memenuhi kewajiban mereka yang diperluas akan menyatakan nilai serta menikmati posisi perusahaan yang lebih tinggi. Lebih kurang tiga perempat (74%) informan bisnis dalam study yang tengah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange menyampaikan penting/paling penting untuk hukum untuk membikin pemasukan dan kesempatan pasar anyar.

Mereka merasa hukum selaku partner sinergis bisnis, bukan selaku departemen tertutup yang cuman berfokus di “tugas hukum”. Hukum mesti memanfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan serta konsumen, keahlian, pengalaman, serta ketangkasannya untuk mengenali serta bekerjasama dengan unit bisnis lain buat mendorong nilai perusahaan yang terarah.

 

Layanan dan Pengalaman Konsumen setia yang Unggul

Service dan pengalaman konsumen setia yang unggul ialah elemen kunci buat perlihatkan serta mempertahankan nilai. Jeff Bezos menyamai hubungan pemasok/konsumen dengan dinamika tuan rumah/tamu; tuan-rumah yang bagus memastikan kalau tamu diterima, diakui, serta jadi perhatian.

Hukum sama dengan guna perusahaan yang lain dalam hal bagaimana dia harus secara konsisten memberinya, memelihara, mempertingkat, dan secara empiris tunjukkan service/pengalaman pelanggan. Daftar check layanan konsumen setia untuk peran hukum meliputi:

-mengadopsi perspektif yang menekankan konsumen dan mengimplementasikannya pada seluruh yang Anda dan rekanan tim Anda kerjakan;

-kemudahan akses ke produk dan service hukum;

-kehandalan, efisiensi, kecepatan, nilai, serta transparansi pengiriman;

-bantuan konsumen setia yang mencakup alat/sumber daya electronic serta swadaya manusia;

-mendapatkan serta lekas menyikapi input pelanggan;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun pertalian serta sudut pandang konsumen setia jangka panjang, bukan sudut pandang transaksi bisnis;

-“membuat betul” juga ketika kekeliruan dibuat;

-memperlakukan konsumen menjadi asset perusahaan;

-beroperasi secara pro-aktif, bukan reaktif;

-mengakui kebolehan social media dan pengokohan pengalaman pelanggan yang positif dan negatif;

-peningkatan  keahlian secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|memberikan dukungan unit bisnis lain buat tingkatkan kepuasan konsumen setia serta pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Simpulan

Fungsi hukum tidak dapat menunjukkan nilainya buat bisnis terkecuali bila searah dengannya. Itu bermakna bekerjasama dengan guna perusahaan lainnya serta fokus pada konsumen setia ialah trik terbaik untuk memperkirakan dan penuhi kepentingan serta harapan mereka yang berubah dengan cepat.

Ini yakni intupokok dari keharusan digital, khayalan ulang dan kombinasi ulang yang ditopang teknologi terkait bagaimana produk serta service lebih ringan dijangkau, bersaing, transparan, stabil, dan  dikatakan dengan membahagiakan terhadap konsumen. Peran hukum dapat dan mesti memainkan andil penting dalam alih bentuk utuh dari dinamika penyuplai/konsumen setia ini.

Menghilangkan pola pikir “pembela perkara dan ‘non-pengacara'” adalah langkah awal yang bagus.

etika bisnis islam memiliki 6 prinsip 3 diantaranya yaitu

Semoga materi etika bisnis islam memiliki 6 prinsip 3 diantaranya yaitu bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *