hukum bisnis xxi

hukum bisnis xxi

Bagaimana Manfaat Hukum Memberikan Nilai Bagi Suatu Bisnis?

hukum bisnis xxi

Bagian pertama dari seri dua bagian ini membahas kenapa fungsi hukum merasakan kesukaran menunjukkan nilainya bagi bisnis. Segnen ini tawarkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Artikel kali ini membahas tentang

hukum bisnis xxi

Pengacara adalah kendala paling besar kegunaan hukum buat memperlihatkan nilai bisnis. Mayoritas pandai, fokus, rajin, analisa, serta mengarah pada tujuan yakni karakter tenaga kerja yang diingini . Sehingga di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pendidikan, indoktrinasi, susunan, serta keangkuhan.

Budaya hukum ialah mengenai pembela perkara, bukan pelanggan. Itu bukan permulaan di masa perubahan digital di mana semuanya diarahkan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

[/caption]

 hukum bisnis xxi

 

 

Pendahuluan: Skema Berpikir Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperluas

Fungsi hukum lagi dirapikan ulang buat menyelaraskan dengan kebutuhan perusahaan digital serta konsumen setia mereka. Bisnis dan beberapa pemasok model anyar berada di garda terdepan dalam penataan kembali, bukan pembuatan hukum. Perancangan kembali guna hukum diawali pada sudut pandang konsumen setia, apa yang diperlukan hukum untuk melayani keperluannya dengan lebih baik?

Untuk mencapai kepuasan konsumen setia di era digital, kegunaan hukum harus memahami rintangan konsumen setianya serta menjadi bagian dari jalan keluar mereka. Ini perlu hukum untuk memungut sudut pandang bisnis untuk memenuhi peran hukum yang diperlebar. Buat melayani perusahaan digital dan pelanggan mereka, peranan hukum harus bekerja sebagai pembela perusahaan yang pro-aktif serta didorong oleh data serta bersinergi dengan unit bisnis lain buat mendorong nilai perusahaan. Tapi bagaimana tekniknya?

Mengeruk bisa lebih banyak dari fungsi hukum diawali dengan budaya serta perjalanan management transisi. Ini mengikutsertakan kolaborasi kegunaan hukum dengan dan penyesuaian kepada sumber daya bisnis yang ada, model pemecahan persoalan, metrik, proses, tehnologi, serta data. Fokusnya ialah pada bagaimana mereka dapat digunakan, diperbaharui, serta diberikan bukan hanya dalam guna hukum namun juga di semua perusahaan.

 

hukum bisnis xxi

Fungsi hukum tak dapat lagi didiamkan. Itu mesti menjadi sisi dari perjalanan digital perusahaan yang misinya yaitu menambah hasil, nilai, serta pengalaman konsumen setia. Untuk melayani bisnis dengan lebih baik dan berkolaborasi dalam penciptaan nilainya, guna hukum mesti mengusai dalam bahasa bisnis, proses, manajemen dampak, analitik data, kelincahan, kecepatan, perolehan serta management bakat, efek, pertarungan, serta layanan pelanggan.

Ini jauh dari pekerjaan hukum buat  hasilkan “pekerjaan hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Advokat serta profesional hukum berkaitan, tidak peduli oleh siapa mereka ditempatkan kerja, mesti memakai kerjasama laten praktek hukum dan pemberian layanan hukum dalam skala besar. Komponen praktek dan bisnis dari pelayanan hukum membutuhkan keterampilan serta tenaga kerja yang berbeda tetapi mempunyai perspektif yang sama.

Mereka merupakan elemen yang sama utamanya dari kegunaan hukum yang wajib beroperasi dengan lancar, lincah, serta lancar bukan sekedar dalam guna hukum namun juga dengan penopang keperluan bisnis lainnya di seluruh perusahaan. Integrasi praktek hukum serta bisnis pemberian pelayanan hukum (operasi hukum) menaikkan efisiensi fungsional hukum. Ini merupakan pilar dasar pembuatan nilai.

Langkah ke-2 dan yang lebih mengubah paradigma diperjalanan perubahan digital guna hukum yaitu penyelarasannya dengan bisnis buat menciptakan nilai bagi perusahaan dan konsumennya. Ini libatkan rekonfigurasi holistik dari andil, keterkaitan, dan struktur penghargaan dari peran hukum. Hasilnya merupakan membuat kepuasan pelanggan.

Berikut beberapa cara untuk melepas kemampuan laten peranan hukum buat berganti dari kendala anggaran serta kendala kemungkinan bisnis jadi pusat untung, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan konsumen.

 

Peran Hukum yang Menyikapi Kebutuhan Bisnis

Fungsi hukum harus memanipulasi balik dirinya sendiri dari sudut pandang konsumen, bagaimana dia dapat|bisa penuhi serta melampaui kebutuhan dan impian pengalaman konsumen. Ini perlu restrukturisasi organisasi tanpa rintangan dari manfaat hukum yang focus di bagaimana dia bisa mengontrol ulang untuk layani bisnis yang berganti secara digital serta pelanggannya dengan lebih baik.

Tak ada peta jalan digital legal yang sesuai buat seluruhnya, namun,tetapi, unsur umum mencakup:

-mengganti banyak pelayanan dengan produk yang menyertakan alat bantu mandiri serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan buat bikin alat technologi yang sesuai tujuan buat guna hukum dan manfaatkan alat “hukum” yang ada untuk layani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta mempelajari data tak terancang yang ada di dalam kegunaan hukum buat pemakaian perusahaan yang semakin luas dan kontribusi di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa kerjakan apa” berdasar kapabilitas yang ditopang data, pengalaman yang berkaitan, biaya,  tersedianya, dan hasil;

– menantang paradigma warisan hukum serta menggantinya dengan struktur, style, metrik, proses, dan tenaga kerja anyar yang memberi respon kepentingan serta asa konsumen dengan lebih baik;

– menyingkirkan perbedaan produksi pengacara antara jenis penyuplai (in-house, firma, firma hukum, dan lain-lain.);

– sediakan tenaga kerja berbasiskan platform, tangkas, kolaboratif, mulus, serta berpusat pada konsumen setia yang terbagi dalam bermacam sumber daya;

-memberikan arahan yang didukung data

– focus di penciptaanan nilai bagi bisnis dan konsumen setianya serta membikin pengalaman pelanggan komplet yang unggul;

– menanam investasi dalam penambahan keahlian dan kursus tenaga kerja untuk memenuhi hambatan tersebut.

 

Pastikan Metrik yang Patuhi Bisnis Serta Dijalankan Olehnya

Peter Drucker memperhatikan, “Anda tidak dapat mengelola apa yang tidak bisa Anda ukur.” Metrik hukum secara monumental jarang serta berkaitan dengan profitabilitas, bukan kepuasan pelanggan. Bisnis, khususnya di zaman digital, miliki rangkaian metrik yang sama sekali berlainan yang focus pada konsumen setia.

Bisnis mengamati keluasaan akses konsumen setia, pengiriman on-time, hasil yang sukses, ulasan sosial media, nilai promotor bersih, dan indeks yang lain mengukur kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini yaitu kunci keberlanjutan, skalabilitas, keuntungan, dan komitmen brand di dunia digital.

Bisnis menempatkan nilai tinggi di penyesuaian hukum dari metriknya. Analisis Transisi Hukum Digital mendapati jika 97% responden bisnis mengucapkan mereka mau metrik kesuksesan peranan hukum sesuai dengan arah bisnis. Waktu-waktu fungsi hukum mendapatkanmemperoleh sanjungan untuk menyeimbangkan budgetnya udah berakhir. Untuk menetapkan nilai untuk bisnis, ia mesti beradaptasi dengan metrik yang sama yang dipraktekkan pada peranan perusahaan lainnya.

 

Memakai Kekuatan Data

Bisnis jalan dengan data. Peran hukum harus. Itu tidak berarti pembela perkara harus menambah analisa data selaku kompetensi inti. Tapi, mereka harus berkolaborasi dengan riset data, tehnologi, serta profesional hukum terkait yang lain dan memberlakukan mereka sebagai partner yang setara. Team multidisiplin yang mulus, lincah, dan terpadu ialah apa yang dibutuhkan untuk penuhi keharusan digital hukum yang diperlebar.

Data ialah sumber pembuatan nilai yang luas dan belum difungsikan buat peranan hukum. Dia berkekuatan buat menukar spekulasi serta sangkaan dengan penglihatan ke depan serta wacana berbasis sains. Data yang sama adalah informasi yang material untuk peramalan yang tepat, deteksi efek dini, mitigasi, Efisiensi, penyimpulan kiat cepat, hasil yang makin baik, serta penghambatan hasil “kejutan” (contohnya, kemungkinan yang sangat rendah) merupakan alat anyar yang kurang difungsikan oleh hukum.

 

hukum bisnis xxi

Data tidak sekedar miliki kekuatan laten untuk memercepat kecepatan, efisiensi, ketepatan, serta kinerja kegunaan hukum, tetapi dapat juga mendorong pembuatan nilai perusahaannya. Contoh-contohnya tergolong penerapan data material buat kontrak, litigasi, interograsi dan perselisihan komersil lainnya, kasus ketentuan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data tidak pengganti|substitusi penilaian hukum, itu yakni penambah. Pembela perkara yang didukung data berkata bahasa bisnis dan jauh makin meyakinkan  dibanding yang “berbasis firasat”. Tak ada “data hukum;” ada data yang berada dalam manfaat hukum yang bisa dibagi dengan unit bisnis lain untuk pecahkan “rintangan hibrida” yang mendorong nilai perusahaan.

Management dampak, kepatuhan, perampingan kontrak buat menekan siklus marketing, serta penghindaran litigasi adalah beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing sediakan fungsi hukum dengan kekuatan yang begitu besar untuk membikin dan tunjukkan nilai.

Dari Pusat Cost Menjadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisional menganggap hukum jadi penghalang peluang perusahaan serta pusat cost. Itu berbeda. C-Suite mengaku keharusan digital berlaku untuk manfaat hukum seperti untuk unit bisnis lainnya. Tiada adopsinya, hukum tidak bisa penuhi pekerjaannya yang diperluas buat berfungsi jadi:

1.Pendeteksi dini risiko|efek perusahaan yang pro aktif, mitigasi kemungkinan, dan pemecah masalah; dan

2.Kolaborator yang aktif dan lincah dengan peranan bisnis yang lain buat membikin pendapatan dan kesempatan pasar anyar buat perusahaan serta pelangganya.

Peranan hukum yang memenuhi kewajiban mereka yang diperlebar bakal menyatakan nilai serta menikmati kedudukan perusahaan yang bertambah tinggi. Sekitar tiga perempat (74%) informan bisnis dalam studi yang sedang dilakukan oleh The Digital Legal Exchange mengatakan penting/sangat penting untuk hukum untuk membuat penerimaan serta peluang pasar anyar.

Mereka memandang hukum menjadi partner sinergis bisnis, bukan selaku departemen tertutup yang hanya berfokus di “tugas hukum”. Hukum mesti manfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan serta konsumen setia, ketrampilan, pengalaman, serta ketangkasannya buat mengidentifikasi serta bersinergi dengan unit bisnis lain untuk mendorong nilai perusahaan yang terukur.

 

Layanan serta Pengalaman Konsumen yang Unggul

Layanan serta pengalaman konsumen setia yang unggul yaitu bagian kunci untuk memperlihatkan dan membela nilai. Jeff Bezos menyamakan interaksi pemasok/pelanggan dengan dinamika tuan-rumah/tamu; tuan-rumah yang bagus pastikan kalau tamu diterima, diakui, dan menjadi perhatian.

Hukum sama persis dengan guna perusahaan lainnya dalam soal bagaimana ia mesti secara konsisten memberi, memelihara, mempertingkat, serta secara empiris tunjukkan layanan/pengalaman konsumen setia. Daftar cek layanan konsumen setia untuk manfaat hukum mencakup:

-mengadopsi sudut pandang yang menekankan konsumen setia dan mengimplementasikannya pada seluruh yang Anda serta relasi tim Anda lakukan;

-kemudahan akses ke produk serta layanan hukum;

-kehandalan, efisiensi, kecepatan, nilai, serta transparansi pengangkutan;

-bantuan konsumen setia yang meliputi alat/sumber daya elektronik dan swadaya manusia;

-mendapatkan dan selekasnya menyikapi input konsumen setia;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun hubungan serta perspektif konsumen setia periode panjang, bukan perspektif transaksional

-“membuatnya betul” sampai waktu kekeliruan dibuat;

-memperlakukan konsumen menjadi asset perusahaan;

-beroperasi secara pro-aktif, bukan reaktif;

-mengakui kapabilitas social media serta pengokohan pengalaman konsumen yang positif dan negatif;

-peningkatan  keterampilam secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|memberi dukungan unit bisnis lain buat menambah kepuasan konsumen serta pengalaman pengguna akhir yang positif.

 

Kesimpulan

Guna hukum tidak bisa tunjukkan nilainya bagi bisnis terkecuali bila sejalan dengannya. Itu mempunyai arti berpartner dengan peran perusahaan yang lain dan fokus di pelanggan yaitu teknik terhebat untuk memprediksi serta memenuhi kepentingan serta harapan mereka yang berubah secara cepat.

Ini yaitu intupokok dari kewajiban digital, khayalan ulang serta kombinasi ulang yang dibantu tehnologi perihal bagaimana produk dan pelayanan lebih ringan dicapai, kompetitif, transparan, konstan, serta  diungkapkan dengan menyenangkan ke pelanggan. Peran hukum bisa serta harus mainkan andil penting dalam perubahan menyeluruh dari dinamika penyedia/pelanggan ini.

Menghilangkan sudut pandang “pengacara dan ‘non-pengacara'” merupakan pertama-pertama yang baik.

hukum bisnis xxi

Semoga materi hukum bisnis xxi bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *