kasus etika bisnis 2019

kasus etika bisnis 2019

Bagaimana Peran Hukum Tunjukkan Nilai Bagi Suatu Bisnis?

kasus etika bisnis 2019

Bagian pertama dari seri dua sisi ini mengkaji mengapa guna hukum mengenyam persoalan perlihatkan nilainya buat bisnis. Segnen ini menjajakan bagaimana hal tersebut bisa berlangsung. Artikel kali ini membahas tentang

kasus etika bisnis 2019

Advokat merupakan hambatan terbesar peran hukum untuk tunjukkan nilai bisnis. Mayoritas cerdik, konsentrasi, rajin, analitis, serta fokus pada arah adalah pembawaan tenaga kerja yang diharapkan . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, susunan, serta keangkuhan.

Budaya hukum merupakan tentang pengacara, bukan konsumen setia. Itu bukan permulaan di masa perubahan digital di mana semuanya ditujukan buat menaikkan pengalaman pelanggan.

 kasus etika bisnis 2019

 

 

Pendahuluan: Skema Berpikir Bisnis Untuk Remit Hukum yang Diperlebar

Peran hukum sedang diatur ulang untuk menyelaraskan dengan kebutuhan perusahaan digital serta pelanggan mereka. Bisnis serta beberapa penyuplai bentuk baru ada di garda paling depan dalam pengaturan kembali, bukan penciptaan hukum. Perancangan kembali peran hukum mulai dari sudut pandang konsumen setia, apa yang dibutuhkan hukum buat melayani kebutuhannyanya dengan lebih bagus?

Buat capai kepuasan konsumen setia di era digital, peranan hukum harus pahami rintangan pelanggannya serta jadi bagian dari pemecahan mereka. Ini butuh hukum untuk memungut sudut pandang bisnis buat memenuhi kegunaan hukum yang diperlebar. Untuk melayani perusahaan digital serta konsumen setia mereka, manfaat hukum mesti bekerja sebagai pembela perusahaan yang proaktif dan didorong oleh data serta bekerjasama dengan unit bisnis lain untuk memajukan nilai perusahaan. Tapi bagaimana tekniknya?

Menggali bisa lebih banyak dari fungsi hukum diawali dengan budaya serta perjalanan manajemen perubahan. Ini menyertakan kombinasi peranan hukum dengan dan adaptasi pada sumber daya bisnis yang ada, model pemecahan kasus, metrik, proses, technologi, dan data. Konsentrasinya merupakan di bagaimana mereka dapat digunakan, disempurnakan, dan dibagi bukan cuma dalam manfaat hukum dan juga di semua perusahaan.

 

kasus etika bisnis 2019

Fungsi hukum tidak bisa kembali didiamkan. Itu harus menjadi bagiab dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya merupakan meningkatkan hasil, nilai, serta pengalaman konsumen. Buat melayani bisnis dengan lebih bagus dan berkolaborasi dalam penciptaan nilainya, peran hukum harus pandai ke bahasa bisnis, proses, management dampak, analitik data, kecekatan, kecepatan, akuisisi dan management kapabilitas, kemungkinan, persaingan, serta service konsumen setia.

Ini jauh dari tugas hukum untuk  menghasilkan “pekerjaan hukum yang baik sekali” yang diproklamirkan sendiri. Pembela perkara dan professional hukum berkaitan, tidak perduli oleh siapa mereka ditempatkan kerja, harus manfaatkan kolaborasi laten hukum serta pemberian layanan hukum dalam skala besar. Elemen praktek serta bisnis dari layanan hukum membutuhkan keterampilan serta tenaga kerja yang berlainan tetapi miliki sudut pandang yang serupa.

Mereka yakni elemen yang serupa pentingnya dari manfaat hukum yang perlu beroperasi secara lancar, tangkas, serta lancar tidak cuma dalam manfaat hukum dan juga dengan pemangku kebutuhan bisnis yang lain di semua perusahaan. Integratif praktek hukum dan bisnis pemberian layanan hukum (operasi hukum) mempertingkat efektivitas fungsional hukum. Ini ialah pilar dasar pembuatan nilai.

Cara kedua dan yang lebih mengubah paradigma dlam perjalanan alih bentuk digital kegunaan hukum merupakan penyelarasannya dengan bisnis buat menciptakan nilai bagi perusahaan serta konsumennya. Ini melibatkan rekonfigurasi holistik dari peranan, relevansi, serta prosedur penghargaan dari peran hukum. Hasilnya yaitu membuat kepuasan pelanggan.

Ini adalah cara-cara buat melepaskan potensi laten guna hukum buat beralih dari hambatan anggaran dan kendala kemungkinan bisnis jadi pusat keuntungan, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan pelanggan.

 

Fungsi Hukum yang Menyikapi Kepentingan Bisnis

Peranan hukum mesti manipulasi balik dianya sendiri dari perspektif pelanggan, bagaimana dia dapat|bisa memenuhi serta melewati kebutuhan dan keinginan pengalaman konsumen setia. Ini perlu restrukturisasi organisasi tanpa ada hambatan dari kegunaan hukum yang berfokus di bagaimana ia bisa mengontrol ulang untuk layani bisnis yang berubah secara digital dan pelanggannya dengan lebih baik.

Tidak ada peta jalan digital legal yang pas buat semua, akan tetapi, elemen umum meliputi:

-mengganti banyak pelayanan dengan produk yang memasukkan alat bantu mandiri serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membikin alat teknologi yang sesuai sama tujuan untuk peran hukum serta manfaatkan alat “hukum” yang ada untuk melayani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta menganalisa data tak terstruktur yang ada pada guna hukum untuk pemanfaatan perusahaan yang makin luas serta andil pada data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa kerjakan apa” berdasarkan kapabilitas yang disokong data, pengalaman yang berkaitan, biaya,  ketersediaan, serta hasil;

– menentang paradigma peninggalan hukum serta mengubahnya dengan struktur, mode, metrik, proses, serta tenaga kerja anyar yang memberi respon keperluan dan impian pelanggan lebih baik;

– singkirkan ketidaksamaan buatan advokat antara model penyedia (in-house, firma, firma hukum, dan sebagainya.);

– menyiapkan tenaga kerja berbasis platform, gesit, kolaboratif, mulus, dan berpusat pada konsumen setia yang terbagi dalam banyak sumber daya;

-memberikan saran yang ditopang data

– fokus pada penciptaanan nilai untuk bisnis dan konsumennya dan menciptakan pengalaman pelanggan lengkap yang unggul;

– menanam investasi dalam kenaikan keterampilan dan training tenaga kerja untuk memenuhi hambatan itu.

 

Tentukan Metrik yang Taati Bisnis Serta Dioperasionalkan Olehnya

Peter Drucker memonitor, “Anda tidak dapat mengurus apa yang tidak bisa Anda ukur.” Metrik hukum secara sejarah jarang serta berkaitan dengan profitabilitas, bukan kepuasan konsumen setia. Bisnis, terpenting di masa digital, miliki rangkaian metrik yang serupa sekali berlainan yang berfokus pada konsumen setia.

Bisnis memonitor keringanan akses pelanggan, pengiriman on-time, hasil yang sukses, penjelasan jejaring sosial, nilai promotor bersih, dan indeks lain yang mengukur kepuasan/pengalaman konsumen. Ini merupakan kunci keberlanjutan, skalabilitas, keuntungan, serta kesetiaan merek di dunia digital.

Bisnis menempatkan nilai tinggi pada penyesuaian hukum dari metriknya. Analisis Pertukaran Hukum Digital menemukan kalau 97% responden bisnis menjelaskan mereka pengin metrik keberhasilan manfaat hukum sesuai dengan tujuan bisnis. Saat-saatSaat peranan hukum mendapatkanmemperoleh aplaus untuk menyeimbangkan bujetnya udah berlalu. Buat memutuskan nilai untuk bisnis, ia harus beradaptasi dengan metrik yang serupa yang diimplementasikan pada guna perusahaan yang lain.

 

Manfaatkan Kemampuan Data

Bisnis jalan dengan data. Guna hukum mesti. Itu tidak bermakna pembela perkara harus menambah diagnosis data jadi kapabilitas inti. Akan tetapi, mereka harus berkolaborasi dengan analisis data, teknologi, dan profesional hukum berkaitan lainnya dan memperlakukan mereka sebagai partner yang selevel. Team multidisiplin yang mulus, gesit, serta terpadu ialah apa yang diperlukan buat penuhi kewajiban digital hukum yang diperlebar.

Data yaitu sumber penciptaan nilai yang luas dan belum digunakan untuk manfaat hukum. Dia mempunyai kekuatan untuk gantikan perkiraan serta sangkaan dengan penglihatan ke depan dan pemahaman berbasis sains. Data yang sama adalah info yang material buat peramalan yang presisi, identifikasi risiko awal, mitigasi, Efisiensi, perumusan siasat cepat, hasil semakin baik, serta pengawalan hasil “kejutan” (contohnya, kemungkinan yang terlampau rendah) adalah alat baru yang kurang dimanfaatkan oleh hukum.

 

kasus etika bisnis 2019

Data tidak hanya berkekuatan laten buat percepat kecepatan, efektivitas, akurasi, serta performa fungsi hukum, namun dapat pula memajukan pembuatan nilai perusahaannya. Contohnya terhitung pengaplikasian data material buat kontrak, litigasi, investigasi serta pergesekan komersial lainnya, perkara ketentuan, serta monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data tidak pengganti|substitusi penilaian hukum, itu yakni peningkat. Lawyer yang didukung data berbicara bahasa bisnis serta semakin lebih kredibel  dibanding yang “berbasiskan firasat”. Tak ada “data hukum;” ada info yang ada dalam guna hukum yang dapat dibagikan dengan unit bisnis lain untuk pecahkan “rintangan hibrida” yang mendorong nilai perusahaan.

Management efek, kepatuhan, perampingan kontrak untuk menghimpit perputaran pemasaran, dan penghindaran litigasi yakni beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing menyiapkan fungsi hukum dengan potensi yang sangat besar buat membikin dan membuktikan nilai.

Dari Pusat Biaya Jadi Pembuat Nilai

Bisnis secara tradisional menganggap hukum sebagai penghambat kemungkinan perusahaan serta pusat cost. Itu berbeda. C-Suite mengaku keharusan digital berlaku buat peranan hukum seperti juga untuk unit bisnis lainnya. Tanpa ada adopsinya, hukum tidak bisa penuhi tugasnya yang diperlebar buat berperan jadi:

1.Pendeteksi awal risiko|resiko perusahaan yang pro-aktif, mitigasi resiko, serta pemecah masalah; serta

2.Kolaborator yang aktif serta lincah dengan guna bisnis yang lain buat membentuk pendapatan dan kemungkinan pasar baru bagi perusahaan serta konsumen setianya.

Guna hukum yang memenuhi keharusan mereka yang diperlebar akan tunjukkan nilai dan nikmati posisi perusahaan yang semakin tinggi. Kira-kira tiga perempat (74%) responden bisnis dalam studi yang sudah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange mengatakan penting/begitu penting untuk hukum untuk menciptakan pendapatan serta kemungkinan pasar anyar.

Mereka memandang hukum menjadi mitra sinergis bisnis, bukan jadi departemen tertutup yang cuman focus di “tugas hukum”. Hukum mesti manfaatkan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan serta konsumen, keterampilan, pengalaman, dan kelincahannya untuk menandai serta bekerjasama dengan unit bisnis lain untuk mendorong nilai perusahaan yang terarah.

 

Pelayanan serta Pengalaman Konsumen setia yang Unggul

Service dan pengalaman konsumen yang unggul merupakan elemen kunci untuk memperlihatkan serta menjaga nilai. Jeff Bezos menyamai jalinan pemasok/konsumen setia dengan dinamika tuan rumah/tamu; tuan rumah yang baik menegaskan kalau tamu diterima, dihormati, serta menjadi perhatian.

Hukum tidak berbeda dengan peranan perusahaan yang lain dalam soal bagaimana ia harus secara konsisten memberinya, memelihara, meningkatkan, serta secara empiris membuktikan service/pengalaman konsumen. Daftar periksa service pelanggan untuk manfaat hukum mencakup:

-mengadopsi sudut pandang yang mengutamakan konsumen setia dan mengaplikasikannya pada seluruh yang Anda dan kawan tim Anda lakukan;

-kemudahan akses ke produk dan pelayanan hukum;

-kehandalan, efisiensi, kecepatan, nilai, dan transparansi pengantaran;

-bantuan pelanggan yang meliputi alat/sumber daya electronic serta swadaya manusia;

-mendapatkan dan lekas menanggapi input pelanggan;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun jalinan dan sudut pandang pelanggan periode panjang, bukan sudut pandang transaksional

-“membuatnya betul” juga saat kesalahan dibuat;

-memperlakukan pelanggan menjadi asset perusahaan;

-beroperasi secara pro aktif, bukan reaktif;

-mengakui kapabilitas jejaring sosial dan penguatan pengalaman konsumen setia yang positif dan negatif;

-peningkatan  ketrampilan secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|memberikan dukungan unit bisnis lain untuk meningkatkan kepuasan konsumen setia dan pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Kesimpulan

Peranan hukum tidak bisa memperlihatkan nilainya buat bisnis terkecuali jika sejalan dengannya. Itu memiliki arti bekerjasama dengan peranan perusahaan lainnya serta focus pada pelanggan ialah langkah terbaik buat memprediksi dan penuhi keperluan serta angan-angan mereka yang berganti secara sekejap.

Ini yakni intupokok dari kewajiban digital, khayalan ulang serta kombinasi ulang yang didukung technologi terkait bagaimana produk serta layanan lebih mudah dicapai, bersaing, transparan, stabil, serta  dikatakan dengan membahagiakan terhadap pelanggan. Kegunaan hukum bisa dan harus mainkan andil penting dalam transformasi komplet dari dinamika penyedia/konsumen ini.

Menghilangkan sudut pandang “advokat serta ‘non-pengacara'” merupakan langkah awal yang baik.

kasus etika bisnis 2019

Semoga materi kasus etika bisnis 2019 bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *