etika bisnis menjadi fenomena global 1990

etika bisnis menjadi fenomena global 1990

Bagaimana Guna Hukum Menunjukkan Nilai Bagi Sebuah Bisnis?

etika bisnis menjadi fenomena global 1990

Bagian pertama dari seri dua sisi ini mengupas kenapa peranan hukum merasakan persoalan tunjukkan nilainya buat bisnis. Segnen ini menjajakan bagaimana hal itu bisa terjadi. Artikel kali ini membahas tentang

etika bisnis menjadi fenomena global 1990

Pengacara adalah rintangan paling besar kegunaan hukum buat menunjukkan nilai bisnis. Sebagian besar cerdik, fokus, rajin, analisa, dan mengarah di tujuan yakni pembawaan tenaga kerja yang dibutuhkan . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, struktur, dan keangkuhan.

Budaya hukum yaitu tentang advokat, bukan konsumen. Itu bukan permulaan di era perubahan digital di mana seluruhnya disasarkan untuk mempertingkat pengalaman pelanggan.

 etika bisnis menjadi fenomena global 1990

 

 

Pendahuluan: Pola Pikirkan Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperluas

Kegunaan hukum sedang dirapikan ulang buat menyesuaikan dengan kepentingan perusahaan digital dan konsumen setia mereka. Bisnis dan beberapa penyedia bentuk baru ada dalam garda terdepan dalam penyusunan kembali, bukan pembuatan hukum. Perancangan ulang peran hukum diawali dari sudut pandang pelanggan, apa yang diperlukan hukum untuk layani kepentingannya dengan lebih bagus?

Buat gapai kepuasan konsumen setia di waktu digital, peranan hukum mesti mendalami kendala konsumennya serta jadi bagian dari pemecahan mereka. Ini butuh hukum untuk mengadopsi perspektif bisnis buat penuhi kegunaan hukum yang diperluas. Untuk melayani perusahaan digital dan pelanggan mereka, peranan hukum harus beroperasi menjadi pembela perusahaan yang pro-aktif serta didorong oleh data dan berkolaborasi dengan unit bisnis lain untuk mendorong nilai perusahaan. Tapi bagaimana triknya?

Mengeduk bertambah banyak dari peranan hukum dimulai dengan budaya serta perjalanan management perubahan. Ini sertakan paduan guna hukum dengan serta penyesuaian terhadap sumber daya bisnis yang ada, metoda pemecahan soal, metrik, proses, teknologi, serta data. Konsentrasinya merupakan di bagaimana mereka dapat digunakan, diperbaharui, serta dibagi bukan hanya dalam kegunaan hukum tetapi di seluruhnya perusahaan.

 

etika bisnis menjadi fenomena global 1990

Peranan hukum tak dapat lagi didiamkan. Itu harus jadi bagiab dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya adalah menaikkan hasil, nilai, serta pengalaman konsumen setia. Buat melayani bisnis dengan lebih bagus serta bersinergi dalam penciptaan nilainya, peran hukum mesti terampil dengan bahasa bisnis, proses, manajemen efek, analitik data, kelincahan, kecepatan, perolehan serta management kapabilitas, efek, persaingan, serta service konsumen setia.

Ini jauh dari tugas hukum buat  mendatangkan “pekerjaan hukum yang sangat baik” yang diproklamirkan sendiri. Pengacara dan profesional hukum berkaitan, tidak perduli oleh siapa mereka ditempatkan kerja, mesti memanfaatkan kerjasama laten layanan hukum dan pemberian service hukum dalam skala besar. Bagian praktik dan bisnis dari pelayanan hukum membutuhkan keahlian dan tenaga kerja yang lain namun mempunyai sudut pandang yang serupa.

Mereka ialah bagian yang sama utamanya dari guna hukum yang harus beroperasi secara lancar, lincah, dan lancar bukan sekedar dalam peran hukum tetapi juga dengan pemangku kepentingan bisnis lainnya di seluruh perusahaan. Integratif praktik hukum dan bisnis pemberian pelayanan hukum (operasi hukum) meningkatkan efisiensi fungsional hukum. Ini yaitu pilar dasar penciptaan nilai.

Cara kedua dan yang lebih mengganti pola dlam perjalanan perubahan digital manfaat hukum adalah penyelarasannya dengan bisnis untuk menciptakan nilai bagi perusahaan serta konsumen setianya. Ini mengikutsertakan rekonfigurasi holistik dari andil, relevansi, dan struktur penghargaan dari peran hukum. Hasil akhirnya merupakan membikin kepuasan konsumen setia.

Di bawah adalah cara-cara untuk melepaskan kapasitas laten peranan hukum untuk beralih dari kendala budget dan hambatan peluang bisnis jadi pusat keuntungan, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan konsumen.

 

Manfaat Hukum yang Menanggapi Kepentingan Bisnis

Manfaat hukum mesti memanipulasi balik dianya dari perspektif konsumen, bagaimana dia dapat|bisa penuhi serta melampaui kepentingan dan impian pengalaman pelanggan. Ini butuh restrukturisasi organisasi tanpa rintangan dari kegunaan hukum yang focus pada bagaimana dia bisa mengendalikan ulang untuk layani bisnis yang berbeda secara digital serta konsumennya dengan lebih bagus.

Tidak ada peta jalan digital legal yang cocok untuk semua, namun,tetapi, unsur umum mencakup:

-mengganti banyak layanan dengan produk yang sertakan alat bantu mandiri serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membuat alat technologi yang sesuai tujuan untuk kegunaan hukum dan memanfaatkan alat “hukum” yang ada untuk melayani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta mempelajari data tak terstruktur yang ada di dalam manfaat hukum untuk penggunaan perusahaan yang bertambah luas dan kontributor di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa kerjakan apa” berdasarkan kapabilitas yang ditunjang data, pengalaman yang sama, cost,  terdapatnya, dan hasil;

– menentang paradigma warisan hukum dan mengubahnya dengan susunan, mode, metrik, proses, dan tenaga kerja baru yang menanggapi kebuthan dan angan-angan konsumen setia lebih baik;

– menyingkirkan ketidakcocokan produksi pengacara di antara type penyedia (in-house, firma, firma hukum, dan sebagainya.);

– sediakan tenaga kerja berbasis platform, gesit, kolaboratif, mulus, dan berpusat pada pelanggan yang terbagi dalam banyak sumber daya;

-memberikan arahan yang disokong data

– berfokus pada pembuatan nilai buat bisnis dan konsumennya dan menciptakan pengalaman konsumen komplet yang unggul;

– berinvestasi dalam penambahan ketrampilan serta training tenaga kerja buat penuhi rintangan tersebut.

 

Tetapkan Metrik yang Taati Bisnis Dan Dijalankan Olehnya

Peter Drucker mencermati, “Anda tidak bisa mengatur apa yang tidak dapat Anda ukur.” Metrik hukum secara historis jarang-jarang serta berkaitan dengan keuntungan, bukan kepuasan konsumen setia. Bisnis, terpenting di zaman digital, miliki rangkaian metrik yang sama sekali tidak sama yang focus pada konsumen.

Bisnis memantau keringanan akses konsumen, pengiriman tepat waktu, hasil yang sukses, penjelasan media sosial, nilai promotor bersih, dan index yang lain menghitung kepuasan/pengalaman konsumen. Ini yakni kunci keberlanjutan, skalabilitas, keuntungan, dan komitmen brand di dunia digital.

Bisnis memposisikan nilai tinggi di adaptasi hukum dari metriknya. Analisis Transisi Hukum Digital menemukan jika 97% responden bisnis menyampaikan mereka ingin metrik sukses fungsi hukum sesuai dengan tujuan bisnis. Saat-saatSaat kegunaan hukum mendapati aplaus buat menyeimbangkan bujetnya sudah berlalu. Untuk menentukan nilai untuk bisnis, dia harus menyesuaikan dengan metrik yang serupa yang diaplikasikan di peranan perusahaan yang lain.

 

Memakai Kebolehan Data

Bisnis berjalan dengan data. Peranan hukum harus juga. Itu bukan berarti pengacara harus menambah analisis data jadi kompetensi pokok. Tetapi, mereka harus bersinergi dengan riset data, technologi, serta professional hukum berkaitan yang lain dan perlakukan mereka selaku partner yang setara. Team multidisiplin yang mulus, tangkas, serta terpadu merupakan apa yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data yakni sumber pembuatan nilai yang luas dan belum diperlukan buat peran hukum. Dia miliki kekuatan untuk menukar perkiraan serta perkiraan dengan penglihatan di depan dan wacana berbasis sains. Data yang berkaitan yakni data yang material untuk peramalan yang presisi, diagnosa kemungkinan dini, mitigasi, efektivitas, penyimpulan siasat cepat, hasil lebih baik, serta penghambatan hasil “kejutan” (contohnya, kemungkinan yang terlampau rendah) yakni alat anyar yang kurang difungsikan oleh hukum.

 

etika bisnis menjadi fenomena global 1990

Data bukan sekedar memiliki kekuatan laten buat mempercepat kecepatan, efisiensi, ketepatan, serta kinerja kegunaan hukum, namun juga bisa mendorong penciptaan nilai perusahaannya. Contohnya termasuk implementasi data material buat kontrak, litigasi, interograsi serta perselisihan komersial yang lain, soal aturan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data bukanlah pengganti|alternatif penilaian hukum, itu merupakan penambah. Advokat yang didukung data berkata bahasa bisnis dan jauh makin valid  dibanding yang “berbasiskan firasat”. Tidak ada “data hukum;” ada data yang berada dalam fungsi hukum yang bisa dibagikan dengan unit bisnis lain buat pecahkan “hambatan hibrida” yang mendorong nilai perusahaan.

Management risiko, kepatuhan, perampingan kontrak untuk menekan siklus marketing, serta penghindaran litigasi yakni di antara dari sejumlah contoh. Masing-masing siapkan kegunaan hukum dengan kemampuan yang begitu besar buat menciptakan serta membuktikan nilai.

Dari Pusat Cost Jadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisionil menganggap hukum menjadi penghalang kesempatan perusahaan serta pusat ongkos. Itu berubah. C-Suite mengakui kewajiban digital berlaku untuk fungsi hukum seperti pada untuk unit bisnis yang lain. Tanpa adopsinya, hukum tidak dapat penuhi pekerjaannya yang diperluas untuk berfungsi menjadi:

1.Pendeteksi dini risiko|resiko perusahaan yang pro-aktif, mitigasi efek, serta pemecah masalah; serta

2.Kolaborator yang aktif serta gesit dengan kegunaan bisnis yang lain untuk membentuk penerimaan serta kemungkinan pasar baru buat perusahaan serta pelangganya.

Peranan hukum yang penuhi kewajiban mereka yang diperluas dapat menunjukkan nilai dan menikmati kedudukan perusahaan yang makin tinggi. Kira-kira tiga perempat (74%) informan bisnis dalam study yang sudah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange mengucapkan penting/paling penting bagi hukum untuk menciptakan penerimaan serta kesempatan pasar baru.

Mereka merasa hukum sebagai mitra sinergis bisnis, bukan selaku departemen tertutup yang hanya fokus pada “pekerjaan hukum”. Hukum mesti memanfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan serta pelanggan, keterampilan, pengalaman, serta kegesitannya untuk mengidentifikasi dan bersinergi dengan unit bisnis lain untuk memajukan nilai perusahaan yang terarah.

 

Layanan serta Pengalaman Konsumen setia yang Unggul

Layanan serta pengalaman pelanggan yang unggul ialah elemen kunci untuk membuktikan dan mempertahankan nilai. Jeff Bezos menyamakan hubungan penyedia/konsumen dengan dinamika tuan-rumah/tamu; tuan-rumah yang baik menegaskan kalau tamu diterima, diakui, serta menjadi perhatian.

Hukum tidak berbeda dengan peran perusahaan lainnya dalam hal bagaimana dia mesti secara stabil memberinya, memelihara, mempertingkat, serta secara empiris tunjukkan pelayanan/pengalaman konsumen setia. Daftar cek pelayanan pelanggan untuk peran hukum mencakup:

-mengadopsi pola pikir yang menekankan konsumen setia dan menempatkannya pada pada semua yang Anda dan kawan team Anda kerjakan;

-kemudahan akses ke produk serta pelayanan hukum;

-kehandalan, efektivitas, kecepatan, nilai, dan transparan pengangkutan;

-bantuan pelanggan yang termasuk alat/sumber daya elektronik dan swadaya manusia;

-mendapatkan serta lekas menyikapi masukan konsumen;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun pertalian dan perspektif konsumen jangka panjang, bukan sudut pandang transaksional

-“membuatnya betul” sampai waktu kesalahan dibuat;

-memperlakukan pelanggan sebagai asset perusahaan;

-beroperasi secara proaktif, bukan reaktif;

-mengakui kekuatan media sosial serta pemantapan pengalaman konsumen setia yang positif dan negatif;

-peningkatan  keahlian secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|memberikan dukungan unit bisnis lain buat menambah kepuasan pelanggan dan pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Ringkasan

Peranan hukum tidak dapat tunjukkan nilainya buat bisnis terkecuali kalau sejalan dengannya. Itu bermakna berelasi dengan fungsi perusahaan yang lain dan fokus di konsumen setia ialah cara terpilih untuk memprediksi dan penuhi kepentingan serta keinginan mereka yang beralih dalam sekejap.

Ini adalah intupokok dari keharusan digital, khayalan ulang dan komposisi ulang yang ditopang teknologi mengenai bagaimana produk dan service lebih mudah dicapai, kompetitif, transparan, konstan, serta  disampaikan dengan menyenangkan pada konsumen. Peranan hukum dapat serta mesti memainkan peran penting dalam alih bentuk lengkap dari dinamika penyedia/konsumen setia ini.

Menghilangkan sudut pandang “advokat dan ‘non-pengacara'” adalah pertama-pertama yang baik.

etika bisnis menjadi fenomena global 1990

Semoga materi etika bisnis menjadi fenomena global 1990 bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *