hukum bisnis 81

Bagaimana Peranan Hukum Menunjukkan Nilai Untuk Sebuah Bisnis?

hukum bisnis 81

Sisi pertama dari seri dua bagian ini membahas kenapa manfaat hukum mengenyam kesusahan membuktikan nilainya bagi bisnis. Unit ini menjajakan bagaimana hal demikian bisa terjadi. Artikel kali ini membahas tentang

hukum bisnis 81

Advokat adalah kendala terbesar peran hukum untuk memperlihatkan nilai bisnis. Kebanyakan cerdik, konsentrasi, rajin, analitis, serta fokus pada maksud ialah karakter tenaga kerja yang dikehendaki . Sehingga di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pendidikan, indoktrinasi, susunan, dan keangkuhan.

Budaya hukum adalah perihal pembela perkara, bukan konsumen. Itu bukan permulaan di waktu perubahan digital di mana semua disasarkan untuk menambah pengalaman konsumen.

 hukum bisnis 81

 

 

Pendahuluan: Skema Pikir Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperlebar

Manfaat hukum tengah ditata ulang untuk menyelaraskan dengan kepentingan perusahaan digital dan konsumen mereka. Bisnis dan beberapa pemasok mode anyar ada pada garda paling depan dalam pengaturan kembali, bukan pembuatan hukum. Perancangan ulang guna hukum mulai dari perspektif pelanggan, apa yang dibutuhkan hukum buat layani keperluannya dengan lebih bagus?

Buat sampai kepuasan konsumen setia di zaman digital, guna hukum harus pahami tantangan pelanggannya dan menjadi sisi dari solusi mereka. Ini butuh hukum buat memungut sudut pandang bisnis buat memenuhi kegunaan hukum yang diperlebar. Buat layani perusahaan digital dan pelanggan mereka, fungsi hukum harus beroperasi selaku pembela perusahaan yang pro aktif dan didorong oleh data serta berkolaborasi dengan unit bisnis lain buat mendorong nilai perusahaan. Namun bagaimana triknya?

Mengeduk semakin banyak dari kegunaan hukum diawali dengan budaya dan perjalanan manajemen perubahan. Ini menyertakan paduan fungsi hukum dengan serta penyesuaian pada sumber daya bisnis yang ada, metoda pemecahan perkara, metrik, proses, teknologi, serta data. Fokusnya merupakan pada bagaimana mereka dapat dipakai, diperbarui, dan diberikan bukan sekedar dalam fungsi hukum tapi juga di semua perusahaan.

 

hukum bisnis 81

Peran hukum tidak dapat lagi didiamkan. Itu harus menjadi bagiab dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya yaitu menaikkan hasil, nilai, serta pengalaman pelanggan. Untuk layani bisnis dengan lebih baik serta bersinergi dalam penciptaan nilainya, fungsi hukum harus pandai ke bahasa bisnis, proses, manajemen efek, analitik data, kegesitan, kecepatan, akuisisi dan management talenta, kemungkinan, perebutan, serta layanan konsumen setia.

Ini jauh dari pekerjaan hukum untuk  mendatangkan “pekerjaan hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Pengacara dan professional hukum berkaitan, tidak perduli oleh siapa mereka dikaryakan, harus manfaatkan kerjasama laten praktek hukum dan pemberian pelayanan hukum dalam skala besar. Elemen praktik dan bisnis dari service hukum membutuhkan ketrampilan serta tenaga kerja yang berlainan akan tetapi punya sudut pandang yang serupa.

Mereka yakni komponen yang sama keutamaan dari manfaat hukum yang wajib bekerja dengan lancar, tangkas, dan lancar tidak cuma dalam manfaat hukum dan juga dengan pemangku keperluan bisnis lainnya di semuanya perusahaan. Integratif praktik hukum serta bisnis pemberian service hukum (operasi hukum) menambah efektivitas fungsional hukum. Ini adalah pilar dasar penciptaan nilai.

Langkah ke-2 dan yang lebih mengubah paradigma dlam perjalanan perubahan digital fungsi hukum yakni penyelarasannya dengan bisnis untuk membuat nilai buat perusahaan dan pelanggannya. Ini mengikutsertakan rekonfigurasi holistik dari peran, relevansi, dan skema penghargaan dari guna hukum. Hasil akhir merupakan menciptakan kepuasan pelanggan.

Ini adalah beberapa cara buat membebaskan kemampuan laten fungsi hukum untuk berbeda dari kendala anggaran serta hambatan kemungkinan bisnis jadi pusat untung, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan pelanggan.

 

Guna Hukum yang Menanggapi Kepentingan Bisnis

Guna hukum harus manipulasi balik dianya sendiri dari sudut pandang konsumen, bagaimana ia dapat|bisa memenuhi serta melampaui kepentingan serta harapan pengalaman konsumen setia. Ini butuh restrukturisasi organisasi tanpa rintangan dari peran hukum yang berfokus di bagaimana dia dapat mengatur ulang buat melayani bisnis yang berubah secara digital serta konsumennya dengan lebih bagus.

Tak ada peta jalan digital legal yang pas buat segalanya, tapi, bagian umum meliputi:

-mengganti banyak layanan dengan produk yang menyertakan alat bantu berdikari serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk bikin alat tehnologi yang sesuai maksud untuk kegunaan hukum serta memanfaatkan alat “hukum” yang ada buat melayani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang dan mempelajari data tidak terstruktur yang ada di dalam fungsi hukum untuk pemakaian perusahaan yang makin luas serta kontribusi pada data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa mengerjakan apa” menurut kompetensi yang ditopang data, pengalaman yang sama, biaya,  adanya, dan hasil;

– menentang paradigma warisan hukum dan mengubahnya dengan struktur, mode, metrik, proses, serta tenaga kerja anyar yang memberi respon keperluan dan impian konsumen dengan baik;

– menghalau ketaksamaan buatan pengacara di antara tipe pemasok (in-house, firma, firma hukum, dsb.);

– menyiapkan tenaga kerja berbasiskan platform, lincah, kolaboratif, mulus, dan terpusat di konsumen setia yang terdiri dalam beragam sumber daya;

-memberikan nasehat yang didukung data

– fokus pada pembuatan nilai untuk bisnis serta pelanggannya serta membikin pengalaman konsumen setia komplet yang unggul;

– melakukan investasi dalam kenaikan keterampilan serta training tenaga kerja untuk penuhi tantangan itu.

 

Tentukan Metrik yang Mematuhi Bisnis Serta Dioperasikan Olehnya

Peter Drucker memperhatikan, “Anda tidak bisa mengatur apa yang tidak bisa Anda ukur.” Metrik hukum secara monumental jarang-jarang serta berkaitan dengan keuntungan, bukan kepuasan pelanggan. Bisnis, terutama di waktu digital, punya rangkaian metrik yang serupa sekali tidak serupa yang fokus di konsumen.

Bisnis mengawasi kelapangan akses konsumen setia, pengiriman pas waktu, hasil yang sukses, penjelasan media sosial, score promotor bersih, serta index yang lain mengukur kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini merupakan kunci kebersinambungan, skalabilitas, profitabilitas, serta loyalitas brand di dunia digital.

Bisnis menempatkan nilai tinggi pada penyesuaian hukum dari metriknya. Penelitian Pergantian Hukum Digital menemukan jika 97% responden bisnis mengucapkan mereka ingin metrik keberhasilan fungsi hukum serasi dengan maksud bisnis. Waktu-waktu peranan hukum mendapati pujian buat menyamakan biayanya udah berlalu. Buat memastikan nilai untuk bisnis, ia harus beradaptasi dengan metrik yang sama yang dipraktekkan di peran perusahaan lainnya.

 

Memanfaatkan Kebolehan Data

Bisnis berjalan dengan data. Guna hukum mesti. Itu bukan berarti advokat mesti menambahkan analisis data sebagai kompetensi inti. Namun, mereka mesti bersinergi dengan studi data, teknologi, dan profesional hukum terkait lainnya dan berlakukan mereka menjadi mitra yang setingkat. Tim multidisiplin yang mulus, tangkas, dan terintegrasi merupakan apa yang diperlukan buat penuhi kewajiban digital hukum yang diperluas.

Data adalah sumber penciptaan nilai yang luas dan belum difungsikan untuk fungsi hukum. Ia berkekuatan buat mengambil alih prediksi dan sangkaan dengan penglihatan di depan dan pemahaman berbasis sains. Data yang relevan ialah informasi yang material buat peramalan yang tepat, diagnosis kemungkinan dini, mitigasi, efektivitas, perumusan trick cepat, hasil yang semakin baik, dan pencegahan hasil “kejutan” (misalnya, dampak yang begitu rendah) ialah alat baru yang kurang difungsikan oleh hukum.

 

hukum bisnis 81

Data tidak hanya berkekuatan laten untuk memercepat kecepatan, efektivitas, akurasi, serta performa peran hukum, namun dapat pula memajukan penciptaan nilai perusahaannya. Misalnya termaksud penerapan data material untuk kontrak, litigasi, interograsi dan perseteruan komersial lainnya, masalah aturan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data bukan pengganti|alternatif penilaian hukum, itu ialah penambah. Lawyer yang disokong data berbicara bahasa bisnis dan jauh makin kredibel  dibanding yang “berbasiskan firasat”. Tak ada “data hukum;” ada data yang ada dalam kegunaan hukum yang dapat dibagikan dengan unit bisnis lain untuk memecahkan “hambatan hibrida” yang memajukan nilai perusahaan.

Manajemen risiko, kepatuhan, perampingan kontrak buat tekan perputaran pemasaran, dan penghindaran litigasi merupakan di antara dari sejumlah contoh. Masing-masing siapkan peranan hukum dengan kapasitas yang sangat besar untuk membentuk dan menyatakan nilai.

Dari Pusat Cost Jadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisionil memandang hukum sebagai penghambat kesempatan perusahaan dan pusat biaya. Itu beralih. C-Suite mengakui kewajiban digital berlaku untuk peranan hukum seperti sama untuk unit bisnis yang lain. Tanpa adopsinya, hukum tidak dapat memenuhi pekerjaannya yang diperlebar untuk berfungsi menjadi:

1.Pendeteksi dini risiko|efek perusahaan yang pro-aktif, mitigasi resiko, dan pemecah masalah; dan

2.Kolaborator yang aktif dan tangkas dengan peran bisnis lainnya buat membuat penerimaan serta kemungkinan pasar baru buat perusahaan dan pelangganya.

Fungsi hukum yang memenuhi kewajiban mereka yang diperluas dapat membuktikan nilai serta nikmati posisi perusahaan yang semakin tinggi. Sekitar tiga perempat (74%) informan bisnis dalam study yang dilakukan oleh The Digital Legal Exchange mengatakan penting/paling penting bagi hukum untuk menciptakan pendapatan serta kesempatan pasar baru.

Mereka menganggap hukum menjadi mitra sinergis bisnis, bukan menjadi departemen tertutup yang cuma focus di “pekerjaan hukum”. Hukum harus memanfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan serta konsumen, ketrampilan, pengalaman, serta kelincahannya untuk mengidentifikasi dan bekerjasama dengan unit bisnis lain buat menggerakkan nilai perusahaan yang terukur.

 

Service dan Pengalaman Konsumen setia yang Unggul

Pelayanan serta pengalaman konsumen setia yang unggul yakni komponen kunci untuk memperlihatkan serta menjaga nilai. Jeff Bezos menyamakan jalinan penyedia/pelanggan dengan dinamika tuan-rumah/tamu; tuan-rumah yang baik meyakinkan kalau tamu diterima, dihargai, serta menjadi perhatian.

Hukum mirip dengan peran perusahaan lainnya dalam hal bagaimana dia harus secara stabil memberinya, memelihara, menaikkan, serta secara empiris tunjukkan pelayanan/pengalaman konsumen setia. Daftar periksa layanan pelanggan untuk peranan hukum meliputi:

-mengadopsi sudut pandang yang mengedepankan konsumen setia dan menerapkannya di seluruh yang Anda serta teman tim Anda kerjakan;

-kemudahan akses ke produk dan service hukum;

-kehandalan, efektivitas, kecepatan, nilai, dan transparan pengantaran;

-bantuan pelanggan yang mencakup alat/sumber daya elektronik serta swadaya manusia;

-mendapatkan dan lekas menyikapi masukan konsumen setia;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun hubungan serta perspektif konsumen setia jangka panjang, bukan sudut pandang transaksional

-“membuat benar” sampai sewaktu kekeliruan dibuat;

-memperlakukan konsumen setia menjadi asset perusahaan;

-beroperasi secara pro aktif, bukan reaktif;

-mengakui kebolehan social media dan penguatan pengalaman pelanggan yang positif serta negatif;

-peningkatan  keahlian secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|memberikan dukungan unit bisnis lain buat tingkatkan kepuasan konsumen setia serta pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Simpulan

Peran hukum tidak dapat menunjukkan nilainya untuk bisnis terkecuali jika sejalan dengannya. Itu berarti bekerjasama dengan kegunaan perusahaan lainnya dan fokus di pelanggan adalah teknik terbaik untuk memperhitungkan dan memenuhi keperluan dan angan-angan mereka yang beralih dengan cepat.

Ini ialah intupokok dari keharusan digital, khayalan ulang serta kombinasi ulang yang didukung technologi tentang bagaimana produk serta service lebih mudah diakses, bersaing, transparan, konstan, dan  disampaikan dengan membahagiakan pada pelanggan. Peranan hukum dapat serta mesti mainkan andil penting dalam transformasi lengkap dari dinamika penyuplai/konsumen setia ini.

Menghilangkan pola pikir “advokat dan ‘non-pengacara'” yakni cara pertama yang bagus.

hukum bisnis 81

Semoga materi hukum bisnis 81 bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *