etika bisnis konvensional versus islam

etika bisnis konvensional versus islam

Bagaimana Guna Hukum Tunjukkan Nilai Buat Sebuah Bisnis?

etika bisnis konvensional versus islam

Bagian pertama dari seri dua bagian ini membahas mengapa manfaat hukum alami kesusahan memperlihatkan nilainya untuk bisnis. Bagian ini menawarkan bagaimana hal demikian bisa berlangsung. Artikel kali ini membahas tentang

etika bisnis konvensional versus islam

Pengacara yakni kendala terbesar manfaat hukum untuk membuktikan nilai bisnis. Sebagian besar pintar, fokus, rajin, analitis, serta fokus pada arah yakni sifat tenaga kerja yang diingini . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pendidikan, indoktrinasi, susunan, serta keangkuhan.

Budaya hukum merupakan terkait pengacara, bukan pelanggan. Itu bukan permulaan di zaman perubahan digital di mana segalanya diarahkan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

 etika bisnis konvensional versus islam

 

 

Pendahuluan: Skema Pikir Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperlebar

Peran hukum sedang ditata ulang buat menyinkronkan dengan kepentingan perusahaan digital serta konsumen mereka. Bisnis serta beberapa penyedia model baru ada di dalam garda paling depan dalam penyusunan kembali, bukan penciptaan hukum. Perancangan ulang peran hukum diawali dari perspektif konsumen setia, apa yang diperlukan hukum buat melayani keperluannya dengan lebih baik?

Untuk sampai kepuasan pelanggan di masa digital, peranan hukum mesti memahami rintangan konsumen setianya serta jadi sisi dari pemecahan mereka. Ini membutuhkan hukum untuk adopsi sudut pandang bisnis untuk penuhi manfaat hukum yang diperluas. Buat melayani perusahaan digital serta konsumen setia mereka, guna hukum mesti bekerja selaku pembela perusahaan yang pro-aktif dan didorong oleh data dan berkolaborasi dengan unit bisnis lain buat mendorong nilai perusahaan. Namun bagaimana metodenya?

Mengeruk bertambah banyak dari guna hukum dimulai dengan budaya dan perjalanan manajemen perubahan. Ini mengikutsertakan kombinasi guna hukum dengan dan penyesuaian kepada sumber daya bisnis yang ada, metoda pemecahan problem, metrik, proses, teknologi, serta data. Fokusnya yaitu di bagaimana mereka bisa dipakai, diperbarui, serta dibagi bukan hanya dalam manfaat hukum tetapi di seluruhnya perusahaan.

 

etika bisnis konvensional versus islam

Guna hukum tidak bisa kembali didiamkan. Itu mesti jadi bagiab dari perjalanan digital perusahaan yang misinya yakni menaikkan hasil, nilai, dan pengalaman konsumen setia. Untuk melayani bisnis dengan lebih baik dan bersinergi dalam pembuatan nilainya, fungsi hukum mesti mengusai dengan bahasa bisnis, proses, management dampak, analitik data, kelincahan, kecepatan, pemerolehan dan manajemen bakat, dampak, persaingan, dan service pelanggan.

Ini jauh dari tugas hukum untuk  mendatangkan “pekerjaan hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Pengacara serta profesional hukum terkait, tidak peduli oleh siapa mereka diperkerjakan, harus menggunakan kerjasama laten praktek hukum dan pemberian service hukum dalam jumlah besar. Elemen praktik serta bisnis dari pelayanan hukum membutuhkan keterampilan dan tenaga kerja yang tidak sama tapi punyai pola pikir yang sama.

Mereka merupakan unsur yang sama utamanya dari peranan hukum yang penting beroperasi dengan lancar, lincah, serta lancar tidak hanya dalam manfaat hukum namun juga dengan pemangku kepentingan bisnis yang lain di semua perusahaan. Integrasi praktek hukum serta bisnis pemberian layanan hukum (operasi hukum) tingkatkan efisiensi fungsional hukum. Ini ialah pilar dasar penciptaan nilai.

Cara kedua serta yang lebih mengubah pola dlam perjalanan transformasi digital guna hukum yaitu penyelarasannya dengan bisnis untuk menciptakan nilai bagi perusahaan dan konsumen setianya. Ini sertakan rekonfigurasi holistik dari peran, kaitan, dan struktur penghargaan dari peran hukum. Hasilnya merupakan menciptakan kepuasan konsumen setia.

Di bawah ini adalah cara-cara untuk melepas potensi laten peranan hukum buat berubah dari kendala anggaran serta kendala peluang bisnis jadi pusat untung, kolaborator nilai perusahaan, serta kepuasan konsumen.

 

Manfaat Hukum yang Menyikapi Kepentingan Bisnis

Guna hukum mesti memanipulasi balik dirinya dari sudut pandang konsumen, bagaimana dia dapat|bisa memenuhi dan melewati kepentingan serta harapan pengalaman konsumen. Ini butuh restrukturisasi organisasi tanpa ada kendala dari peranan hukum yang berfokus di bagaimana dia bisa mengendalikan ulang untuk layani bisnis yang berganti secara digital dan konsumennya dengan lebih baik.

Tidak ada peta jalan digital legal yang pas untuk seluruhnya, namun,tetapi, elemen umum mencakup:

-mengganti banyak pelayanan dengan produk yang mengikutsertakan alat bantu berdikari dan jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membikin alat technologi yang sama dengan maksud buat peranan hukum dan manfaatkan alat “hukum” yang ada buat melayani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta menganalisa data tak terancang yang ada di dalam peranan hukum untuk penggunaan perusahaan yang lebih luas serta kontribusi pada data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa lakukan apa” berdasar pada kompetensi yang disokong data, pengalaman yang berkaitan, ongkos,  ketersediaan, serta hasil;

– menentang paradigma peninggalan hukum serta menukarnya dengan susunan, mode, metrik, proses, dan tenaga kerja baru yang menanggapi keperluan dan impian konsumen setia dengan lebih baik;

– menyingkirkan ketidakcocokan buatan pengacara antara macam pemasok (in-house, firma, firma hukum, dan seterusnya.);

– siapkan tenaga kerja berbasis platform, tangkas, kolaboratif, mulus, dan berpusat pada konsumen yang terdiri dalam beraneka sumber daya;

-memberikan saran yang ditopang data

– fokus di pembuatan nilai untuk bisnis dan konsumen setianya dan membikin pengalaman pelanggan utuh yang unggul;

– berinvestasi dalam penambahan keterampilan dan training tenaga kerja untuk memenuhi tantangan tersebut.

 

Tentukan Metrik yang Menaati Bisnis Dan Dijalankan Olehnya

Peter Drucker mengamati, “Anda tidak dapat mengelola apa yang tidak bisa Anda ukur.” Metrik hukum secara sejarah jarang dan terkait dengan profitabilitas, bukan kepuasan konsumen setia. Bisnis, terutama di era digital, punyai rangkaian metrik yang sama sekali tidak sama yang fokus di konsumen setia.

Bisnis memonitor kelapangan akses konsumen, pengiriman on-time, hasil yang sukses, review social media, nilai promotor bersih, serta index lain yang menghitung kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini yakni kunci kelanjutan, skalabilitas, profitabilitas, serta kesetiaan brand di dunia digital.

Bisnis memposisikan nilai tinggi di penyesuaian hukum dari metriknya. Kajian Perputaran Hukum Digital mendapatkan kalau 97% informan bisnis mengucapkan mereka pengin metrik sukses guna hukum sesuai dengan arah bisnis. Saat-saatSaat peranan hukum mendapati pujian untuk menyamakan biayanya telah berakhir. Untuk memutuskan nilai untuk bisnis, ia mesti menyesuaikan dengan metrik yang serupa yang diimplikasikan pada kegunaan perusahaan yang lain.

 

Menggunakan Kemampuan Data

Bisnis berjalan dengan data. Peranan hukum juga harus. Itu bukan berarti advokat mesti menambah studi data selaku kapabilitas pokok. Namun, mereka mesti bekerjasama dengan riset data, teknologi, serta profesional hukum terkait yang lain serta memperlakukan mereka selaku mitra yang selevel. Team multidisiplin yang mulus, tangkas, serta terintegrasi merupakan apa yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data adalah sumber penciptaan nilai yang luas dan belum difungsikan untuk peranan hukum. Dia memiliki kekuatan untuk gantikan spekulasi dan pendapat dengan penglihatan ke depan dan wacana berbasis sains. Data yang sama ialah informasi yang material buat peramalan yang akurat, diagnosa risiko awal, mitigasi, efektivitas, penyimpulan siasat cepat, hasil semakin baik, serta penghambatan hasil “kejutan” (contohnya, risiko yang sangat rendah) ialah alat anyar yang kurang digunakan oleh hukum.

 

etika bisnis konvensional versus islam

Data tidak sekedar memiliki kekuatan laten buat memercepat kecepatan, efisiensi, ketepatan, dan kapasitas guna hukum, tetapi juga dapat memajukan penciptaan nilai perusahaannya. Contohnya termaksud penerapan data material buat kontrak, litigasi, pengusutan serta perselisihan komersial yang lain, perkara ketentuan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data bukanlah pengganti|alternatif penilaian hukum, itu adalah penambah. Pembela perkara yang disokong data bercakap bahasa bisnis serta lebih kredibel  dibanding yang “berbasiskan firasat”. Tidak ada “data hukum;” ada info yang ada dalam guna hukum yang dapat diberikan dengan unit bisnis lain untuk memecahkan “kendala hibrida” yang menggerakkan nilai perusahaan.

Management dampak, kepatuhan, perampingan kontrak buat tekan perputaran penjualan, dan penghindaran litigasi merupakan di antara dari sejumlah contoh. Masing-masing siapkan peran hukum dengan potensi yang sangat besar buat menciptakan serta tunjukkan nilai.

Dari Pusat Cost Jadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisionil merasa hukum menjadi penghambat peluang perusahaan serta pusat ongkos. Itu berubah. C-Suite mengakui kewajiban digital berlaku buat peran hukum seperti untuk unit bisnis yang lain. Tanpa ada adopsinya, hukum tidak dapat memenuhi pekerjaannya yang diperlebar untuk berfungsi menjadi:

1.Pendeteksi awal risiko|kemungkinan perusahaan yang proaktif, mitigasi efek, dan pemecah masalah; serta

2.Kolaborator yang aktif dan lincah dengan fungsi bisnis lainnya buat membentuk penerimaan serta kesempatan pasar anyar bagi perusahaan serta konsumennya.

Guna hukum yang penuhi keharusan mereka yang diperluas dapat membuktikan nilai serta nikmati kedudukan perusahaan yang makin tinggi. Lebih kurang tiga perempat (74%) informan bisnis dalam studi yang sudah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange mengucapkan penting/penting untuk hukum buat membentuk penghasilan dan kemungkinan pasar anyar.

Mereka merasa hukum menjadi mitra sinergis bisnis, bukan jadi departemen tertutup yang hanya focus di “tugas hukum”. Hukum mesti menggunakan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan serta konsumen setia, keterampilan, pengalaman, serta kelincahannya untuk mengenali serta bekerjasama dengan unit bisnis lain untuk menggerakkan nilai perusahaan yang terukur.

 

Service serta Pengalaman Konsumen setia yang Unggul

Service serta pengalaman konsumen setia yang unggul adalah komponen kunci buat membuktikan serta menjaga nilai. Jeff Bezos menyamai interaksi penyedia/konsumen dengan dinamika tuan rumah/tamu; tuan rumah yang bagus menegaskan kalau tamu diterima, dihormati, serta jadi perhatian.

Hukum persis dengan peranan perusahaan yang lain dalam soal bagaimana ia mesti secara stabil memberi, memelihara, menaikkan, serta secara empiris tunjukkan service/pengalaman konsumen. Daftar check service konsumen setia untuk manfaat hukum mencakup:

-mengadopsi sudut pandang yang mengedepankan pelanggan serta menempatkannya di seluruh yang Anda serta kawan team Anda kerjakan;

-kemudahan akses ke produk serta service hukum;

-kehandalan, efisiensi, kecepatan, nilai, dan transparan pengiriman;

-bantuan pelanggan yang meliputi alat/sumber daya electronic dan swadaya manusia;

-mendapatkan serta selekasnya menyikapi masukan konsumen;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun hubungan dan perspektif konsumen setia waktu panjang, bukan perspektif transaksional

-“membuat betul” bahkan juga ketika kekeliruan dibuat;

-memperlakukan konsumen jadi asset perusahaan;

-beroperasi secara pro-aktif, bukan reaktif;

-mengakui kapabilitas media sosial dan pengukuhan pengalaman konsumen setia yang positif serta negatif;

-peningkatan  ketrampilan secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|menyuport unit bisnis lain buat menaikkan kepuasan konsumen setia serta pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Simpulan

Kegunaan hukum tidak dapat perlihatkan nilainya untuk bisnis terkecuali bila searah dengannya. Itu bermakna bermitra dengan kegunaan perusahaan yang lain dan focus di konsumen setia adalah trik terbaik untuk memperhitungkan serta penuhi kepentingan serta keinginan mereka yang berubah dalam waktu cepat.

Ini adalah intupokok dari kewajiban digital, khayalan ulang serta komposisi ulang yang disokong technologi terkait bagaimana produk dan pelayanan lebih mudah dicapai, bersaing, terbuka, konsisten, serta  diungkapkan dengan membahagiakan pada pelanggan. Manfaat hukum dapat serta harus mainkan andil penting dalam transformasi menyeluruh dari dinamika penyedia/pelanggan ini.

Menghilangkan perspektif “advokat dan ‘non-pengacara'” ialah pertama-pertama yang bagus.

etika bisnis konvensional versus islam

Semoga materi etika bisnis konvensional versus islam bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *