etika bisnis orang jepang

etika bisnis orang jepang

Bagaimana Peran Hukum Membuktikan Nilai Buat Sebuah Bisnis?

etika bisnis orang jepang

Sisi pertama dari seri dua bagian ini mengulas mengapa guna hukum mengalami kesulitan perlihatkan nilainya bagi bisnis. Unit ini menjajakan bagaimana hal tersebut dapat berlangsung. Artikel kali ini membahas tentang

etika bisnis orang jepang

Pembela perkara adalah rintangan terbesar manfaat hukum untuk memberikan nilai bisnis. Sejumlah besar pandai, fokus, rajin, analisa, serta mengarah di maksud yakni karakter tenaga kerja yang dibutuhkan . Sehingga di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, susunan, serta keangkuhan.

Budaya hukum yakni terkait pembela perkara, bukan pelanggan. Itu bukan permulaan di era transformasi digital di mana segalanya ditujukan buat mempertingkat pengalaman konsumen.

 etika bisnis orang jepang

 

 

Pendahuluan: Skema Pikir Bisnis Buat Remit Hukum yang Diperlebar

Fungsi hukum sedang diatur ulang buat menyinkronkan dengan keperluan perusahaan digital serta konsumen mereka. Bisnis dan beberapa pemasok bentuk baru berada di garda terdepan dalam penyusunan kembali, bukan pembuatan hukum. Perancangan ulang kegunaan hukum diawali pada sudut pandang pelanggan, apa yang dibutuhkan hukum untuk melayani keperluannya dengan lebih bagus?

Untuk sampai kepuasan pelanggan di zaman digital, manfaat hukum harus mendalami tantangan konsumen setianya serta menjadi bagian dari solusi mereka. Ini butuh hukum untuk mengadopsi perspektif bisnis buat memenuhi kegunaan hukum yang diperluas. Buat melayani perusahaan digital serta konsumen setia mereka, peran hukum mesti beroperasi jadi pembela perusahaan yang pro aktif dan didorong oleh data dan berkolaborasi dengan unit bisnis lain buat memajukan nilai perusahaan. Tapi bagaimana langkahnya?

Mengeruk lebih banyak dari peranan hukum diawali dengan budaya serta perjalanan management peralihan. Ini libatkan kerjasama peranan hukum dengan serta adaptasi terhadap sumber daya bisnis yang ada, metoda pemecahan perkara, metrik, proses, technologi, dan data. Konsentrasinya merupakan di bagaimana mereka bisa dipakai, ditingkatkan, dan dibagikan tidak cuma dalam guna hukum namun juga di seluruhnya perusahaan.

 

etika bisnis orang jepang

Peran hukum tak bisa kembali didiamkan. Itu harus jadi sisi dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya adalah tingkatkan hasil, nilai, serta pengalaman konsumen setia. Buat layani bisnis dengan lebih bagus serta berkolaborasi dalam penciptaan nilainya, guna hukum harus pandai dalam bahasa bisnis, proses, manajemen kemungkinan, analitik data, kegesitan, kecepatan, pemerolehan serta manajemen bakat, efek, kompetisi, dan service konsumen setia.

Ini jauh dari pekerjaan hukum untuk  menghasilkan “tugas hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Pengacara dan profesional hukum berkaitan, tidak perduli oleh siapa mereka diperkerjakan, harus memakai kerjasama laten hukum serta pemberian service hukum dalam skala besar. Komponen praktek serta bisnis dari layanan hukum membutuhkan keterampilan dan tenaga kerja yang berlainan tapi miliki pola pikir yang sama.

Mereka yakni elemen yang sama pentingnya dari kegunaan hukum yang wajib beroperasi dengan lancar, lincah, serta lancar tidak hanya dalam peranan hukum dan juga dengan pemangku kebutuhan bisnis yang lain di semuanya perusahaan. Integratif praktik hukum serta bisnis pemberian pelayanan hukum (operasi hukum) meningkatkan efektivitas fungsional hukum. Ini merupakan pilar dasar penciptaan nilai.

Langkah kedua serta yang lebih mengubah paradigma dlam perjalanan perubahan digital fungsi hukum ialah penyelarasannya dengan bisnis untuk membikin nilai untuk perusahaan dan konsumen setianya. Ini libatkan rekonfigurasi holistik dari andil, keterkaitan, serta skema penghargaan dari manfaat hukum. Hasil akhirnya ialah membikin kepuasan konsumen.

Di bawah ini ialah beberapa cara untuk membebaskan potensi laten manfaat hukum buat berbeda dari rintangan bujet serta hambatan kemungkinan bisnis jadi pusat keuntungan, kolaborator nilai perusahaan, serta kepuasan konsumen.

 

Fungsi Hukum yang Menanggapi Keperluan Bisnis

Kegunaan hukum harus manipulasi balik dianya sendiri dari perspektif konsumen, bagaimana ia dapat|bisa memenuhi dan melewati keperluan dan angan-angan pengalaman konsumen setia. Ini butuh restrukturisasi organisasi tanpa hambatan dari peran hukum yang fokus di bagaimana dia dapat mengontrol ulang buat layani bisnis yang berubah secara digital dan pelanggannya dengan lebih bagus.

Tidak ada peta jalan digital legal yang cocok untuk semua, akan tetapi, bagian umum mencakup:

-mengganti banyak layanan lewat produk yang memasukkan alat bantu berdikari serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membuat alat tehnologi yang sesuai sama tujuan buat peranan hukum dan memanfaatkan alat “hukum” yang ada untuk layani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta menganalisa data tidak terancang yang ada di dalam manfaat hukum untuk pemakaian perusahaan yang semakin luas dan kontributor di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa mengerjakan apa” berdasar kapabilitas yang didukung data, pengalaman yang relevan, biaya,  ketersediaan, serta hasil;

– melawan paradigma peninggalan hukum dan mengubahnya dengan susunan, bentuk, metrik, proses, serta tenaga kerja baru yang memberi respon keperluan dan angan-angan konsumen lebih baik;

– menyingkirkan ketidakcocokan bikinan pengacara di antara tipe penyedia (in-house, firma, firma hukum, dan sebagainya.);

– menyiapkan tenaga kerja berbasis platform, tangkas, kolaboratif, mulus, dan terpusat di konsumen yang terdiri dalam bermacam sumber daya;

-memberikan anjuran yang didukung data

– berfokus di pembuatan nilai buat bisnis dan konsumen setianya dan membuat pengalaman pelanggan lengkap yang unggul;

– lakukan investasi dalam penambahan keterampilan serta kepelatihan tenaga kerja untuk memenuhi tantangan tersebut.

 

Pastikan Metrik yang Menaati Bisnis Serta Dioperasikan Olehnya

Peter Drucker mengawasi, “Anda tidak bisa mengelola apa yang tidak bisa Anda ukur.” Metrik hukum secara historis jarang-jarang dan terkait dengan profitabilitas, bukan kepuasan konsumen setia. Bisnis, khususnya di zaman digital, memiliki rangkaian metrik yang sama sekali berbeda yang berfokus di pelanggan.

Bisnis memantau kelapangan akses konsumen, pengiriman on-time, hasil yang sukses, uraian sosial media, score promotor bersih, dan index yang lain menghitung kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini yakni kunci kebersinambungan, skalabilitas, profitabilitas, serta komitmen merek di dunia digital.

Bisnis memposisikan nilai tinggi pada adaptasi hukum dari metriknya. Analisis Peralihan Hukum Digital menemukan bahwa 97% informan bisnis mengatakan mereka ingin metrik sukses peranan hukum serasi dengan arah bisnis. Waktu-waktu peran hukum mendapat sanjungan untuk menyejajarkan anggarannyanya sudah berakhir. Buat memutuskan nilai buat bisnis, ia harus menyesuaikan dengan metrik yang sama yang diterapkan di guna perusahaan lainnya.

 

Memakai Kemampuan Data

Bisnis berjalan dengan data. Peran hukum juga harus. Itu tidak berarti advokat harus menambah riset data menjadi kompetensi pokok. Tetapi, mereka harus berkolaborasi dengan analisis data, teknologi, dan professional hukum berkaitan yang lain serta memberlakukan mereka sebagai partner yang setingkat. Team multidisiplin yang mulus, lincah, serta terpadu yakni apa yang diperlukan buat penuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data ialah sumber pembuatan nilai yang luas serta belum digunakan buat fungsi hukum. Dia mempunyai kekuatan buat gantikan pertaruhan serta sangkaan dengan pandangan di depan serta pemahaman berbasis sains. Data yang berkaitan ialah info yang material untuk peramalan yang tepat, identifikasi kemungkinan dini, mitigasi, Efisiensi, perumusan taktik cepat, hasil yang makin baik, dan penghambatan hasil “kejutan” (semisalnya, resiko yang terlampau rendah) ialah alat baru yang kurang diperlukan oleh hukum.

 

etika bisnis orang jepang

Data tidak hanya memiliki kekuatan laten untuk mempercepat kecepatan, efektivitas, ketepatan, dan kapasitas guna hukum, namun bisa juga mendorong pembuatan nilai perusahaannya. Perumpamaannya terhitung implikasi data material buat kontrak, litigasi, investigasi dan konflik komersial yang lain, masalah ketentuan, dan monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data tidak pengganti|substitusi penilaian hukum, itu adalah penambah. Advokat yang disokong data berbicara bahasa bisnis serta lebih dapat dipercaya  dibanding yang “berbasis firasat”. Tidak ada “data hukum;” ada data yang berada dalam kegunaan hukum yang bisa dibagikan dengan unit bisnis lain untuk pecahkan “halangan hibrida” yang menggerakkan nilai perusahaan.

Manajemen risiko, kepatuhan, perampingan kontrak buat mendesak siklus marketing, serta penghindaran litigasi yakni beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing menyiapkan guna hukum dengan kapasitas yang besar sekali buat membuat dan menyatakan nilai.

Dari Pusat Cost Menjadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisionil memandang hukum sebagai penghalang kesempatan perusahaan serta pusat cost. Itu berubah. C-Suite mengaku kewajiban digital berlaku untuk peran hukum seperti buat unit bisnis yang lain. Tiada adopsinya, hukum tidak dapat memenuhi pekerjaannya yang diperluas buat berperan selaku:

1.Pendeteksi dini risiko|resiko perusahaan yang proaktif, mitigasi resiko, serta pemecah masalah; serta

2.Kolaborator yang aktif dan lincah dengan manfaat bisnis yang lain untuk menciptakan penerimaan serta kemungkinan pasar anyar buat perusahaan serta konsumennya.

Peran hukum yang memenuhi keharusan mereka yang diperluas dapat perlihatkan nilai dan nikmati posisi perusahaan yang bertambah tinggi. Kira-kira tiga perempat (74%) responden bisnis dalam studi yang sedang dilakukan oleh The Digital Legal Exchange menyampaikan penting/paling penting bagi hukum untuk membikin penghasilan serta kemungkinan pasar anyar.

Mereka memandang hukum menjadi mitra sinergis bisnis, bukan selaku departemen tertutup yang cuman focus di “tugas hukum”. Hukum harus manfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan dan konsumen setia, ketrampilan, pengalaman, serta kelincahannya buat mengidentifikasi dan bersinergi dengan unit bisnis lain untuk mendorong nilai perusahaan yang terarah.

 

Pelayanan serta Pengalaman Pelanggan yang Unggul

Service dan pengalaman konsumen setia yang unggul merupakan elemen kunci untuk memperlihatkan dan mempertahankan nilai. Jeff Bezos menyamai pertalian penyuplai/konsumen setia dengan dinamika tuan rumah/tamu; tuan-rumah yang bagus menegaskan jika tamu diterima, dihormati, serta jadi perhatian.

Hukum mirip dengan peranan perusahaan lainnya dalam hal bagaimana dia harus secara konsisten memberikan, memelihara, menambah, serta secara empiris memperlihatkan pelayanan/pengalaman konsumen. Daftar check service pelanggan buat manfaat hukum meliputi:

-mengadopsi perspektif yang mengutamakan konsumen dan menerapkannya di pada semua yang Anda serta rekanan team Anda kerjakan;

-kemudahan akses ke produk dan pelayanan hukum;

-kehandalan, efektivitas, kecepatan, nilai, dan transparansi pengangkutan;

-bantuan konsumen setia yang mencangkup alat/sumber daya electronic serta swadaya manusia;

-mendapatkan dan segera menyikapi masukan konsumen;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun jalinan dan sudut pandang konsumen setia periode panjang, bukan sudut pandang transaksi bisnis;

-“membuatnya benar” bahkan waktu kesalahan dibuat;

-memperlakukan konsumen jadi aset perusahaan;

-beroperasi secara proaktif, bukan reaktif;

-mengakui kemampuan medsos serta pemantapan pengalaman pelanggan yang positif dan negatif;

-peningkatan  keterampilam secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|menyuport unit bisnis lain untuk mempertingkat kepuasan konsumen setia serta pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Ikhtisar

Peran hukum tidak dapat memperlihatkan nilainya buat bisnis terkecuali bila searah dengannya. Itu berarti berpartner dengan peran perusahaan yang lain dan focus di konsumen adalah cara terpilih untuk mengantisipasi serta memenuhi kepentingan dan angan-angan mereka yang berubah dengan cepat.

Ini merupakan intupokok dari kewajiban digital, imajinasi ulang serta konfigurasi ulang yang ditopang tehnologi mengenai bagaimana produk serta service lebih ringan dicapai, bersaing, transparan, konstan, dan  disampaikan dengan menyenangkan ke pelanggan. Fungsi hukum bisa serta harus memainkan peranan penting dalam transformasi komplet dari dinamika pemasok/pelanggan ini.

Menghilangkan sudut pandang “advokat dan ‘non-pengacara'” adalah cara pertama yang baik.

etika bisnis orang jepang

Semoga materi etika bisnis orang jepang bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *