lima prinsip etika bisnis

Bagaimana Guna Hukum Menunjukkan Nilai Bagi Suatu Bisnis?

lima prinsip etika bisnis

Sisi pertama dari seri dua bagian ini mengkaji kenapa kegunaan hukum alami kesulitan memperlihatkan nilainya bagi bisnis. Unit ini tawarkan bagaimana hal demikian dapat berlangsung. Artikel kali ini membahas tentang

lima prinsip etika bisnis

Pembela perkara yakni kendala paling besar peranan hukum buat memperlihatkan nilai bisnis. Mayoritas pintar, fokus, rajin, analisa, serta bertujuan di maksud yakni pembawaan tenaga kerja yang diingini . Maka di mana nilainya? Jawaban singkat: budaya hukum, pengajaran, indoktrinasi, struktur, dan keangkuhan.

Budaya hukum yakni mengenai pembela perkara, bukan konsumen. Itu bukan permulaan di era perubahan digital di mana semuanya ditujukan untuk menambah pengalaman konsumen setia.

 lima prinsip etika bisnis

 

 

Pendahuluan: Skema Pikirkan Bisnis Buat Remit Hukum yang Diperlebar

Peranan hukum tengah diatur ulang buat menyesuaikan dengan kepentingan perusahaan digital dan konsumen mereka. Bisnis dan beberapa penyuplai model anyar ada di dalam garda paling depan dalam pengaturan kembali, bukan pembangunan hukum. Perancangan ulang kegunaan hukum mulai dari perspektif pelanggan, apa yang dibutuhkan hukum untuk melayani kebutuhannyanya dengan lebih baik?

Buat capai kepuasan konsumen di waktu digital, fungsi hukum mesti memahami rintangan pelanggannya dan menjadi sisi dari solusi mereka. Ini butuh hukum buat mengadopsi perspektif bisnis untuk penuhi fungsi hukum yang diperlebar. Untuk melayani perusahaan digital dan konsumen setia mereka, manfaat hukum harus beroperasi jadi pembela perusahaan yang pro-aktif serta didorong oleh data dan bekerjasama dengan unit bisnis lain buat memajukan nilai perusahaan. Namun bagaimana langkahnya?

Mengeduk lebih banyak dari guna hukum mulai dengan budaya serta perjalanan management transisi. Ini mengikutsertakan kerjasama manfaat hukum dengan dan adaptasi kepada sumber daya bisnis yang ada, cara pemecahan permasalahan, metrik, proses, technologi, serta data. Fokusnya yakni di bagaimana mereka dapat digunakan, diperbaharui, dan dibagikan bukan sekedar dalam fungsi hukum tapi juga di seluruhnya perusahaan.

 

lima prinsip etika bisnis

Peran hukum tak dapat lagi didiamkan. Itu mesti menjadi bagiab dari perjalanan digital perusahaan yang tugasnya merupakan mempertingkat hasil, nilai, dan pengalaman konsumen setia. Untuk melayani bisnis dengan lebih baik serta bersinergi dalam pembuatan nilainya, peran hukum harus terampil dengan bahasa bisnis, proses, manajemen dampak, analitik data, kecekatan, kecepatan, perolehan serta manajemen bakat, risiko, pertarungan, dan service pelanggan.

Ini jauh dari tugas hukum buat  mendatangkan “tugas hukum yang sangat baik” yang diproklamirkan sendiri. Advokat dan professional hukum berkaitan, tak perduli oleh siapa mereka ditempatkan kerja, mesti manfaatkan kolaborasi laten praktek hukum serta pemberian service hukum dalam skala besar. Elemen praktik serta bisnis dari layanan hukum membutuhkan keterampilan dan tenaga kerja yang lain akan tetapi punyai sudut pandang yang serupa.

Mereka adalah elemen yang sama keutamaan dari kegunaan hukum yang wajib bekerja secara lancar, lincah, dan lancar tidak sekedar dalam manfaat hukum dan juga dengan penopang kebutuhan bisnis lainnya di semua perusahaan. Integratif praktek hukum serta bisnis pemberian layanan hukum (operasi hukum) mempertingkat efisiensi fungsional hukum. Ini yakni pilar dasar penciptaan nilai.

Cara kedua serta yang lebih mengganti pola diperjalanan transformasi digital manfaat hukum yaitu penyelarasannya dengan bisnis buat membikin nilai untuk perusahaan dan konsumennya. Ini sertakan rekonfigurasi holistik dari peran, kaitan, serta mekanisme penghargaan dari guna hukum. Hasil akhir adalah membentuk kepuasan konsumen.

Di bawah ini adalah beberapa cara buat membebaskan potensi laten manfaat hukum buat berganti dari hambatan bujet dan hambatan kemungkinan bisnis menjadi pusat keuntungan, kolaborator nilai perusahaan, dan kepuasan konsumen.

 

Peranan Hukum yang Menyikapi Keperluan Bisnis

Fungsi hukum harus rekayasa balik dirinya sendiri dari perspektif pelanggan, bagaimana ia dapat|bisa memenuhi dan melewati keperluan serta harapan pengalaman konsumen setia. Ini butuh restrukturisasi organisasi tanpa ada kendala dari fungsi hukum yang focus di bagaimana ia dapat mengendalikan ulang untuk layani bisnis yang berganti secara digital serta konsumen setianya dengan lebih baik.

Tidak ada peta jalan digital legal yang cocok buat semua, akan tetapi, elemen umum mencakup:

-mengganti banyak service lewat produk yang menyertakan alat bantu berdikari serta jawaban atas pertanyaan umum (FAQ);

-bekerja sama dengan TI perusahaan untuk membikin alat technologi yang sesuai arah untuk fungsi hukum serta memakai alat “hukum” yang ada untuk layani unit bisnis lain di perusahaan;

-menambang serta mempelajari data tak terancang yang ada di dalam kegunaan hukum untuk pemakaian perusahaan yang makin luas serta peran di data perusahaan;

-mengevaluasi “siapa melaksanakan apa” berdasarkan kompetensi yang didukung data, pengalaman yang sama, cost,  ketersediaan, dan hasil;

– menentang pola peninggalan hukum dan mengubahnya dengan struktur, mode, metrik, proses, dan tenaga kerja anyar yang memberi respon kebuthan dan harapan pelanggan dengan baik;

– singkirkan ketidakcocokan buatan pengacara antara model pemasok (in-house, firma, firma hukum, dsb.);

– sediakan tenaga kerja berbasiskan platform, gesit, kolaboratif, mulus, serta berpusat pada konsumen setia yang terbagi dalam bermacam sumber daya;

-memberikan nasehat yang ditopang data

– focus di pembuatan nilai untuk bisnis dan pelanggannya dan membuat pengalaman konsumen setia menyeluruh yang unggul;

– melakukan investasi dalam peningkatan keahlian serta training tenaga kerja buat penuhi tantangan itu.

 

Pastikan Metrik yang Mematuhi Bisnis Dan Dijalankan Olehnya

Peter Drucker memonitor, “Anda tidak dapat mengurus apa yang tidak dapat Anda ukur.” Metrik hukum secara monumental jarang serta berkaitan dengan keuntungan, bukan kepuasan konsumen setia. Bisnis, terpenting di waktu digital, miliki sekumpulan metrik yang sama sekali tidak serupa yang fokus di konsumen.

Bisnis mengawasi keringanan akses konsumen setia, pengiriman on time, hasil yang sukses, uraian medsos, score promotor bersih, dan indek yang lain mengukur kepuasan/pengalaman konsumen setia. Ini ialah kunci kebersinambungan, skalabilitas, keuntungan, dan kesetiaan merk di dunia digital.

Bisnis menempatkan nilai tinggi pada adaptasi hukum dari metriknya. Studi Perubahan Hukum Digital mendapatkan kalau 97% responden bisnis menjelaskan mereka ingin metrik keberhasilan kegunaan hukum seirama dengan tujuan bisnis. Waktu-waktu peranan hukum mendapatkanmemperoleh pujian untuk menyejajarkan biayanya telah berakhir. Untuk menentukan nilai bagi bisnis, dia mesti menyesuaikan dengan metrik yang sama yang diimplementasikan di peranan perusahaan yang lain.

 

Memakai Kemampuan Data

Bisnis berjalan dengan data. Peran hukum harus juga. Itu tidak berarti pembela perkara harus menambah analitis data menjadi kompetensi inti. Namun, mereka mesti bekerjasama dengan studi data, technologi, serta professional hukum berkaitan yang lain serta memberlakukan mereka selaku mitra yang selevel. Tim multidisiplin yang mulus, gesit, dan terintegrasi yakni apa yang dibutuhkan buat memenuhi keharusan digital hukum yang diperluas.

Data ialah sumber pembuatan nilai yang luas serta belum digunakan buat peranan hukum. Dia berkekuatan buat gantikan prediksi serta pendapat dengan penglihatan ke depan dan wacana berbasis sains. Data yang sama yaitu info yang material untuk peramalan yang presisi, deteksi resiko dini, mitigasi, efektivitas, pendefinisian siasat cepat, hasil makin baik, serta penangkalan hasil “surprise” (misalnya, resiko yang terlampau rendah) yakni alat baru yang kurang digunakan oleh hukum.

 

lima prinsip etika bisnis

Data bukan sekedar miliki kekuatan laten untuk percepat kecepatan, efektivitas, akurasi, serta kapasitas guna hukum, namun juga dapat memajukan penciptaan nilai perusahaannya. Misalnya termasuk pelaksanaan data material buat kontrak, litigasi, investigasi serta perselisihan komersil lainnya, problem aturan, dan monetisasi IP. Ini hukum digital.

Data bukanlah pengganti|substitusi penilaian hukum, itu adalah peningkat. Pengacara yang ditopang data berkata bahasa bisnis dan lebih kredibel  dibanding yang “berbasis firasat”. Tidak ada “data hukum;” ada data yang ada dalam manfaat hukum yang dapat dibagikan dengan unit bisnis lain buat pecahkan “hambatan hibrida” yang mendorong nilai perusahaan.

Manajemen efek, kepatuhan, perampingan kontrak untuk mendesak siklus penjualan, serta penghindaran litigasi ialah beberapa dari sejumlah contoh. Masing-masing siapkan fungsi hukum dengan kemampuan yang begitu besar untuk membuat serta menyatakan nilai.

Dari Pusat Ongkos Jadi Pencipta Nilai

Bisnis secara tradisional merasa hukum selaku penghalang peluang perusahaan serta pusat cost. Itu berganti. C-Suite mengakui keharusan digital berlaku untuk kegunaan hukum seperti buat unit bisnis lainnya. Tiada adopsinya, hukum tidak dapat penuhi tugasnya yang diperlebar buat berfungsi jadi:

1.Pendeteksi awal risiko|dampak perusahaan yang proaktif, mitigasi kemungkinan, serta pemecah masalah; serta

2.Kolaborator yang aktif dan lincah dengan peran bisnis lainnya untuk menciptakan penerimaan serta kemungkinan pasar baru bagi perusahaan dan pelangganya.

Fungsi hukum yang penuhi kewajiban mereka yang diperlebar akan menunjukkan nilai serta menikmati posisi perusahaan yang lebih tinggi. Seputar tiga perempat (74%) responden bisnis dalam studi yang tengah dilakukan oleh The Digital Legal Exchange mengatakan penting/sangat penting untuk hukum buat menciptakan pemasukan serta kesempatan pasar anyar.

Mereka menganggap hukum jadi partner sinergis bisnis, bukan selaku departemen tertutup yang cuman focus di “tugas hukum”. Hukum mesti menggunakan modal intelektual|cendekiawan, data, pengetahuan kelembagaan serta konsumen, keahlian, pengalaman, dan kegesitannya buat menandai dan bekerjasama dengan unit bisnis lain buat mendorong nilai perusahaan yang terarah.

 

Pelayanan dan Pengalaman Konsumen yang Unggul

Layanan serta pengalaman konsumen setia yang unggul yaitu bagian kunci buat tunjukkan dan mempertahankan nilai. Jeff Bezos menyamai pertalian penyedia/konsumen dengan dinamika tuan-rumah/tamu; tuan-rumah yang baik meyakinkan kalau tamu diterima, dihargai, serta menjadi perhatian.

Hukum sama dengan fungsi perusahaan yang lain dalam hal bagaimana ia harus secara stabil memberinya, memelihara, tingkatkan, dan secara empiris memperlihatkan layanan/pengalaman konsumen. Daftar check service pelanggan buat peranan hukum meliputi:

-mengadopsi pola pikir yang mengedepankan konsumen serta mengaplikasikannya di seluruh yang Anda serta kawan tim Anda lakukan;

-kemudahan akses ke produk serta service hukum;

-kehandalan, efektivitas, kecepatan, nilai, dan transparansi pengangkutan;

-bantuan konsumen yang mencangkup alat/sumber daya electronic dan swadaya manusia;

-mendapatkan dan segera menanggapi input pelanggan;

-penggunaan data yang efektif;

-membangun jalinan serta perspektif konsumen setia jangka panjang, bukan perspektif transaksional

-“membuat benar” sampai saat kekeliruan dibuat;

-memperlakukan pelanggan selaku aset perusahaan;

-beroperasi secara pro aktif, bukan reaktif;

-mengakui kebolehan sosial media dan pemantapan pengalaman konsumen yang positif dan negatif;

-peningkatan  keahlian secara konstan;

-membentuk budaya kolaboratif yang mendukung|menyuport unit bisnis lain buat meningkatkan kepuasan konsumen setia dan pengalaman pemakai akhir yang positif.

 

Ringkasan

Manfaat hukum tidak dapat membuktikan nilainya untuk bisnis kecuali kalau sejalan dengannya. Itu mempunyai arti berelasi dengan kegunaan perusahaan lainnya serta focus pada konsumen setia ialah langkah terpilih untuk memperkirakan dan penuhi kebutuhan dan impian mereka yang berganti dengan cepat.

Ini yakni intupokok dari kewajiban digital, khayalan ulang serta komposisi ulang yang ditunjang technologi perihal bagaimana produk serta pelayanan lebih ringan dicapai, kompetitif, terbuka, konstan, dan  dikatakan dengan menyenangkan pada konsumen. Guna hukum bisa dan harus memainkan peranan penting dalam perubahan utuh dari dinamika penyuplai/konsumen setia ini.

Menghilangkan sudut pandang “pengacara dan ‘non-pengacara'” ialah pertama-pertama yang baik.

lima prinsip etika bisnis

Semoga materi lima prinsip etika bisnis bisa menambah wawasan dan pengetahua pembaca mengenai hukum atau etika bisnis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *