etika bisnis menurut richard de george

etika bisnis menurut richard de george

Bagaimana Guna Hukum Membuktikan Nilai Untuk Sebuah Bisnis?

etika bisnis menurut richard de george

Bagian pertama dari seri dua sisi ini mengupas kenapa peranan hukum mengenyam kesulitan membuktikan nilainya buat bisnis. Fragmen ini tawarkan bagaimana hal itu dapat terjadi. Artikel kali ini membahas tentang

etika bisnis menurut richard de george

Pembela perkara adalah rintangan terbesar manfaat hukum buat memperlihatkan nilai bisnis. Sebagian besar pintar, konsentrasi, rajin, analisis, serta bertujuan di arah ialah sifat tenaga kerja yang dibutuhkan . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pendidikan, indoktrinasi, struktur, dan keangkuhan.

Budaya hukum merupakan perihal advokat, bukan konsumen setia. Itu bukan permulaan di waktu transformasi digital di mana seluruhnya ditujukan buat mempertingkat pengalaman konsumen.

 etika bisnis menurut richard de george

 

 

Pendahuluan: Pola Pikir Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperluas

Peran hukum sedang ditata ulang buat menyesuaikan dengan kebutuhan perusahaan digital dan pelanggan mereka. Bisnis dan beberapa pemasok style anyar ada dalam garda terdepan dalam penataan kembali, bukan pembuatan hukum. Perancangan kembali guna hukum mulai dari perspektif konsumen setia, apa yang dibutuhkan hukum buat layani keperluannya dengan lebih bagus?

Buat capai kepuasan pelanggan di zaman digital, guna hukum mesti menyadari halangan pelanggannya serta menjadi sisi dari jalan keluar mereka. Ini membutuhkan hukum untuk memungut pola pikir bisnis untuk memenuhi peran hukum yang diperlebar. Buat melayani perusahaan digital dan konsumen mereka, peran hukum mesti bekerja jadi pembela perusahaan yang proaktif dan didorong oleh data dan berkolaborasi dengan unit bisnis lain untuk menggerakkan nilai perusahaan. Tetapi bagaimana triknya?

Mengeruk semakin banyak dari kegunaan hukum mulai dengan budaya dan perjalanan manajemen peralihan. Ini menyertakan sinergi fungsi hukum dengan dan penyesuaian kepada sumber daya bisnis yang ada, sistem pemecahan perkara, metrik, proses, tehnologi, dan data. Konsentrasinya merupakan pada bagaimana mereka dapat dipakai, diperbarui, serta dibagikannya tidak hanya dalam peranan hukum tetapi di seluruhnya perusahaan.

 

etika bisnis menurut richard de george

Peranan hukum tak dapat lagi didiamkan. Itu mesti menjadi bagiab dari perjalanan digital perusahaan yang misinya adalah menaikkan hasil, nilai, serta pengalaman konsumen setia. Buat melayani bisnis dengan lebih baik dan bersinergi dalam pembuatan nilainya, guna hukum harus lihai ke bahasa bisnis, proses, manajemen dampak, analitik data, kelincahan, kecepatan, perolehan serta management kemampuan, dampak, pertarungan, dan pelayanan konsumen setia.

Ini jauh dari pekerjaan hukum buat  menghasilkan “tugas hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Lawyer serta profesional hukum berkaitan, tak perduli oleh siapa mereka diperbantukan, harus memakai kolaborasi laten praktek hukum dan pemberian pelayanan hukum dalam skala besar. Elemen praktik dan bisnis dari layanan hukum membutuhkan keterampilan serta tenaga kerja yang beda namun miliki pola pikir yang serupa.

Mereka yakni elemen yang sama keutamaan dari peran hukum yang penting beroperasi secara lancar, lincah, dan lancar bukan hanya dalam fungsi hukum namun juga dengan penopang keperluan bisnis lainnya di seluruh perusahaan. Integratif praktek hukum serta bisnis pemberian pelayanan hukum (operasi hukum) meningkatkan efektivitas fungsional hukum. Ini yaitu pilar dasar pembuatan nilai.

Langkah kedua serta yang lebih mengganti pola dlam perjalanan perubahan digital manfaat hukum adalah penyelarasannya dengan bisnis buat membikin nilai buat perusahaan serta konsumen setianya. Ini sertakan rekonfigurasi holistik dari peranan, kaitan, serta mekanisme penghargaan dari kegunaan hukum. Hasil akhir yakni menciptakan kepuasan konsumen setia.

Berikut beberapa cara buat membebaskan kapasitas laten manfaat hukum untuk berbeda dari rintangan anggaran serta kendala kesempatan bisnis menjadi pusat keuntungan, kolaborator nilai perusahaan, serta kepuasan konsumen setia.

 

Peran Hukum yang Menyikapi Keperluan Bisnis

Fungsi hukum mesti memanipulasi balik dirinya sendiri dari sudut pandang pelanggan, bagaimana ia dapat|bisa memenuhi dan melampaui kepentingan dan keinginan pengalaman konsumen setia. Ini perlu restrukturisasi organisasi tanpa ada hambatan dari peranan hukum yang fokus di bagaimana ia dapat mengontrol ulang untuk melayani bisnis yang berbeda secara digital serta konsumen setianya dengan lebih bagus.

Tak ada peta jalan digital legal yang pas untuk semua, namun,tetapi, komponen umum meliputi:

-mengganti banyak service dengan produk yang mengikutsertakan alat bantu berdikari serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan buat bikin alat teknologi yang sesuai sama arah buat manfaat hukum dan memakai alat “hukum” yang ada untuk melayani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang dan menelaah data tak terancang yang ada di dalam manfaat hukum buat penggunaan perusahaan yang bertambah luas serta kontributor di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa melaksanakan apa” berdasar kapabilitas yang ditunjang data, pengalaman yang sama, ongkos,  ketersediaan, dan hasil;

– melawan pola peninggalan hukum dan mengubahnya dengan susunan, mode, metrik, proses, serta tenaga kerja anyar yang menanggapi keperluan serta asa konsumen lebih baik;

– menghalau ketaksamaan bikinan pembela perkara antara model penyuplai (in-house, firma, firma hukum, dan sebagainya.);

– siapkan tenaga kerja berbasiskan platform, lincah, kolaboratif, mulus, serta berpusat di konsumen yang terdiri dalam bermacam sumber daya;

-memberikan nasehat yang disokong data

– focus di penciptaanan nilai buat bisnis dan konsumennya dan membikin pengalaman konsumen setia lengkap yang unggul;

– lakukan investasi dalam penambahan keahlian serta kursus tenaga kerja buat memenuhi hambatan itu.

 

Pastikan Metrik yang Mematuhi Bisnis Dan Dijalankan Olehnya

Peter Drucker mengawasi, “Anda tidak bisa mengatur apa yang tidak dapat Anda ukur.” Metrik hukum secara monumental jarang dan terkait dengan profitabilitas, bukan kepuasan pelanggan. Bisnis, khususnya di era digital, mempunyai rangkaian metrik yang serupa sekali tidak serupa yang berfokus di pelanggan.

Bisnis memantau keringanan akses konsumen setia, pengiriman on time, hasil yang sukses, pembahasan social media, nilai promotor bersih, dan indek lain yang menghitung kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini yaitu kunci kesinambungan, skalabilitas, profitabilitas, serta loyalitas merk di dunia digital.

Bisnis meletakkan nilai tinggi pada penyesuaian hukum dari metriknya. Analisis Peralihan Hukum Digital mendapati bahwa 97% responden bisnis menyampaikan mereka mau metrik keberhasilan peranan hukum seirama dengan arah bisnis. Masa-masa kegunaan hukum mendapatkanmemperoleh aplaus untuk menyeimbangkan bujetnya telah berlalu. Buat memastikan nilai buat bisnis, ia mesti menyesuaikan dengan metrik yang serupa yang diterapkan pada fungsi perusahaan lainnya.

 

Menggunakan Kemampuan Data

Bisnis berjalan dengan data. Kegunaan hukum mesti. Itu tak berarti advokat mesti menambahkan kajian data jadi kompetensi inti. Tetapi, mereka harus bersinergi dengan studi data, technologi, dan profesional hukum terkait yang lain serta perlakukan mereka selaku partner yang setara. Team multidisiplin yang mulus, gesit, dan terintegrasi adalah apa yang dibutuhkan buat memenuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data yakni sumber penciptaan nilai yang luas serta belum difungsikan buat manfaat hukum. Dia miliki kekuatan buat gantikan prediksi dan pendapat dengan penglihatan di depan serta wawasan berbasis sains. Data yang sama adalah informasi yang material untuk peramalan yang presisi, deteksi kemungkinan dini, mitigasi, efektivitas, perumusan strategi cepat, hasil makin baik, dan penangkalan hasil “kejutan” (contohnya, risiko yang begitu rendah) yaitu alat baru yang kurang dipakai oleh hukum.

 

etika bisnis menurut richard de george

Data bukan sekedar berkekuatan laten untuk mempercepat kecepatan, efisiensi, ketepatan, dan kemampuan fungsi hukum, akan tetapi dapat pula memajukan pembuatan nilai perusahaannya. Misalnya termasuk implementasi data material buat kontrak, litigasi, investigasi dan perseteruan komersial lainnya, masalah aturan, dan monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data tidaklah pengganti|substitusi penilaian hukum, itu yaitu penambah. Pengacara yang ditopang data berkata bahasa bisnis serta semakin kredibel  dibanding yang “berbasiskan firasat”. Tak ada “data hukum;” ada informasi yang berada dalam peranan hukum yang bisa diberikan dengan unit bisnis lain untuk memecahkan “halangan hibrida” yang memajukan nilai perusahaan.

Manajemen risiko, kepatuhan, perampingan kontrak buat mendesak siklus penjualan, dan penghindaran litigasi adalah di antara dari sejumlah contoh. Masing-masing siapkan fungsi hukum dengan kemampuan yang besar sekali untuk membuat serta perlihatkan nilai.

Dari Pusat Ongkos Jadi Pencipta Nilai

Bisnis secara tradisional merasa hukum jadi penghalang kesempatan perusahaan dan pusat biaya. Itu beralih. C-Suite mengakui keharusan digital berlaku untuk peranan hukum seperti buat unit bisnis yang lain. Tanpa adopsinya, hukum tidak dapat memenuhi pekerjaannya yang diperluas untuk memiliki fungsi sebagai:

1.Pendeteksi dini risiko|dampak perusahaan yang pro aktif, mitigasi resiko, dan pemecah masalah; dan

2.Kolaborator yang aktif dan gesit dengan peran bisnis lainnya buat menciptakan penghasilan serta peluang pasar anyar bagi perusahaan dan pelangganya.

Manfaat hukum yang memenuhi kewajiban mereka yang diperluas dapat menyatakan nilai dan nikmati kedudukan perusahaan yang lebih tinggi. Lebih kurang tiga perempat (74%) responden bisnis dalam study yang dilakukan oleh The Digital Legal Exchange menuturkan penting/paling penting bagi hukum untuk menciptakan pendapatan serta kesempatan pasar baru.

Mereka merasa hukum sebagai mitra sinergis bisnis, bukan sebagai departemen tertutup yang cuman berfokus di “pekerjaan hukum”. Hukum harus memanfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan dan pelanggan, keterampilan, pengalaman, serta kelincahannya buat mengenali dan bekerjasama dengan unit bisnis lain buat memajukan nilai perusahaan yang terarah.

 

Pelayanan dan Pengalaman Konsumen setia yang Unggul

Service serta pengalaman konsumen yang unggul yaitu elemen kunci untuk tunjukkan serta membela nilai. Jeff Bezos menyamai hubungan pemasok/konsumen setia dengan dinamika tuan-rumah/tamu; tuan rumah yang baik meyakinkan kalau tamu diterima, dipandang, dan menjadi perhatian.

Hukum sama persis dengan fungsi perusahaan lainnya dalam soal bagaimana ia harus secara konsisten memberinya, memelihara, tingkatkan, dan secara empiris perlihatkan layanan/pengalaman pelanggan. Daftar cek pelayanan konsumen setia untuk peran hukum meliputi:

-mengadopsi perspektif yang memprioritaskan konsumen serta mengaplikasikannya di pada semua yang Anda serta relasi tim Anda lakukan;

-kemudahan akses ke produk dan pelayanan hukum;

-kehandalan, efektivitas, kecepatan, nilai, dan transparansi pengiriman;

-bantuan konsumen yang mencangkup alat/sumber daya electronic dan swadaya manusia;

-mendapatkan dan lekas menyikapi masukan konsumen;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun jalinan serta perspektif pelanggan periode panjang, bukan perspektif transaksional

-“membuatnya benar” sampai waktu kesalahan dibuat;

-memperlakukan pelanggan jadi aset perusahaan;

-beroperasi secara pro-aktif, bukan reaktif;

-mengakui kekuatan sosial media dan pemantapan pengalaman pelanggan yang positif dan negatif;

-peningkatan  keahlian secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|memberikan dukungan unit bisnis lain untuk tingkatkan kepuasan pelanggan serta pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Ikhtisar

Kegunaan hukum tidak bisa menunjukkan nilainya bagi bisnis kecuali apabila sejalan dengannya. Itu berarti berpartner dengan guna perusahaan lainnya serta focus di pelanggan adalah metode terbaik untuk memperhitungkan serta penuhi kepentingan dan keinginan mereka yang berbeda dengan cara cepat.

Ini ialah intupokok dari kewajiban digital, imajinasi ulang dan kombinasi ulang yang dibantu technologi tentang bagaimana produk serta pelayanan lebih mudah dijangkau, kompetitif, transparan, stabil, dan  dikatakan dengan membahagiakan terhadap konsumen. Kegunaan hukum bisa dan harus mainkan andil penting dalam perubahan utuh dari dinamika pemasok/konsumen setia ini.

Menghilangkan perspektif “pembela perkara serta ‘non-pengacara'” yakni cara pertama yang bagus.

etika bisnis menurut richard de george

Semoga materi etika bisnis menurut richard de george bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *